
Angin malam yang sepoi-sepoi membuat Papa Aksa menggigil, ia pun memeluk bantal guling dengan kencang sebagai luapan rasa dingin yang menusuk sekujur tubuhnya, sesekali ia pun tersenyum membayangkan wajah cantik Fany yang penuh dengan kehangatan itu, senyum dan tawanya menghantarkannya untuk kembali bermimpi dengan sejuta asa yang menghantuinya.
Setelah matanya lelah dan puas membayangkan wajah nan cantik itu, ia pun terlelap dengan mimpi-mimpi indahnya, dan sejuta untaian doa yang ia panjatkan pada yang maha kuasa, agar diberikan kemudahan dan menjauhkan segala rintangan dengan segala apa yang ia rencanakan selama ini.
"Ya Allah, ku serahkan semua hanya kepadamu, dan apa yang terjadi dalam hidupku semua itu kehendakmu, dan apa yang ku rencanakan saat semua ku serahkan hanya dalam tanganmu," gumamnya dengan khusuk.
Fany juga merasakan hal sama dengan Papa Aksa, ia gelisah dan mondar-mandir di kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu, jantungnya berdetak kencang saat membayangkan wajah Papa Aksa yang tampan itu membuatnya semakin rindu, ia pun meraih Ponselnya dan ingin menghubunginya, tiba-tiba matanya melirik pada jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi, ia pun mengurungkan niatnya sambil menatap layar ponselnya.
"Telepon enggak ya?" tanyanya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
Ia pun keluar dan duduk diruang tamu sambil melirik semua ruangan, dengan mata berkaca-kaca.
"Rumah ini melukiskan sejuta kenangan indah yang tidak akan pernah ku lupakan sampai kapanpun, dan rasanya berat untuk meninggalkannya, tapi itu harus kulakukan karena Fany akan segera menikah dengan Orang yang sangat kucintai," bisiknya dalam hati dengan matanya yang berkaca-kaca.
Tangisnya pecah saat melihat photo kedua Orang tuanya yang terpampang diruang tamu, ia pun beranjak dari duduknya sambil menatapnya dengan uraian air mata.
__ADS_1
"Ma, Pa, Fany sangat merindukan kalian, Fany ingin di pernikahan ku nanti kalian ada, seperti Orang-orang diluar sana," lirihnya dengan isak tangisnya.
Fany pun mengambil bingkai photo itu, lalu mencium dan memeluknya dengan erat sambil menangis sejadi-jadinya, membuat Kakek dan Neneknya panik dan menghampirinya.
"Keysa, ada apa? kenapa menangis?" tanya Neneknya panik.
Fany tidak menjawabnya, ia hanya menatap photo usang kedua Orang tuanya tanpa berkedip.
"Fany, kamu tak usah sedih, Nama dan Papamu sudah tenang disana," ucapnya tegas sambil mengambil bingkai foto itu.
"Nenek tau apa yang kamu rasakan saat ini, Kamu ingin dihari bahagiamu mereka ada di sampingmu, tapi apa boleh buat semua itu sudah kehendak yang di atas," ucap Neneknya sambil mengusap wajahnya.
Nenek dan Kakeknya memeluk Fany sambil menangis, memohon Fany bisa menerima semua kenyataan itu.
"Percayalah walaupun mereka sudah tiada, tapi mereka akan hadir di pernikahan mu nanti, menyaksikan hari bahagia mu saat bersanding dengan Orang yang kamu cintai," tuturnya.
__ADS_1
Fany pun menatap Kakek dan Neneknya secara bergantian sambil mengusap air matanya yang terus mengalir membasahi wajahnya yang cantik.
"Benarkah itu Nek?" tanyanya.
"Iya, percayalah mereka pasti hadir di pernikahan mu nanti," jawabnya haru.
"Terimakasih ya Kek, Nek, sudah merawat dan membesarkanku dengan penuh kasih sayang," ucapnya sambil memeluknya.
"Iya, itu sudah kewajiban Kami dan amanah kedua Orang tuamu sebelum mereka menghembuskan nafas terakhirnya," jawabnya sambil mengenangnya.
"Fany, akan mengingat dan membahagiakan kalian disisa hidup Kakek dan Nenek," ucapnya tegas.
Mereka kembali berpelukan dan menangis bahagia, saat Cucu kesayangannya akan menikah dengan Orang yang tepat, yang menerima Fany dengan segala kekurangannya.
____________________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏