
Fany, duduk diujung tempat tidur, melepas pelukannya, kemudian menatap Keysa dalam-dalam, lalu turun dari tempat tidur.
"Keysa, ada apa?" tanyanya sembari tersenyum.
"Keysa, ingin bicara dengan Papa," pekiknya.
Sontak ekspresi, Papa Aksa tiba-tiba berubah menjadi serius, dibanding tadi, jantungnya berdebar kencang, dengan sorot matanya yang tajam.
"Keysa, bicaralah yang sopan," jelas Papa Aksa.
"Apa ada yang salah dengan ucapan ku?" tanyanya angkuh.
"Tak perlu, Papa jelaskan, cukup introspeksi diri mu sendiri," jawabnya.
"Keysa, memang selalu salah di mata, Papa," pekiknya.
"Itu hanya perasaanmu saja, setidaknya Kamu ketuk pintu dulu baru masuk," ucapnya tegas.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, Fany menghampirinya dan membuka pintu kamarnya.
"Ibu, sudah sadar?" tanyanya senang.
"Alhamdulillah, sudah Bu," jawabnya senyum.
"Makan siang sudah siap Bu, apa perlu Saya antar ke kamar?" tanyanya.
"Gak usah Bu," jawabnya.
"Oh, kalau begitu, Saya permisi Bu," ucapnya.
"Silahkan Bu," jawabnya singkat.
Wajah Fany, nampak bingung, ia tidak tau harus melakukan apa saat, Keysa dan Papanya diam seribu bahasa hanya dengan pandangannya yang kosong,
__ADS_1
"Mas," panggil Fany, memecahkan keheningan.
"Ada apa," tanyanya hati-hati.
"Sebaiknya, Mas, tanya Keysa, ada apa," ucapnya lembut.
"Mas, tidak suka, ia memperlakukan Kamu tidak sopan, karena sekarang Kamu sudah menjadi Istriku, dan Ibu Keysa," tuturnya.
"Sudahlah Mas, mungkin ada yang penting yang ingin dibicarakannya," ucapnya setengah berbisik.
Papa Aksa, terdiam dan menatapnya dalam-dalam, membuat emosinya berangsur-angsur hilang dalam sekejap.
"Terimakasih ya, Sayang, Mas, tidak salah memilihmu sebagai Istriku," ucapnya tegas.
"Sama-sama Mas," lirihnya tersipu.
Papa Aksa, menarik nafas dalam-dalam, dan menghampiri Keysa, di Sofa.
Keysa, ada apa?" tanyanya.
"Dia itu, maksudnya siapa?" tanyanya bingung.
"Istri, baru Papa," jawabnya.
"Ya ampun, Anak ini," gumamnya frustasi, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Keysa, Kamu benar-benar keras kepala," teriaknya.
"Mas, gak apa-apa, biar Fany keluar," ucapnya lembut.
"Tidak, Kamu tetap disini," jawabnya sambil menarik tangannya.
"Mas, tolong biarkan, Fany keluar," pintanya terbata-bata menahan rasa pedihnya dalam hati.
__ADS_1
"Sayang, sekarang Kamu sudah menjadi Istriku, jadi apapun yang terjadi di rumah ini, Kamu harus tau," ucapnya tegas.
"Tapi, Keysa tidak menginginkan keberadaan ku, Mas," jawabnya sedih.
"Kalau Keysa, tidak mau Kamu ada di sini, Mas, tidak mau bicara," ucapnya.
"Oh, hebat ya Pa, Papa lebih memilih Perempuan ini daripada Anak Papa sendiri," jawabnya mencibir.
"Papa, hanya ingin berlaku adil, tanpa membedakan Kamu dan Istri Papa, itu saja," tuturnya lembut.
"Jelas beda Pa, Papa lebih menyayangi Perempuan ini," ucapnya ketus.
"Keysa, jangan sampai Papa, kehilangan kesabaran," pekiknya.
"Mas, jangan ngomong begitu," pintanya sambil mengelus pundaknya lembut.
"Tidak, Keysa memang keterlaluan," teriaknya.
"Mas, harus sabar, gak perlu bentak Keysa," ucapnya.
"Keysa, harus diberi pelajaran, biar tau sopan santun," jawabnya.
"Mas, seiring berjalannya waktu, Keysa pasti berubah, percayalah," ucapnya.
"Tapi sampai kapan?" tanyanya.
"Hanya waktu yang bisa jawab semua itu Mas, intinya Kita harus sabar," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan, Mas ya," Mas tidak bisa mendidik Keysa dengan baik," pintanya.
"Mas, gak salah, Kita hanya butuh waktu saja agar, Keysa berubah," ucapnya meyakinkan.
Papa Aksa mencium pucuk kepala Fany lembut, menarik nafas kasar dan pergi meninggalkan Keysa, yang berdiri tegak dengan pandangan matanya yang sinis.
__ADS_1
_________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏