
Kehadiran Orang tua bagi anak - anak ibarat listrik bagi kehidupannya, sejak dalam kandungan, saat kita belum bisa makan, kita menumpang makan dari nutrisi yang masuk ke tubuh Ibu, saat belum bisa kita berjalan, Ayah siap sedia menggendong atau memapah langkah kita ke arah yang kita mau.
Sampai kapan pun, Orang tua akan selalu butuh kehadiran anaknya, karena di saat mereka tiada, anak - anak, akan memiliki ruang hampa dalam dirinya, ruang yang biasanya diisi perhatian dan wujud kasih sayang yang ditunjukkan oleh Ayah dan Ibu untuk anak - anaknya.
Begitu juga bagi Keysa, ketiadaan sosok Ibu dalam hari - harinya akan sedikit lebih menyakitkan, saat Ibu pergi untuk selama-lamanya, bukan hanya kehilangan Ibu Rumah Tangga, tapi juga cinta dan kasih sayang.
Kepergian Mamanya rasanya berlipat-lipat ganda lebih menyesakkan dadanya, perihnya bukan hanya sehari, seminggu, atau sebulan, sampai setahun dan bertahun - tahun berikutnya pun sakit itu masih terasa, akan selalu ada momen yang membuatnya berpikir " seharusnya Mama ada..." dan Keysa pun menangis.
"Aku tak sanggup, menghadapi kegilaan dunia ini sendiri, tak ada lagi sosok Ibu yang siap mendengar segala keluh kesah ku, yang siap pasang badan untuk melindungi ku." bisiknya dalam hati.
*********
Pintu berderit seseorang masuk dan menghampirinya dengan sebuah belaian lembut di pundaknya, lalu merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Keysa, jangan sedih lagi ya!" perintah Fany sambil mengusap wajahnya.
"Pergi! jangan dekati aku jika tak ingin mati ditangan ku!!" ucap Keysa dengan tatapan matanya yang tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Keysa, sadar Nak, ini Ibu," jawabnya menatap Keysa dengan prihatin.
"Jangan pernah kamu mengaku sebagai Ibuku! dia sudah pergi untuk selama-lamanya," teriak Keysa.
__ADS_1
"Keysa, Ibu minta maaf kalau Ibu punya salah," pintanya.
"Berani - beraninya, kamu mengaku Ibuku?" ucapnya sembari menjerit.
"Iya, maafkan Tante," jawabnya ketakutan.
Sudah kubilang sampai kapanpun, kamu tidak pernah ku anggap Ibuku, jadi jangan memanggil dirimu Ibu di depanku," ucapnya dengan nafas tersengal.
"Iya iya, Tante minta maaf," jawabnya gugup.
Matanya memerah menyorot tajam menatap Fany, berlari keluar menuju dapur mengambil sebilah pisau dan kembali masuk dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.
"Ini yang kamu inginkan perempuan murahan!" ucapnya sambil mengacungkan pisau ke wajah Fany.
" Kamu telah merebut kebahagiaanku," teriaknya sambil mengacungkan pisaunya semakin tinggi saat melihat Fany mundur.
"Keysa, tolong letakkan Pisaunya, itu berbahaya," ucapnya memohon.
"Memangnya kenapa? kamu yang memaksaku menjadi seperti ini bukan! sekarang kamu takut?" jawabnya sinis.
"Keysa, kumohon jangan lakukan itu," pintanya menangis.
__ADS_1
"Kamu taukan Mamaku sudah meninggal, aku hanya punya Papa sekarang kamu mengambilnya dariku, kamu pikir itu benar?" teriaknya histeris.
"Iya, Tante minta maaf," ucapnya menangis ketakutan.
"Maaf! kamu pikir maaf mu berguna?" jawabnya sembari meletakkan mata pisau di dagunya.
"Keysa tolong buang pisau itu, Tante minta maaf," ucapnya.
"Minta maaf seribu kali pun semuanya tidak akan mengubah keadaan bukan? apa kamu bisa mengembalikan waktu Papaku yang terbagi hanya mengurusmu, Kakek dan Nenekmu?" teriaknya.
"Keysa tolong, letakkan Pisaunya, nanti kamu terluka," pintanya.
"Aku sudah terluka, sekarang giliran mu," ucapnya.
"Keysa, sadar," jawabnya.
"Sebentar lagi pisau ini akan merusak wajahmu, dan cacat seumur hidup!";ujarnya sembari tertawa.
"Keysa sadar Nak, Tante tau kamu masih punya hati nurani," ucapnya meyakinkan.
_______________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏🙏