
Pada akhirnya, Fany hanya perlu menerima, menerima segala kekurangan, kritik dan menerima segala pelik, bersama diri sendiri, usah mengemis simpati sana - sini, cukup banyak bersyukur dan bersabar.
"Gubrak" photo di ruang tamu terjatuh, segera Fany mengambil dan mengganti bingkai photo yang baru, ia terdiam sejenak sambil menatap photo mendiang Bu Retno, dan menggantungkannya kembali.
Fany bergegas menuju halaman depan rumah, menarik nafas dalam-dalam, seraya mengingat perjuangan Bu Retno membina keluarga bersama Papa Aksa, dan membesarkan Keysa.
"Bu Retno, maafkan aku, aku tidak bermaksud merenggut kebahagiaan Keysa, tapi aku ingin merawatnya seperti anakku sendiri, dan melanjutkan perjuanganmu," gumamnya sedih.
Fany sadar, hidup selalu sepaket, beberapa Orang beruntung dalam pernikahannya dan serba berkecukupan, namun ia juga beruntung memiliki seorang Suami yang baik yang mengajariku banyak hal hebat, Fany yakin akan memetik usahanya selama ini mengambil hati Keysa, dan Fany menamai ini semua dengan ruang bersyukur. Fany memetik pembelajaran bahwa hidup harus dipenuhi mimpi dan ambisi, harus mampu berdamai dengan diri sendiri.
************
Pagi dini hari, saat mentari masih belum tampak di ufuk bumi, Keysa sudah beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berkeringat, setelah mandi ia menguncir rambutnya yang panjang hitam legam, dan menghampiri Bu Zana di dapur.
"Selamat pagi, Bu," ucap Keysa.
"Pagi cantik," jawabnya senang.
"Masak apa hari ini, Bu?" tanya Keysa.
"Semur Ayam," jawab Bu Zana.
"Asyik, Keysa suka, Bu," ujarnya.
__ADS_1
Bu Zana senyum sembari melirik ke arah Keysa, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Apa Keysa sudah tobat, Ya?" tanyanya dalam hati.
"Mau minum apa, Keysa?" tanya Bu Zana.
"Biar Keysa yang buat Bu, aku gak mau ngerepotin terus, karena Ibu sudah banyak membantuku, aku malu," jawabnya tegas.
"Tidak perlu malu Key, kita sudah seperti anak dan Ibu, bukannya seorang Ibu harus menolong anaknya bukan?" tanyanya.
"Memang benar Bu, tapi tetap saja tidak enak," jawabnya tegas.
"Ya Allah, aku tidak percaya ini Keysa," gumamnya.
"Apakah benar ini, Keysa?" tanyanya dalam hati.
Seperti mimpi di siang bolong, tapi nyata, sosok yang kini bersamanya Keysa.
"Hayo, ngelamun, lagi mikirin apa, Bu?" tanyanya mengejek.
"Hehe, Ibu lupa bumbu Ayam semurnya," jawabnya tertawa.
"Dasar pikun," ujarnya bercanda.
__ADS_1
Dengan penuh rasa penasaran dan perasaan tidak karuan, Bu Zana memutuskan untuk mencubit pipi Keysa, memastikan bahwa itu adalah Keysa.
"Wah, kamu cantik sekali hari ini," ucapnya mencubit pipinya gemas.
"Sakit, Bu," teriak Keysa.
"Ternyata benar dugaan ku, dia benar - benar, Keysa," gumamnya.
"Ada apa, Bu?" tanya Keysa.
"Gak ada apa-apa, Ibu gemas saja lihat pipimu," jawabnya mengalihkan perhatian Bu Zana.
"Dasar genit," jawabnya kekeh.
Mereka tertawa lebar, Bu Zana sangat merindukan saat-saat seperti ini yang lama hilang terbawa angin. Tak berlama-lama, Keysa melangkahkan kaki keluar dari rumah dan segera menuju Taman, angin yang berhembus sepoi-sepoi menggoyangkan pohon yang berjejer rapi, burung - burung berkicau terbang bebas di angkasa, Matahari mulai terbit, ditambah dengan lantunan lagu sendu yang memberikan suasana semakin syahdu.
"Wah, hari ini sangat indah," ujarnya saat sinar mentari pagi menyengat tubuhnya.
Ia beranjak, membuka jendela kamarnya dan duduk meluapkan isi hatinya.
********
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏
__ADS_1