Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 147


__ADS_3

Malam itu, Keysa memandangi langit gelap melalui jendela berjeruji, bertirai polos yang sengaja ia buka, angin malam yang begitu dingin membelai sekujur tubuhnya, ia tidak bisa tidur sedari sejam yang lalu, karena angin malam yang begitu dingin.


"Dingin ya," suara seorang yang ia kenal mengagetkannya.


"Maaf," ucapnya lirih, sesegera mungkin, Keysa menutup tirai rapat- rapat.


"Belum tidur?" tanyanya.


"Belum Bu," jawabnya singkat.


Kenapa?" tanyanya lagi.


"Belum ngantuk kok, maaf, sudah membuat Ibu repot," jawabnya.


"Iya, ya sudah kalau gitu, Ibu balik tidur lagi, kamu juga cepat tidur, Keysa," perintah Bu Zana.


"Iya Bu," jawabnya.

__ADS_1


Sejenak, Keysa memperhatikan punggung perempuan separuh baya yang ia kenal dengan sebutan, Bu Zana, yang sangat sayang dan perduli padanya, akhirnya Keysa memutuskan untuk segera tidur, ia memandang langit- langit kamarnya yang tak tampak, sambil memohon kepada Yang Maha Kuasa, semoga ia bertemu pada Mamanya, walau hanya dalam mimpi.


"Bu Zana...Keysa, sangat menyayangimu, seperti Keysa menyayangi, Papa, dan takut kehilanganmu seperti disaat kehilangan Mamaku," bisiknya dalam hati.


Udara sejuk menyentuh hingga ke raga, hembusan angin terdengar mendesah berirama, membuat matanya lelah hingga mata indahnya mulai terpejam, menikmati keindahan malam yang begitu syahdu, Fany tak pernah menyangka bahwa semuanya datang dan pergi, begitu cepat bagai kilatan petir di langit yang menghitam.


Sementara, Fany juga tidak bisa tidur, hatinya gelisah dan terus bertanya-tanya, otaknya terus berputar untuk melakukan sesuatu untuk mencairkan hubungannya dengan Keysa.


"Apa yang harus kulakukan? kenapa Keysa begitu membenciku?" tanyanya dalam hati.


Haruskah, penjelasan itu ia abaikan? setidak pentingkah suatu penjelasan itu? hingga akhirnya suatu kesalahan pahaman pun muncul diantara kami? dengan langkah malas , Keysa berjalan keluar kamar, untuk menghilangkan rasa cemas yang menggangu pikirannya.


Fany, sadar setiap perjuangan pasti akan kendalanya, dan tak terkecuali dengan perjuangannya yaitu memperjuangkan mimpinya mendapatkan perhatian Keysa, seperti peribahasa, berakibat- rakit ke hulu berenang- renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Sejak Sekolah Dasar mendengar peribahasa itu, belakangan ini ia merasakan benar-benar makna yang ada didalamnya, mungkin peribahasa inilah jalan kedewasaannya, dan benar-benar mengerti peribahasa itu sangat berarti baginya untuk mendapatkan keakrabannya dengan Keysa.


Fany, dalam bayangan dan imajinasinya, tempat yang paling tepat jadikan pelarian, lari dari Orang-orang yang gak perduli, yang gak suka, dan Orang - Orang yang membencinya, dan yang tidak bisa membencinya. Jalan yang paling masuk akal adalah belajar memahaminya, sama seperti halnya mencintai Papa Aksa, Suaminya, mungkin takdir harus menikah dengan Orang yang sudah memiliki seorang Anak.


"Sayang, ada apa, kok duduk sendirian disini?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Hehe, Fany, haus Mas," jawabnya gugup.


"Di kamar ada air minum Sayang," ucapnya.


"Fany, pengen secangkir kopi hangat, Mas," lirihnya.


"Kopinya dimana?" tanyanya sambil melirik kearah meja.


"Sudah habis, Mas," jawabnya tenang


"Gak bagus, sayang ngopi larut malam," ucapnya mengingatkan.


"Gak apa-apa, Mas, sekali-sekali," lirihnya.


"Ayok, tidur lagi," ucapnya meraih jarinya yang lentik.


"Iya, Mas," jawabnya sambil mengikuti langkah Papa Aksa menuju Kamar.

__ADS_1


______________________________________


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2