
Papa Aksa Sosok Pria yang kuat, kepala Keluarga yang punya tanggungjawab penuh pada Istri dan Anak-anaknya, ia sebagai tulang punggung, pencari nafkah utama dalam keluarga. Ia rela berkorban dan berjuang keras demi membuat Orang yang disayanginya tersenyum.
Papa Aksa tidak mengenal waktu, meski panas terik atau diguyur hujan ia tetap semangat, hingga ia bisa meraih kesuksesan seperti sekarang ini.
Lantunan Lagu Mama yang dinyanyikan Pengamen, membuat hati Keysa lebih baik dan tenang, hingga Papa Aksa memberikan sejumlah uang pada Pengamen.
"Terimakasih banyak ya, Kalian sudah membuat Putri Saya tersenyum," ucapnya.
"Sama-sama Pa, Kami juga senang bisa membuat Putri Bapak tersenyum," jawabnya.
"Iya, sekali lagi terimakasih ya Nak," ucapnya tegas.
"Sama-sama Pak," jawabnya senang sambil mencium uang pemberian Papa Aksa.
"Keysa, lihat Anak itu bagaimana susahnya untuk mencari sesuap nasi," ucapnya.
"Iya Pa, Keysa salut dengan umur yang masih kecil ia sudah bisa mencari makan," jawabnya sambil menatap Pengamen yang menghibur para pengunjung Taman.
"Tetaplah bersyukur, dengan apa yang Kamu miliki sekarang," ucapnya tegas.
"Iya Pa," lirihnya.
Dentingan Jam tangan yang melingkar di tangannya seakan beradu dengan waktu, tapi Papa Aksa belum mengutarakan isi hatinya ia ingin Keysa benar-benar menikmati keindahan Taman agar hatinya tenang dan bisa berpikir dengan jernih. Sejenak mereka pun membisu dengan pikiran masing-masing dengan tatapan matanya yang kosong. Tiba-tiba Papa Aksa menggeser Kursinya hingga mereka duduk dengan posisi berhadapan.
__ADS_1
"Keysa," panggil Papa Aksa memecahkan angannya.
"Ada apa Pa?" tanyanya.
"Papa mau cerita ni," jawabnya sambil menatapnya.
"Apaan sih Pa, kok serius amat," ujarnya.
"Papa mau bertanya sekali lagi tentang hubungan Papa dengan Fany," ucapnya dengan hati-hati.
"Maksudnya Pa?" jawabnya ketus.
"Papa ingin, Kamu merestui hubungan Papa dengan Fany," ujarnya.
"Keysa, Kamu tak perlu marah atau membenci Fany, karena ia tidak salah tapi Papa," ucapnya pelan.
"Jelas Fany yang salah Pa!" jawabnya.
"Tidak, ia hanya seorang Gadis lugu yang tidak tau apa-apa," ujarnya.
"Papa jangan percaya dengan muka polosnya itu," ucapnya ketus.
"Jangan pernah menghakimi Fany atas apa yang menimpamu saat ini, sebab Allah yang lebih mengetahui apa yang tidak pernah Kamu ketahui," jawab Papa Aksa lembut.
__ADS_1
Keysa pun terdiam sambil memalingkan wajahnya, ia tidak sanggup menatap tatapan Papanya yang sendu itu.
"Papa tau Kamu tidak bisa menerima kenyataan ini, tapi jujur Papa tidak sanggup hidup tanpa sosok seorang Istri, Papa ingin ada yang mengurus dan memperhatikan Papa saat seharian capek dengan segala kesibukan Papa di Kantor," tuturnya.
"Tapi Keysa takut kehilangan kasih sayang Papa," ucapnya.
"Percayalah, bahwa cinta Orang tua ke Anak dan Cinta seseorang pada pasangan adalah hal yang berbeda, karena kasih sayang Orang tua sepanjang masa," jawabnya.
Tapi sepertinya Keysa belum memberikan Lampu hijau sekalipun Papanya sudah berkata jujur ia tetap tidak memberikan jawaban yang membuatnya lega.
"Keysa, alasan apa lagi yang membuatmu menolak hubungan Papa dengan Fany?" tanyanya.
"Entahlah Pa," jawabnya bingung.
"Keysa, Papa juga tidak ingin dengan pernikahan ini, tapi Kamu tau kan alasannya mengapa Papa harus menikah lagi!" tuturnya.
"Terserah Papa lah, mana yang terbaik buat Papa," ucapnya frustasi.
"Keysa, Fany tidak hanya mencintai Papa tapi ia menyayangimu dengan tulus tanpa melihatmu sebagai Anak tiri, ia melindungi mu dengan cara yang sama baiknya dengan melindungi Papa," jawabnya tegas dengan suara tersendat menahan air matanya.
____________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1
"