
Hujan diluar telah mengembunkan kaca Mobilnya, membuat Papa Aksa ingin menggoreskan namanya dan Fany dipermukaan nya. Cahaya lampu Kendaraan bergerak buram dengan Gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, hujan telah menimbulkan kemacetan tetapi bayangan Fany mampu melegakan rongga dadanya.
"Fany, yakinlah apa pun akan kulakukan untuk membuatmu bahagia," bisiknya dalam hati sambil menatap air hujan yang mengalir di permukaan kaca Mobil.
Karena didorong rasa rindu yang tidak tertahankan, Papa Aksa pun menghubungi Fany, panggilan pertama sampai panggilan untuk sekian kalinya tak juga mendapat tanggapan, lalu Papa Aksa mengirim pesan dan tidak mendapatkan jawaban.
"Haruskan ku datangi rumahnya untuk mengetahui apa yang terjadi? tanyanya dalam hati sambil menghela nafas panjang.
Tiba-tiba ponselnya berdering, jantungnya berdetak kencang dan berharap itu telepon dari Fany, tapi alangkah terkejutnya ia saat mengangkat ponselnya, suara lembut dan manja menyapanya.
"Ini dengan Pak Aksa ya," ucapnya manja.
"Iya, ini dengan siapa?" tanyanya ketus.
"Masa Bapak lupa dengan Aku," ujarnya.
"Maaf, anda salah sambung," ucapnya tegas.
"Aduh, ganteng-ganteng kok galak ya," jawabnya manja.
"Dasar, perempuan gatal," ujarnya sambil mematikan Ponselnya.
__ADS_1
Papa Aksa mengutuk, sambil melajukan Mobilnya dengan cepat dan ingin cepat sampai di rumah, sejenak ia melupakan Fany di dorong rasa kesalnya dengan penelepon yang berusaha menggodanya.
Setelah menempuh perjalanan satu jam, Mobil mewahnya memasuki pekarangan Rumahnya dan bergegas masuk dengan wajah kesalnya. Sementara Keysa duduk santai di ruang tamu sambil menunggu kepulangan Papanya. Tapi Papa Aksa tidak menghiraukannya dan langsung menuju kamar dan menguncinya.
"Papa kenapa ya? kelihatannya marah," bisiknya dalam hati sambil memandang kearah pintu kamar Papanya.
Setiba di kamarnya, Papa Aksa melemparkan tasnya dan menghempaskan tubuhnya ke kasur sambil mengacak-acak rambutnya dengan kasar, pikirannya kacau hingga bibirnya tidak sanggup berkata apa-apa, setelah beberapa menit ia kembali meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Fany, tapi tetap tidak ada jawaban.
"Fany, kamu dimana sih!" gumamnya frustasi.
Rasa rindu dan cintanya menyatu membuatnya terpuruk, dan ingin memastikan keberadaannya tapi keadaan tidak memungkinkan untuk menemuinya karena hujan diluar sangat lebat disertai dengan petir yang menyambar hingga aliran listrik padam.
"Dasar sial," lirihnya kesal sambil melemparkan ponselnya.
"Pa,,,! Keysa takut,"' ucapnya sembari menjerit memanggil Papanya.
Papa Aksa tersentak saat mendengar jeritan Keysa dan beranjak menghampirinya sambil membawa senter.
"Keysa, ini Papa," ucapnya singkat.
Keysa menghambur ke pelukan Papanya sambil menangis.
__ADS_1
"Keysa, takut petir Pa," ucapnya sambil membenamkan wajahnya ke dada Papanya.
"Gak usah takut, Papakan ada," jawabnya singkat.
Keysa histeris saat cahaya petir tiba-tiba menyinari ruang tamu membuatnya gemetar sambil memeluk Papanya dengan kencang.
Papa Aksa berusaha menenangkan Keysa, sambil mengajaknya duduk di Sofa, mereka duduk berdampingan menunggu hujan reda dan listrik kembali hidup, merekapun diam dengan pikiran masing-masing.
"Keysa, sudah makan?" tanyanya.
"Belum Pa, Keysa nunggu Papa pulang," jawabnya.
"Maaf ya, Papa pulang telat jalanan macet karena hujan," ujarnya.
"Gak Apa-apa Pa, yang penting Papa sudah tiba di Rumah,"'lirihnya.
Papa Aksa kembali diam, dengan sejuta angan yang bertengger di kepalanya, sesekali ia melirik ke luar sambil menikmati dinginnya malam yang begitu menyiksanya, hidupnya mulai berandai-andai hingga bibirnya kembali tersenyum sambil membayangkan wajah cantik Fany.
_____________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1
"
"