Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab 104


__ADS_3

Papa Aksa berusaha mengendalikan perasaannya, saat melihat kelakuan Keysa yang sering membuatnya kesal dan menjengkelkan itu, tapi demi rasa sayangnya dan janjinya pada Bu Retno mendiang Istrinya, ia pun harus memendam rasa itu dan tidak menunjukkannya pada Keysa seakan ia baik-baik saja, tapi jauh dalam hatinya yang paling dalam ia sangat terluka dengan sikapnya itu.


"Bu, tolong panggilkan Keysa," perintah Papa Aksa dengan rasa frustasi.


"Lebih baik Kita tunggu saja Pak, nanti Keysa marah," jawab Bu Zana gugup.


"Tapi sampai kapan Bu?" tanyanya.


"Sabar ya Pak, sebentar lagi Keysa pasti keluar," jawabnya.


Papa Aksa pun mengacak rambutnya dengan kasar, dengan wajahnya yang tiba-tiba berkeringat menahan luapan emosinya.


"Ya Allah, berikan Saya kesabaran untuk menghadapi Keysa," bisiknya dalam hati sambil memejamkan kedua matanya.


Dadanya terasa sesak dengan nafas memburu, karena harus meredam emosi yang berlebihan agar tidak terluap kan pada Keysa.


"Sebaiknya Bapak ngopi dulu ya, sembari menunggu Keysa," ucap Bu Zana dengan hati-hati takut ucapannya membuat Papa Aksa marah besar.


"Boleh Bu," jawabnya sambil turun dari Mobil.


"Tunggu ya Pak, biar Ibu buat dulu," ujarnya lega sambil bergegas masuk ke dalam Rumah.


"Kirain marah, ternyata tidak," lirihnya senyum sambil menuju Dapur.


Papa Aksa pun duduk bersandar matanya penuh dengan tatapan kosong, sambil menggigit bibirnya dengan kuat sebagai luapan emosinya.


"Entah apa yang ada di otak Anak itu, selalu bersikap aneh dan membingungkan," bisiknya dalam hati.


Hati dan pikirannya tidak lagi bisa dikendalikan selain rasa kecewanya yang kian menggunung, sesekali Papa Aksa mengumpat dan memaki dirinya sendiri seakan ia gagal mendidik Keysa.

__ADS_1


"Sungguh keterlaluan, taunya bikin kesal," gumamnya.


"Loh ngomong sama siapa Pak?" tanya Bu Zana


yang sudah berdiri tegak dibelakangnya dengan secangkir kopi.


"Gak ada Bu, cuma nyanyi sendiri," jawabnya gugup.


"Hehe, ternyata suara Bapak merdu juga ya," ujarnya.


"Siapa yang nyanyi Bu?" tanyanya senyum.


"Loh, tapi Bapak yang bilang," jawabnya.


"Saya? kapan Bu?" tanyanya.


"Barusan loh Pak," jawab Bu Zana sambil menatapnya.


"Sudahlah Pak, tak usah dibahas," ucapnya.


Mereka pun tertawa bersama sambil menikmati segelas kopi hangat buatan Bu Zana.


"Ibu gak ngopi?" tanyanya.


"Gak Pak, takut gak bisa tidur," jawabnya.


"Mitos Bu, buktinya Saya minum Kopi berapa gelas pun gak susah tidur," ujarnya.


"Masa sih Pak?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya Bu, contohnya Saya," ujarnya meyakinkan Bu Zana.


"Tapi kata Orang begitu sih Pak," ucapnya.


"Itu kata Orang Bu, buktinya ada di depan Ibu," jawabnya senyum.


"Kalau begitu, Ibu buat kopi dulu ya Pak," ucapnya senyum.


"Silahkan Bu," jawab Papa Aksa sambil memalingkan wajahnya melihat tingkah laku Bu Zana yang lucu itu.


"Bu, Bu, kamu sangat membuatku terhibur," bisiknya dalam hati.


Sementara Bu Zana dengan semangatnya membuat Kopi setelah mendengar penuturan Papa Aksa, setelah beberapa saat ia pun kembali menghampirinya dengan wajah berseri-seri.


"Tau gak Pak, selama ini Ibu tahan selera loh," ucapnya malu-malu.


"Setiap hari boleh ngopi Bu, asal jangan sampai berlebihan, apalagi Ibu sudah tidak muda lagi,' jawabnya tenang.


"Oh begitu ya Pak," ujarnya.


"Iya Bu, dan jangan lupa harus makan dulu baru ngopi," tuturnya.


"Siap Pak Guru," ucap Bu Zana sambil menghormat Papa Aksa.


"Haha, Ibu bisa saja," jawabnya.


Hatinya yang kesal dan kecewa tiba-tiba hilang setelah Bu Zana yang baik dan lucu itu mampu membuatnya tertawa, dan amarahnya berangsur-angsur hilang di telan Bumi.


_____________________________________

__ADS_1


jangan lupa like jempolnya dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2