
Setelah Keysa mendesaknya, akhirnya Fany menceritakan pembicaraannya dengan Dokter Lee yang menanganinya, mendengar penjelasannya Keysa menangis sekuat - kuatnya karena sedih.
"Pa, maafkan Keysa," gumamnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Keysa, Doakan Papamu biar cepat sembuh," lirihnya lembut.
"Itu semua karena kamu, dasar pembawa sial," ucapnya sinis.
"Jangan berkata seperti itu, aku juga tidak ingin Papamu sakit," jawabnya sedih.
"Awas, kalau terjadi apa - apa dengan Papaku, kamu harus bertanggungjawab," ujarnya dengan suara meninggi.
"Keysa, ini bukan salahnya, tapi ini sudah kehendak yang di atas," ucapnya kesal.
"Ibu sama saja dengan dia," jawabnya marah.
"Ini waktunya bukan berdebat, tapi mencari cara agar Papamu cepat sembuh," ujarnya.
"Andaikan, Wanita ini tidak hadir dalam kehidupan Papa, mungkin ini tidak terjadi, Bu," teriaknya.
"Penyakit Kanker itu sudah lama ada ditubuh Papamu, kamu saja yang tidak tahu," ucapnya dingin.
"Apa? bohong," jawabnya.
"Iya Keysa, Papa dan mendiang Mamamu sengaja merahasiakan ini dari kamu, mereka tidak ingin kamu sedih," tuturnya.
__ADS_1
"Keysa tidak percaya, ini pasti gara - gara Wanita murahan ini," ucapnya.
"Tidak Keysa, percayalah, Ibu tak mungkin berbohong," jawabnya.
"Tidak, Ibu hanya membela diakan?" ujarnya.
"Sudah Bu, jangan berdebat lagi, aku pusing," lirihnya sembari memeluknya.
Beberapa Perawat sibuk menyiapkan segala keperluan Papa Aksa, mereka menanganinya dengan serius, berharap Papa Aksa sembuh dan kembali kerumah.
Berhari - hari lamanya Papa Aksa terbaring di Rumah Sakit, Dokter terus berusaha mengobatinya hingga akhirnya sedikit demi sedikit Papa Aksa membaik dan Dokter pun mengijinkan Papa Aksa pulang dengan catatan Papa Aksa harus periksa ke Dokter minimal seminggu sekali.
Fany dan Keysa senang, mereka pun kembali kerumahnya yang mewah dan besar itu, Papa Aksa kembali beraktivitas seperti biasanya, ia nampak bahagia bisa berkumpul kembali dengan Fany dan Keysa setelah beberapa hari di rawat di Rumah Sakit.
"Mas, senang bisa pulang kerumah," ucapnya.
"Terimakasih Sayang, kamu sudah menjaga dan merawat ku dengan baik," ujarnya.
"Sama - sama Mas, sudah seharusnya seorang Istri menjaga dan merawat Suaminya, apalagi dalam keadaan sakit," lirihnya.
"Sekali lagi terimakasih Sayang," ucapnya mencium pucuk kepalanya lembut.
Papa Aksa nampak tenang, senyum manis menghiasi bibirnya yang tipis sambil memeluk tubuh Fany yang mungil, ia tidak ingin jauh darinya walau hanya sedetik, karena Fany adalah nafas kehidupannya, tak terasa malam pun semakin larut mereka lelap dengan buaian mimpi - mimpi indahnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Hingga suatu hari, Papa Aksa merasakan sakit di kepalanya, dan kali ini terasa lebih berat, dan tidak ada yang tahu karena Papa Aksa sendirian dalam ruangannya, karyawan sibuk bekerja, dan Papa Aksa pun pingsan.
Tiba - tiba salah seorang Karyawan datang untuk menanda tangani beberapa berkas, ia mengetuk pintu berkali - kali tapi Papa Aksa tidak menjawab, lalu Karyawan mengintip dari kaca jendela, Karyawan panik dan menjerit minta tolong.
"Tolong, Pak Aksa pingsan," teriaknya.
Para Karyawan panik dan segera menelepon Ambulans untuk membawa Papa Aksa ke Rumah Sakit untuk segera di rawat, pihak Kantor juga segera menghubungi Fany untuk segera datang ke Rumah Sakit.
Kring...kring,
"Selamat siang, Bu, ini dengan Ibu Fany?" tanyanya.
"Iya Pak," jawab Fany singkat.
"Ibu segera ke Rumah Sakit Husada, Bapak sakit," ujarnya.
"Ini siapa?" tanyanya panik.
"Ini Alex, salah satu Karyawan Bapak Aksa, Bu," tuturnya.
"Suami Saya kenapa?" tanyanya gugup.
"Suami Ibu pingsan, sekarang sudah di Rumah Sakit," jawabnya.
"Iya, Saya segera ke sana," ucapnya menangis.
__ADS_1
******************
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏