
Sepanjang malam Fany bersimpuh di hadapan Rabbi nya seraya menangis, memohon agar Papa Aksa sembuh, dan kuat melawan penyakitnya, dan meminta petunjuk agar Dokter bisa memberikan yang terbaik untuknya.
Keysa mematung tak percaya dengan apa yang terjadi, sembari menatap Papanya yang terbaring lemas tak berdaya itu, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, matanya membulat sempurna.
"Ya Tuhan, jangan ambil Papaku, ambil saja nyawaku," gumamnya sedih.
Keysa menarik nafas kasar dan pergi meninggalkan ruangan, ia tidak sanggup melihat keadaan Papanya yang sangat memprihatinkan itu.
"Maafkan Keysa, Pa," Keysa meneteskan air matanya.
Bu Zana menyusul Keysa, yang sudah berlari keluar dari ruangan, lalu memeluknya dengan erat memberikan kekuatan padanya sembari mengelus rambutnya lembut.
"Keysa, tenangkan hatimu, Papamu pasti sembuh," ucapnya.
"Bagaimana Keysa tenang Bu, keadaan Papa semakin memburuk," jawabnya.
"Yakinlah, Papamu pasti bisa melewati masa - masa kritisnya," ujarnya.
"Tuhan tidak adil Bu, ia sudah mengambil Mama, sekarang Papa sakit," ucapnya menyalahkan Rabbi nya.
"Percayalah, dibalik semua ini akan ada rencana Tuhan yang indah buat kamu," jawabnya.
Keysa menggelengkan kepalanya, hatinya hancur menerima kenyataan yang terjadi padanya, lalu mengangkat wajahnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Bu Zana.
__ADS_1
"Apa Ibu yakin, Papa sembuh?" teriaknya.
"Sangat yakin, karena Papamu sosok Lelaki yang baik, dan Tuhan pasti memberikan umur panjang," ucapnya meyakinkan dengan tubuh gemetar.
"Tapi ini semua terjadi karena Wanita murahan itu Bu," jawabnya.
"Jangan menyalahkan dia terus, karena dia juga pasti terluka," ujarnya.
"Jangan - jangan, Papaku kena guna - guna, Bu," ucapnya curiga.
"Hus, ngomong apa kamu?" jawab Bu Zana panik.
"Iya Bu, biar Wanita itu bisa menguasai harta Papa, dan menikah lagi dengan Laki - Laki lain," ujarnya.
"Istighfar, Fany tidak seburuk yang kamu pikirkan, ia Orang baik," ucapnya tegas.
"Ibu bukan membela siapa - siapa, yang benar Ibu benarkan, dan yang salah Ibu salahkan, itu saja," jawabnya kesal.
"Bohong, dari dulu sampai sekarang Ibu selalu membelanya, sebaik apa sih dia?" pekiknya.
"Dia seorang Wanita yang polos dan rendah hati, dan menghargai setiap Orang, ucap Bu Zana dengan pipi merah semu sebagai luapan rasa marahnya.
"Haha,,,,! Wanita murahan itu polos?" tanyanya mencibir.
__ADS_1
"Keysa, andaikan kamu tau Fany tulus menyayangimu, tulus dengan perasaannya, tanpa memandang kamu sebagai anak tiri, Papamu pasti terluka dengan perlakuan mu, sakit dengan sikapmu yang tidak punya etika itu," jawabnya tegas.
"Bodoh amat, Bu," ucapnya sinis.
"Harusnya kamu sadar, mungkin ini teguran buat kamu, atas apa yang kamu lakukan selama ini," jawabnya.
"Gak usah sok suci Bu, andaikan Ibu di posisiku mungkin Ibu juga melakukan hal yang sama," teriaknya.
"Tidak, karena Ibu masih punya hati nurani," ucapnya tegas.
Bu Zana meninggalkan Keysa, duduk di sudut ruangan dengan mata berkaca - kaca, ia menangis dalam hening, hatinya pilu melihat perubahan Keysa. Tiba - tiba Fany keluar dan menghampiri Bu Zana.
"Ada apa Bu, kok menangis?" tanyanya lembut.
"Keysa, Bu, ia sangat keterlaluan," jelasnya.
"Aku minta, jangan diambil hati, maafkan Keysa, Bu," pintanya.
"Iya, Ibu mengerti," lirihnya.
Fany mengusap pundaknya, lalu menyibak beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajah Bu Zana, memeluknya erat menumpahkan segala kesedihannya.
"Bukan masalah yang besar, ketika Keysa tidak bisa menerima keberadaan ku, minimal aku tetap bisa disampingnya menjadi sahabat yang terbaik, dan aku terus berdoa Tuhan ikut menitipkan rasa yang sama...! mungkin nanti," ucap Fany.
__ADS_1
**************
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏