
Pagi yang sangat cerah, langit yang membiru membuat Burung - Burung terbang sangat riang, terdengar kicauannya yang merdu. Mungkin sebagian Orang malas untuk bangun, karena udara sangat pagi itu sangat dingin, tapi tidak dengan Keysa, ia sudah bangun sejak satu jam yang lalu, ia sudah siap mandi dengan pakaian rapi, beda dari hari - hari sebelumnya.
Suara detak jam terdengar begitu jelas di telinganya, ternyata jam menunjukkan pukul 07.00 pagi, Keysa berjalan ke arah cermin menatap wajahnya yang rapuh.
"Keysa, gadis kuat, harus senyum!" ucapnya menyemangati dirinya sendiri sembari memaksakan tersenyum tipis.
Keysa, berjalan keluar dari kamarnya, matanya yang yang indah, menyapu ke setiap ruangan, tak ada tanda - tanda kehidupan, di pagi itu rumah benar - benar sepi seperti tak berpenghuni, ia bingung melihat keadaan yang tidak biasa itu, lalu menghampiri Bu Zana di dapur yang sibuk memasak untuk sarapan.
"Selamat, Pagi Bu!" ucapnya senyum.
"Se... selamat Pagi!" jawabnya gugup melihat Keysa berdiri tegak di hadapannya.
"Kok bingung, Bu? ada yang salah dengan Keysa?" tanyanya.
"Oh gak, cuma kaget saja," ujarnya.
"Ada apa dengan Keysa? kok tiba-tiba ramah?" tanyanya dalam hati.
"Bu, hari ini masak apa?" tanyanya.
"Ikan Gurami bakar!" jawabnya singkat tanpa melihat ke arahnya.
"Wow, enak banget Bu," lirihnya.
"Iya," gumamnya bingung.
"Tolong, ambilkan garam di lemari ya!" perintah Bu Zana.
"Iya, Bu," jawabnya sembari senyum.
__ADS_1
"Terimakasih," ucapnya mengangguk.
Bu Zana, tersenyum dan mengharapkan Keysa berubah setelah kejadian semalam, hatinya lega saat melihat perubahan Keysa. Tiba - tiba, suara Mobil Papa Aksa memasuki pekarangan Rumahnya yang mewah dan besar itu, Bu Zana berlari membuka pintu dengan pikiran campur aduk.
"Ini pasti perang lagi," gumamnya.
Dengan senyum manis, Papa Aksa turun dari Mobil mewahnya, sambil membawa beberapa file di tangannya.
"Kok sepi, Bu? Fany, dan Keysa dimana?" tanyanya.
"Ibu, masih di kamar, Keysa di dapur, Pak!" jawab Bu Zana.
"Tumben, Keysa di dapur, Bu?" tanyanya.
"Keysa, memang suka membantu ibu, Pak!" ujarnya.
"Syukurlah!" ucapnya sembari menuju Kamarnya yang masih tertutup.
"Sayang, buka pintunya!" panggilnya sembari menjerit.
"Iya, Mas, sebentar," teriak Fany.
Fany, membuka pintu kamarnya, sembari mencium tangan Papa Aksa dengan lembut.
"Lama pulangnya, Mas," ucapnya lembut.
"Iya, Sayang, ada pekerjaan yang harus di selesaikan," jawabnya.
"Oh," ujarnya singkat.
__ADS_1
Fany, mengambil beberapa File yang ada d ditangannya, ia sedikit meringis, mengingat sayatan di pergelangan tangannya terkena File, sakit, tapi tak sesakit hatinya. Papa Aksa, sama sekali tidak tahu tentang sayatan ditangannya, karena ia sengaja memakai Baju lengan panjang, untuk menutupi sayatan di pergelangan tangannya.
Bruk!
Tak sengaja ia menabrak meja, ia benar - benar ceroboh, sehingga File itu jatuh ke lantai. Fany segera memungutnya, tiba - tiba Papa Aksa membantunya mengambil File yang berserakan di lantai.
"Sayang, tanganmu berdarah?" tanyanya panik.
Deg!
Iris hitam itu bertabrakan dengan netra miliknya, seketika ia menegang, dan memutuskan kontak mata itu, netra ku beralih menatap tangannya yang berdarah, bahkan kemejanya sudah terganti dengan darah merahnya.
Ketika, Fany, ingin mengambil tumpukan File itu, namun Papa Aksa sudah membawanya terlebih dahulu.
"Biar, Fany,, Mas!" ucapnya.
" Mas saja! kamu gak lihat tanganmu berdarah." jawabnya.
Fany, menghembuskan nafasnya pelan, dan mencoba membersihkan darahnya yang terus mengalir, setelah Papa Aksa, menyimpan File tersebut, ia menghampiri Fany, yang sibuk membersihkan darah tangannya.
"Sayang, tanganmu kenapa?" tanyanya panik.
"Kena kaca, Mas!" jawabnya berbohong.
"Kok, bisa, Sayang!" ujarnya.
"Namanya musibah, Mas," ucapnya lembut.
________________________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏