Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab 72


__ADS_3

Papa Aksa nampak penasaran, dan ingin memastikan siapa gerangan yang berani menjumpainya tanpa membuat janji dengannya, tiba-tiba ia teringat dengan penelepon gelap yang berusaha menggodanya.


"Awas, kalau dia berani menjumpai ku," bisiknya dalam hati.


"Suruh Dia masuk," perintah Papa Aksa.


"Baik Pak," ucapnya sambil menutup pintunya.


Jantungnya berdetak cepat, dan tak sabar untuk melihatnya, Setelah beberapa menit suara langkah kaki pun terdengar menuju Pintu dan tiba-tiba hilang ditelan Bumi.


Papa Aksa pun beranjak dari duduknya dan berusaha keluar, tiba-tiba suara ketukan pintu pun kembali terdengar dan Papa Aksa kembali duduk.


Tok,,, tok,,, tok


"Silahkan masuk," ucapnya tegas.


Pintu pun perlahan-lahan terbuka, dan alangkah bahagianya saat melihat Fany berdiri dihadapannya dengan bungkusan ditangannya, Papa Aksa pun beranjak dan menyambut Fany dengan wajah berbinar-binar.


"Selamat siang Om," ucapnya senyum.


"Kenapa gak telepon dulu!" jawabnya.


"Fany, cuma mau antar makan siang saja Om," ujarnya.


"Ngapain repot-repot, Om juga bisa makan diluar," ucapnya.


"Nenek yang suruh Om," jawabnya.


"Sampaikan sama Nenek ya terimakasih banyak," ucapnya sambil menepuk lengannya dengan lembut.


"Iya Om, nanti Fany sampaikan," jawabnya.


"Tadi naik apa kesini?" tanyanya.


"Naik angkot Om," ujarnya.


"Waduh, kasihan kali Kamu," lirihnya.

__ADS_1


"Gak Apa-apa Om," ucapnya tersipu.


"Fany sudah makan?" tanyanya.


"Nanti saja Om, di Rumah," jawabnya.


"Kok di Rumah? sini makan sama Om," ucapnya sambil menarik tangannya.


"Gak usah Om, Fany mau pulang," jawabnya.


"Om gak mau makan, kalau Fany pulang,"ujarnya.


Fany grogi saat Papa Aksa menarik kedua tangannya, sambil menatapnya dengan lembut.


"Om kangen," ucapnya tegas.


Fany tersenyum sambil menundukkan kepalanya, karena ia pun memiliki perasaan yang sama dengan Papa Aksa tapi ia berusaha menyembunyikannya. Papa Aksa mengangkat kepalanya hingga mata mereka saling memandang.


"Kenapa gak diangkat telepon ku?" tanyanya.


"Hujan Om, Fany ketiduran," jawabnya.


"Maafkan Fany, ya Om," jawabnya dengan mata terpejam sambil menikmati aroma Parfum Papa Aksa yang sangat menggoda itu.


"lain kali jangan lakukan hal itu lagi ya," pintanya.


"Iya Om," ucapnya sembari melepaskan pelukannya.


"Makan yok, Om gak sabar menikmati masakan Nenekmu," ucapnya sambil menarik tangannya duduk berdampingan.


"Gak Om, nanti gak cukup," jawabnya.


"Alasan, sini makan," ujarnya.


Aroma sambal dan ikan bakar menggugah seleranya, hingga tidak sabar untuk segera menikmatinya.


"Enak sekali masakannya," ucapnya.

__ADS_1


Fany tersenyum dan senang atas pujian Papa Aksa yang terlontar dari bibirnya membuat wajahnya merona.


"Syukurlah, kalau Om suka dengan masakannya," lirihnya.


"Sini, biar Om suapin," ucapnya.


"Gak Om malu," jawabnya.


"Ngapain malu, Om kan calon Suamimu," ujarnya.


"Iya, tapikan masih calon," ucapnya senyum.


Papa Aksa pun tertawa sambil mencubit pipinya yang tembem dengan gemasnya.


"Ini Ikannya," ucapnya sambil menyodorkan ke mulutnya.


Mereka pun layaknya muda-mudi yang sedang dimabuk asmara saling memandang dan melirik dengan getaran cinta yang tulus, hingga makan siang terasa nikmat dan habis tidak bersisa.


"Terimakasih ya buat makan siangnya," ucapnya senang.


"Sama-sama Om," jawabnya.


Papa Aksa sangat yakin, kalau Kakek dan Neneknya merestui hubungan mereka hingga rela menyuruh Fany untuk mengantarkan makan siang untuknya.


"Om, Fany pulang dulu ya," ucapnya.


"Biar Om yang antar," bisiknya lembut ketelinganya.


"Gak usah Om, Fany bisa sendiri," ucapnya.


"Mana mungkin Om membiarkan Calon Istriku pulang sendirian," jawabnya menggoda.


"Gombal," ujarnya.


"Tunggu sebentar ya," ucapnya sambil merapikan mejanya yang berantakan.


_____________________________________________

__ADS_1


jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2