Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab 59


__ADS_3

Waktu pun bergulir dengan cepat, Fany pun membentangkan tikar pandan buatan Neneknya di ruang tamu untuk menikmati makan malam.


"Ayok kita makan," ucap Neneknya tersenyum.


Papa Aksa dan Kakek Fany beranjak menuju ruang tamu, diikuti oleh Fany dan Neneknya.


"Keysa, ayok kita makan," ucap Fany.


"Gak lapar," jawabnya.


"Ayok lah, makan sedikit saja ya," lirihnya.


"Gak," ucapnya.


"Nanti masuk angin loh," jawab Fany.


Papa Aksa melirik kearah Keysa dan Fany dan langsung menghampirinya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Gak ada apa-apa Om," jawabnya.


"Kok masih disini?" tanyanya.


"Nungguin Keysa Om," lirihnya.


Sejenak Papa Aksa menatap Keysa dan kecewa atas semua sikapnya yang terkesan sombong itu.


"Keysa, please jangan buat Papa malu," ucapnya tegas.


"Iya, Pa," jawabnya singkat sambil beranjak dari duduknya menuju ruang tengah mengikuti Papanya.


"Tambah cantik saja ya," ucap Nenek Fany senyum.


"Nenek bisa saja," jawabnya tersipu.


"Maaf ya Nak, ini saja yang bisa Nenek sajikan," lirihnya.


"Gak apa-apa Nek," ucapnya.

__ADS_1


Papa Aksa nampak kesal, tapi berusaha menahan amarahnya karena sikap Keysa yang nampak acuh tak acuh itu.


"Maaf Pak, Bu, Keysa lagi tak enak badan makanya agak diam," ucapnya.


"Pantas, biasanya ia ceria," ujar Nenek Fany.


"Fany, tolong ambilkan minyak kayu putih," perintah Kakek Fany.


"Iya Kek," jawabnya.


Fany pun beranjak dan mengambil minyak kayu putih dari kamarnya.


"Ini Keysa," ucapnya.


"Fany, bawa Keysa kekamar, balurin minyak ke badannya," perintah Neneknya.


"Gak usah Nek, Keysa bisa sendiri," jawab Keysa


"Gak apa-apa, biar Fany bantu," ujarnya.


"Ayok Keysa kita kekamar," lirihnya.


"Kamu sakit ya?" tanya Fany.


"Iya, sakit hati," jawabnya.


"Sama siapa?" tanyanya.


"Sama kamu," lirihnya.


Fany tersentak sambil menatapnya panik, tapi ia tetap tersenyum walau hatinya terluka.


"Keysa, ketika kita kehilangan orang yang kita sayangi memang sangat menyakitkan, tapi apa hendak dikata semua sudah ditentukan yang di atas, begitu juga dengan Papamu apapun keinginannya saat ini tidaklah semata-mata hanya untuk kebahagiaannya, tapi demi kebaikanmu yang masih membutuhkan sosok seorang Ibu," tuturnya.


"Keysa, tak butuh seorang Ibu, masih ada Papa," ucapnya ketus.


"Fany tau, tapi pernahkah Kamu berpikir tentang perasaan Papamu? sebenarnya ia rapuh tapi semua itu ditutupinya demi kamu," jawabnya.


"Gak perlu ceramah, gak butuh," ujarnya.

__ADS_1


"Jangan egois, tenangkan hatimu dan jangan sakiti hati Papamu, ia sangat menyayangimu lebih dari dirinya sendiri," ucapnya.


"Ya jelas sayang, Keysa kan Anaknya!" jawabnya ketus.


"Lihatlah sekelilingmu, saat seorang Suami kehilangan Istrinya ia sibuk dengan kebahagiaannya tanpa memperdulikan anak-anaknya, tapi lihat Papamu yang begitu perduli dengan masa depanmu dan tidak pernah mengambil keputusan sendiri tanpa seijin mu," ucapnya.


"Sudah, Aku muak dengar suaramu," jawabnya.


"Terimalah kenyataan, karena Mamamu tak mungkin kembali, lihat Papamu yang banyak berkorban untukmu," lirihnya.


"Diam," ucapnya sembari menjerit.


"Maaf ya, jika ucapan ku menyakiti perasaanmu," jawabnya tersendat.


"Keysa tak butuh maaf darimu," lirihnya.


Fany pun membalikkan tubuhnya, tiba-tiba Papa Aksa sudah berdiri tegak di pintu kamarnya.


" Keysa, jangan sia-siakan orang yang sayang sama kamu, justru itu harus kamu syukuri karena masih ada yang perduli dengan keadaanmu," ucapnya lembut.


"Sudah Om, biarkan Keysa istirahat," lirihnya.


"Maafkan Keysa ya," ucapnya memohon.


"Iya Om," jawabnya senyum.


"Om, bersyukur bisa kenal dengan Kamu, yang sabar menghadapi Keysa yang keras kepala," lirihnya sambil menutup pintu kamarnya.


"Jangan keras-keras Om, nanti Keysa marah," ucapnya.


"Memang Keysa keras kepala," jawabnya tegas.


Fany tersenyum sambil menepuk pundaknya lalu beranjak menuju ruang tamu.


______________________________________________


jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏


"

__ADS_1


.


__ADS_2