
Setelah mendengar penjelasan dari Dokter Lee, ia hanya diam merenungi dan memikirkan perkataan Dokter Lee, ia mulai introspeksi diri dan berusaha untuk menyelesaikan segala permasalahan yang menimpanya dengan hati yang lapang, karena dengan begitu ia bisa menjadi bahagia. Fany merasa perlu membandingkan dirinya dengan ia yang kemarin, maka dari itu ia bisa menjadi pribadi yang lebih baik hingga saat ini.
"Aku percaya jika setiap masalah yang menimpaku nantinya bisa menjadi pelajaran dalam hidupku, karena selalu ada hikmah yang bisa aku ambil dari setiap suka dan duka ku, dan aku yakin setiap permasalahan datang dan sudah dirancang oleh-nya," bisiknya dalam hati sembari menatap Papa Aksa dan Dokter Lee secara bergantian.
Setelah itu, Fany dan Papa Aksa pamit dan membuat janji untuk menemuinya kembali, sontak dengan senang hati, Fany langsung menghambur ke arah Papa Aksa, dan mereka meninggalkan ruangan Dokter Lee.
Tak beberapa lama kemudian, terdengar suara Bu Zana, memanggil.
"Pak, Bu, Keysa sudah bangun," ucapnya senang.
"Oh iya? ia baik - baik saja kan, Bu?" tanya Fany.
"Iya tidak mau bicara, Bu," ucapnya sedih.
Bu Zana menatap Fany dan Papa Aksa, lalu melirik ruangan Keysa dengan tatapan matanya yang kosong.
"Pak, mungkin Keysa menunggu kehadiran, Bapak," ucapnya.
"Ayok Mas, temui Keysa," perintah Fany.
"Iya Sayang, kamu gak ikut?" tanyanya.
__ADS_1
"Gak usah Mas, Keysa butuh waktu untuk bisa menerima kehadiran ku," jawabnya tenang.
"Okelah, Mas masuk dulu ya," ujarnya.
"Iya Mas, bicaralah baik - baik, jangan membuatnya marah," ucap Fany mengingatkan.
"Iya, Mas tau apa yang kulakukan saat ini," Jawabnya senyum.
Fany menyadari bahwa ia harus sungguh - sungguh berdamai dengan hatinya, ia harus sembuh dari lukanya, dan bersih dari noda amarah dan rasa sedih yang terus menggerogoti. Dan salah satu caranya adalah memaafkan Keysa.
Sejak kecil, Fany sudah terbiasa berdamai dengan air mata dan marah karena ia hanya dibesarkan oleh Kakek dan Neneknya yang jauh dari kata mewah, ia meyakini satu hal bahwa meluapkan marah cepat - cepat jauh lebih baik ketimbang menahannya bertahun - tahun.
Setelah beberapa menit, Papa Aksa tiba di kamar Keysa, ia menatap Papanya dengan tatapan sinis, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela. Papa Aksa mendekatinya dengan hati - hati.
"Keysa Putri kecil Papa, sudah baikan?" tanyanya senyum.
"Ngapain Papa kesini, urus saja Istri baru Papa itu," jawabnya sinis.
"Jangan marah - marah dong cantik, jelek tau," ucapnya bercanda.
"Bukan urusan, Papa!" ujarnya.
__ADS_1
"Keysa, Papa kesini bukan untuk ribut, tapi untuk menjenguk mu," lirihnya sembari merapikan selimutnya.
"Tumben Papa perduli dengan Keysa, apa Istri Papa yang baru itu sudah meninggalkan, Papa," ucapnya berharap.
"Sudah, Papa tidak mau membahas itu, Papa tidak mau ribut denganmu," jawabnya singkat.
"Terus Papa kesini cuma memastikan Keysa masih hidup atau sudah mati?" tanyanya.
"Putri Papa yang cantik, gak bagus loh ngomong begitu, harusnya kamu bersyukur kamu bisa tertolong," jawabnya.
"Maksud Papa apa?" tanyanya lagi.
"Kejadian semalam kamu banyak kehabisan darah, dan Rumah Sakit kehabisan darah golongan darah A, untung ada Orang yang baik hati mendonorkan darahnya untuk kamu, akhirnya kamu tertolong," tuturnya.
"Siapa Orang itu, Pa?" tanyanya penasaran.
***********************
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
"
__ADS_1