
Matahari seakan malu-malu untuk bersinar, justru embun yang dengan gampangnya menyeruak bikin pagi itu terasa lebih gelap serta dingin, terlihat dua sejoli yang sedang asyik merayakan Malam pertamanya, masih berpelukan untuk memberikan sedikit hangat, selimut tebal sama sekali tak membantu bikin tubuhnya hangat, tapi mereka masih bersyukur hujan tak turun disertai dengan petir.
Detik jam terus berlanjut maju, Fany dan Papa Aksa enggan keluar Kamar, rasanya mereka ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu untuk berduaan, melepaskan rasa rindu yang selama ini menyiksanya.
Tiba-tiba mata Fany tertuju pada jam yang tergantung di dinding kamarnya.
"Oh Tuhan, ternyata sudah pukul Delapan Pagi," ucap Fany kaget.
"Biarin saja Sayang, emang kenapa?" tanyanya lembut.
"Fany harus membantu Bu Zana di dapur Mas," ujarnya.
"Gak usah, Bu Zana pasti mengerti kalau ini adalah Malam pertama Kita," ucapnya sambil menarik tubuh mungilnya.
"Fany, gak enak Mas, sama Bu Zana," jawabnya.
"Sudah gak usah dibahas, temani Mas disini," perintah Papa Aksa.
Fany tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti perintah Papa Aksa yang kini sudah menjadi Suaminya, dan kembali tidur disampingnya dengan pelukan mesranya.
"Mas, Bu Zana pasti sibuk, Fany ingin membantunya," ucapnya merengek.
"Gak apa-apa Sayang, Bu Zana sudah terbiasa bekerja sendiri, pasti semua sudah beres," jawabnya.
"Tapi gak mungkin Kita terus dikamar Mas," ujarnya.
"Hehe, tapi Mas suka," ucapnya menggoda.
__ADS_1
"Emang Mas gak bosan di kamar saja?" tanyanya.
"Gak, karena Mas bersama Wanita yang sangat cantik dan sudah menjadi Istriku," jawabnya.
"Iya, tapi Fany kan harus menjaga perasaan Bu Zana dan Keysa Mas," lirihnya.
"Sekarang Kamu sudah menjadi Nyonya di rumah ini, jadi semua harus turut perintah mu, sekalipun itu Keysa, karena sekarang Kamu sudah menjadi Ibunya," tuturnya.
Fany pun terdiam dan tidak menjawabnya, ia takut Papa Aksa marah karena tidak mendengar ucapannya, setelah beberapa saat suara ketukan pintu terdengar begitu jelas membuat Fany kaget dan beranjak untuk memakai pakaiannya, sementara Papa Aksa hanya tersenyum memandang tubuh mungilnya itu.
"Ternyata Istriku, sangat Cantik dan memiliki tubuh putih bersih," bisiknya dalam hati sambil menatapnya dalam-dalam.
"Mas, ini pakaianmu, cepat pakai," perintah Fany.
"Gak usah," jawabnya sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Siapa?" tanya Fany sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Saya Bu," jawab Bu Zana dengan hati-hati.
Fany pun membuka pintu kamarnya dengan senyum menatap Bu Zana yang berdiri tegak dihadapannya dengan Satu gelas Kopi dan Segelas Susu Coklat panas, serta beberapa lembar Roti bakar.
"Ini Bu sarapannya," ucapnya ramah.
"Ngapain repot-repot Bu, Fany kan bisa membuatnya sendiri," jawabnya gugup.
"Gak apa-apa Bu, ini sudah menjadi kewajiban Saya," ujarnya.
__ADS_1
"Terimakasih ya Bu," ucap Fany sambil menepuk lengannya lembut.
"Sama-sama Bu, Saya permisi ya, karena masih banyak pekerjaan di dapur," jawabnya.
Sebelum Bu Zana membalikkan tubuhnya, Fany pun memanggil Bu Zana sembari menjerit.
"Bu, Keysa sudah sarapan?" tanyanya.
"Sudah Bu, Keysa ada di kamarnya," jawabnya.
"Oh, syukurlah Bu," ujarnya sambil menutup pintu kamarnya.
Papa Aksa tersenyum, melihat perhatian Fany pada Keysa membuatnya semakin yakin bahwa ia adalah sosok seorang Ibu yang baik untuk Keysa.
"Mas, ayok sarapan dulu," ucapnya sambil duduk ditepi tempat tidur.
"Iya Sayang, tapi Mas mau disuap sama Istriku," jawabnya genit.
"Iya, tapi mandi dulu ya Mas," perintah Fany.
"Siap Bos," jawabnya sambil menuju kamar mandi.
Sembari menunggu Papa Aksa mandi, Fany pun membereskan tempat tidurnya yang berantakan, tiba-tiba Fany tersentak saat mendengar jeritan Papa Aksa dari kamar mandi.
_________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1