Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab tiga puluh sembilan


__ADS_3

Fany mengusap kedua matanya sembari bertanya dengan nada tersendat.


"Keysa, duduklah," ucapnya.


"Gak perlu," jawabnya ketus.


"Keysa kenapa?" tanyanya dengan tubuh gemetaran.


"Jurus apa yang Fany pakai hingga Papa ku mencintaimu?" tanyanya dengan wajah marah.


"Maksudnya apa ya?" ucapnya.


"Jangan sok gak tau," jawabnya.


"Sumpah, Fany bingung dengan ucapan mu," ujarnya.


"Fany ingin harta Papaku kan?" ucapnya sembari menjerit.


"Demi Allah, Fany tidak seperti itu," jawabnya.


"Kenapa Fany mau menikah dengan Papaku?" tanyanya.


"Fany ingin merawat mu, karena Fany sangat menyayangimu," jawabnya tegas.


"Alasan, dasar Perempuan murahan," ucapnya mencibir.


"Keysa, Fany tidak mau berdebat denganmu karena Fany sangat menyayangimu," jawabnya.


"Dasar wanita ular," ucapnya ketus.


"Keysa, jaga bicaramu," jawabnya tersedu.


"Wanita seperti Kamu pantas untuk menerimanya," ucapnya.


"Keysa, tolong jangan bicara seperti itu" jawabnya memohon.

__ADS_1


"Pantas orang tuamu meninggal karena kecelakaan karena mereka tidak ingin melihat anaknya yang brengsek," ucapnya sembari menjerit.


"Diam,,! Kamu boleh menghinaku tapi tidak dengan orangtuaku, mereka tidak tau apa-apa," jawabnya dengan sorot matanya yang tajam.


"Memang iyakan? Kamu Wanita pengejar laki-laki berduit hingga rela menjadi seorang Istri yang lebih tua dari Kamu," ucapnya.


"Cukup,,,! Kamu keterlaluan," jawabnya.


"Dasar perempuan gatal," ucapnya sambil menunjuk kearah hidungnya.


"Apa salahku sama Kamu? hingga tega menyakiti perasaanku," tanyanya dengan uraian air mata.


"Karena Kamu menikahi Papaku," ucapnya sambil menampar wajahnya.


Fany menangis sambil mengusap wajahnya menahan rasa sakit dengan tamparan yang sangat kuat itu.


"Keysa puas," ucapnya sembari menjerit sambil tertawa terbahak-bahak.


Papa Aksa tersentak dari mimpi indahnya saat mendengar suara ribut diruang tamu, sambil melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua pagi, dengan rasa penasaran Papa Aksa beranjak dari tempat tidurnya untuk memastikan apa yang terjadi. Alangkah terkejutnya saat melihat Fany menangis meraung-raung sementara Keysa tertawa sambil melompat-lompat.


"Gak ada apa-apa Om," jawabnya sambil mengusap air matanya.


"Wajahmu kenapa?" tanyanya heran.


"Digigit nyamuk Om," ucapnya gugup.


"Digigit nyamuk? tapi seperti bekas tamparan tangan," jawabnya sambil mendekatinya.


"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya.


"Gak Om, ini cuma bekas bantal Sofa," jawabnya.


"Om benci manusia pembohong," ucapnya tegas.


"Fany, gak bohong Om," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sekali lagi Om tanya, siapa yang melakukan ini?" tanyanya kesal.


Fany tidak menjawab, hanya air matanya terus mengalir membasahi wajahnya yang manis. Papa Aksa pun iba dan langsung memeluknya dengan erat, karena tidak sanggup melihat orang yang dicintainya bersedih.


"Fany, berhentilah menangis, Om tidak sanggup melihat air matamu," ucapnya sembari mengusap wajahnya.


"Fany takut Om," jawabnya terbata-bata.


"Keysa tak perlu takut, selagi ada Om semua akan baik-baik saja," ucapnya.


"Pasti Keysa yang melakukan ini," gumamnya kesal.


"Maafkan Keysa ya," ucapnya memohon.


"Iya Om," lirihnya.


"Om kesal dengan perbuatannya yang tidak terpuji ini, hingga tega menyakitimu," ujarnya dengan sorot matanya yang tajam.


"Keysa gak salah Om, Fany yang salah," ucapnya ketus.


"Tak perlu saling menyalahkan, mungkin Keysa hanya butuh waktu saja," jawabnya.


"Iya Om, andaikan Fany juga diposisi nya mungkin akan merasakan hal yang sama," ucapnya.


"Tapikan tidak harus menyakitimu?" ucapnya ketus.


"Memang betul, tapi Om harus sabar dan tak perlu memarahinya," jawab Fany.


"Tapi ini sudah keterlaluan," ucapnya.


"Tidak Om, Fany sangat memakluminya," jawabnya dengan pandangan kosong.


______________________________________________


jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2