
"Sekarang, Keysa akan membuktikan kalau Keysa bisa tanpa Papa," batin Keysa angkuh.
Depresi, membuat Keysa memiliki minat rendah, pada apapun sehingga emosinya muncul meledak- ledak, terlihat seperti memberontak, membangkang, melawan, bahkan tak mustahil akan keluar kata kasar, tiba-tiba pendiam, bisa jadi gejala depresi yang tidak terlihat.
Salah satu gejala depresi, awalnya, Keysa banyak diam dan sedih, gangguan dari efeknya atau moodnya, kemudian gangguan pada isi pikiran dan perilakunya yang tidak terkontrol.
Setelah beberapa saat, Keysa kembali ke kamarnya, Papa Aksa, tenang-tenang saja, padahal di kamar ia melakukan hal-hal yang baru, main sama media sosial, menulis status, curhat di wall Facebook.
Depresi, merupakan suatu kondisi medis, berupa perasaan sedih yang berdampak negatif, terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan jiwanya, depresi berat membuat Keysa putus asa, dan timbul keinginan untuk menghabisi nyawanya sendiri, omongan Papanya, semakin membuatnya tersudut dan mempengaruhi kondisi kejiwaannya.
Musibah yang datang beruntun dan mendadak, ditambah dengan syok, trauma, serta perasaan bersalah, mendorong Keysa jatuh ke lembah depresi, ditambah kehilangan Mama, sandaran hidupnya.
"Keysa, mau mati saja, tapi Keysa, mau Papaku hidup, andai saja waktu itu, Keysa tidak membiarkan, Papa menikah, ini tak akan terjadi," bisiknya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.
Gangguan kecemasan yang diidap Keysa, berubah menjadi depresi, membuat Keysa sangat tersiksa, ia tidak berani mengatakan gangguan mental yang dirasakan, karena takut menerima stigma yang tidak baik, walau ia berusaha tampil normal, tapi didalam, Keysa tau ada yang tidak normal.
Matahari, berpendar kuat seakan menatap sengit pada kemelut yang kini tengah memberangus rasa kepercayaan didalam hatinya, Keysa nampak lelah dan menarik nafasnya dalam-dalam, sambil menatap langit-langit kamarnya.
__ADS_1
"Ma, Keysa, lelah dengan semua apa yang terjadi, Keysa, gak sanggup," bisiknya dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
Keysa, rapuh dan tidak mampu melakukan apapun, ia hanya bisa menangis meratapi nasibnya yang malang, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, matanya membulat sempurna diiringi derai air matanya yang terus mengalir membasahi wajahnya yang cantik.
Tiba-tiba, terdengar suar pintu berderit, seseorang masuk kedalam kamar dan langsung menutup pintunya rapat-rapat, Keysa menoleh dengan wajah sembabnya, lalu memalingkan wajahnya melihat, Bu Zana, sudah berdiri tegak disampingnya.
"Keysa, ada apa?" tanyanya lembut.
"Keysa, gak apa-apa Bu, Keysa hanya ingin sendiri," jawabnya tegas.
"Makan dulu yok," pintanya.
"Dari pagi, kamu tidak ada makan apa-apa, Keysa, nanti sakit," ucapnya mengingatkan.
"Biar saja, Bu," pekiknya.
"Keysa, ada apa? cerita sama Ibu," ucapnya lembut.
__ADS_1
"Percuma, Bu," jawabnya.
Sebagai seorang Ibu dan sesama Wanita, Bu Zana mengerti sekali, kenapa Keysa seperti ini, dibalik semua itu, Papa Aksa juga tidak salah menikah lagi, karena ia juga butuh sosok seorang Istri sebagai pendampingnya.
"Keysa, apapun yang terjadi saat ini, kamu harus ikhlas, biar kamu tenang," pintanya.
"Oh ya? Keysa, gak sudi menerima Wanita murahan itu, sebagai Istri, Papa, Bu." teriaknya.
"Jangan ngomong begitu, Fany, Wanita baik-baik," ucapnya.
"Kenapa sih Bu, selalu membela Wanita murahan itu?" tanyanya sembari berteriak.
"Fany, bukan murahan, tapi Wanita baik-baik yang mau menerima keberadaan mu," jawabnya tegas.
Bu Zana, kecewa, sambil menatapnya dalam-dalam, dengan sorot matanya yang sinis, ia tidak menyangka, Keysa sanggup mengeluarkan kata-kata sekejam itu.
________________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏