
Fany lega saat mendapat dukungan dan semangat dari Kakek dan Neneknya yang membuatnya yakin untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
"Kek, Nek, Fany istirahat dulu ya," ucapnya.
"Iya, Kamu pasti lelah istirahatlah," jawabnya.
Fany pun membaringkan tubuhnya di Kasur dengan sejuta angan yang menghiasi benaknya, tak menunggu lama ia pun terlelap dengan mimpi- mimpi indahnya.
Sementara Papa Aksa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, satu jam perjalanan yang terasa menyesakkan, selama satu jam lamanya ia harus meredam rasa rindu yang semakin menggodanya.
"Tuhan, berikan Aku petunjuk agar pilihan Saya tidak salah memperjuangkan Fany, dan Kumohon bukakan pintu hati Keysa agar terbuka untuk merestui hubunganku dengan Fany," bisiknya dalam hati seraya menangis memohon pada Rabbinya.
Bayangan Keysa dan Fany menghantuinya dan Isak tangis pun tak lagi terbendung, hingga air matanya semakin deras membasahi pipinya, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya. Tak terasa Mobil Papa Aksa sudah memasuki pekarangan, sejenak Papa Aksa memandang Rumahnya yang besar dan mewah itu yang nampak sepi tanpa sosok seorang Istri, rasanya hampa dan sangat membosankan, setelah beberapa saat ia pun beranjak menuju Rumah yang nampak sepi seperti tidak berpenghuni itu sambil memanggil Keysa.
"Keysa, Kamu dimana? Papa pulang," panggilnya sembari menjerit sambil menuju Kamarnya.
Tok,, tok,,, tok
"Keysa, Kamu didalam ya?" tanyanya sambil menunggu Keysa membuka pintu Kamarnya.
"Iya Pa," jawabnya sambil membuka pintu Kamarnya dengan rambut acak-acakan.
"Ya ampun, Anak Gadis jam segini belum mandi," ucapnya.
"Maaf Pa, Keysa ketiduran," jawabnya sambil merapikan rambutnya.
__ADS_1
"Sana mandi, Papa juga mau mandi," ujarnya sambil meninggalkan Keysa yang masih berdiri didepan pintu Kamarnya sambil menatapnya dengan kesal.
"Pulang-pulang, kok marah," bisiknya kesal.
Papa Aksa pun langsung menuju Kamarnya, dan mengambil Ponselnya dari kantongnya sambil menatap layar Ponselnya.
"Fany, kok gak nelpon ya? nanya nyampek atau belum gitu," gumamnya kesal.
Papa Aksa pun melemparkan Ponselnya ke kasur melampiaskan kekesalannya saat Fany tidak menghubunginya. Ia pun menuju Kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air untuk menghilangkan rasa kecewanya.
Papa Aksa yang selama ini tergantung pada Istrinya merasa seperti kehilangan arah dan pegangan, dan juga merasa terisolasi dari teman dan Keluarga karena tidak tau cara berinteraksi dengan mereka, membuat Papa Aksa ingin cepat-cepat melamar Fany sebagai pendamping hidupnya. Ia pun tersentak dan teringat dengan Keysa yang belum merestui hubungannya dengan Fany.
"Aku, harus bicara dengan Keysa,' gumamnya sambil bergegas keluar dari kamar mandi.
Setelah mengganti pakaiannya, ia pun beranjak keluar menuju kamar Keysa dan mengajaknya untuk menikmati makan malam yang sudah tersedia di meja makan.
"Sebentar Pa, Keysa nyusul," jawabnya.
"Jangan pakai lama ya," ujarnya.
"Iya Pa," lirihnya.
Papa Aksa pun menarik nafasnya dalam-dalam, sebelum membicarakan hubungannya dengan Fany, sambil menunggunya di meja makan. Setelah beberapa saat Keysa pun menghampirinya sambil menepuk pundak Papanya.
"Menghayal ni," ucapnya sambil duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Gak, Papa cuma lapar," jawabnya senyum.
"Tumben lapar Pa," ujarnya.
"Iya, Papa ingin makan malam bersama Putri Papa yang cantik," ucapnya.
"Hehe, kalau begini pasti ada maunya ni," jawabnya tertawa sambil menatap Papanya.
"Keysa, setelah makan malam Kita jalan-jalan yok," ucapnya.
"Serius Pa?" tanya Keysa.
"Iya, Papa sengaja pulang cepat agar Kita bisa keluar," jawabnya.
"Hore, akhirnya keluar juga," lirihnya sambil menyantap makanannya.
"Keysa, Kamu baik-baik saja kan?" tanyanya.
"Iya Pa, hari ini Keysa sangat bahagia," jawabnya tegas.
"Syukurlah, Papa senang mendengarnya," ucapnya senyum.
___________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏🙏
__ADS_1
"
"