
Ucapan Keysa, yang kasar dan menyakitkan itu, tidak membuat Fany menyerah untuk bertanya keberadaan Papanya, ia kembali masuk membuat Keysa tersulut emosi.
"Keysa, tolong jawab aku, apa Papamu memberitahu keberadaannya?" tanyanya hati-hati.
"Iya, Papaku lagi bersenang - senang dengan Wanita lain, yang lebih cantik dari kamu," jawabnya tegas dengan sorot matanya yang tajam.
"Gak mungkin, Papamu melakukan hal serendah itu," ujarnya.
"Oh, kamu gak percaya? mana ada Kantor buka sampai jam segini," ucapnya meyakinkan.
"Aku tidak percaya, tidak!" jawabnya histeris.
"Kenapa batinku saja yang sakit? itu tidak adil, kamu juga harus merasakannya!" ucapnya sembari berteriak.
Keysa, berlari menuju meja belajarnya mengambil sebuah cutter lalu menarik tangan Fany, menggoreskan cutter ke pergelangan tangannya, rasanya otaknya sudah terkontaminasi dengan emosi, beberapa sayatan mampu membuatnya tenang, meski darah segar itu keluar begitu banyak.
Keysa, membanting cutter yang sudah berlumuran darah itu ke wajah Fany, kemudian membaringkan tubuhnya di kasur tanpa memperdulikan Jeritan Fany, tatapannya kosong, menatap langit - langit kamarnya yang begitu datar dan mulus, tidak seperti hidupnya yang rumit dan berliku-liku.
"Tolong...!" ucap Fany sembari berteriak kuat.
Jeritan Fany, dari kamar Keysa membuat Bu Zana penasaran, lalu masuk tanpa mengetuk pintu, alangkah kagetnya saat melihat darah bercucuran dari pergelangan tangan Fany.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi?" tanyanya ketakutan.
"Itu akibatnya, kalau berani melawan, Keysa!" ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Kamu keterlaluan, dasar anak yang tidak punya perasaan," jawabnya marah.
__ADS_1
"Sudah Bu, tolong ambilkan Betadine dan perban," perintah Fany.
Bu Zana, membopong Fany ke kamarnya, dengan mata berkaca-kaca, ia sangat kecewa dengan perlakuan Keysa yang tidak punya etika dan perasaan itu.
"Bapak dimana Bu," tanyanya.
"Belum pulang, Bu," jawabnya singkat.
Bu Zana, mengambil kotak obat dan membersihkan sayatan pada pergelangan tangannya dengan hati-hati, mulutnya komat-kamit sebagai luapan rasa kecewanya pada Keysa, ia lalu membungkus tangan Fany dengan perban agar darahnya berhenti.
"Bu, jangan cerita sama Bapak ya," ucapnya memohon.
"Tidak Bu, Bapak harus tau, karena ini sudah keterlaluan," jawabnya tegas.
"Bu, kumohon jangan lakukan itu," pintanya.
"Gak mungkin Bu, Keysa pasti menyesali semua perbuatannya!" jawabnya yakin.
"Terserah, Ibulah, aku tidak tau harus berbuat apa," ucapnya kesal.
Bu Zana, menatapnya haru, ia bisa merasakan apa yang dirasakannya saat ini, hancur berkeping-keping menerima perlakuan anak dari buah cintanya dengan Bu Retno, Istri pertama Papa Aksa.
Tiba-tiba ponsel Fany berdering, Bu Zana bergegas mengambilnya dan memberikan pada Fany.
"Siapa, Bu," tanyanya penasaran.
"Bapak, Bu," jawabnya singkat.
__ADS_1
Fany, meraih Ponselnya dengan jantung berdetak kencang, takut sesuatu terjadi pada Papa Aksa.
"Halo Mas," ucapnya lembut.
"Belum tidur Sayang," tanyanya.
"Belum, Mas," jawabnya.
"Maaf ya, Sayang, pekerjaan di kantor membuat kami semua lembur," ucapnya tegas.
"Kenapa, Ponselnya mati Mas?" tanyanya kesal.
"Maaf Sayang, Ponselnya low bed, Mas lupa mencharger," jawabnya.
"Oh," jawabnya dingin.
Fany, teringat dengan ucapan Keysa, membuat ia tidak percaya dengan ucapan Papa Aksa, ia curiga apa yang dikatakannya tidak benar, melainkan bersenang - senang dengan Wanita lain yang lebih cantik dan berkelas.
"Halo Sayang, kok diam saja?" tanyanya.
"Mana ada Kantor, buka jam segini, Mas?" tanyanya.
"Kok gak percaya sih Sayang? coba buka kameranya?" perintah Papa Aksa.
Dengan tangan gemetar, ia membuka kameranya, beberapa Karyawan sibuk dengan pekerjaan masing-masing, untuk menyelesaikan pekerjaan yang menuntut mereka harus bekerja sampai pagi, hatinya lega, dan merasa berdosa yang sudah menuduh Papa Aksa bersama Wanita lain.
________________________________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏