
Indahnya kebersamaan adalah sebuah kata yang cocok untuk Keluarga Papa Aksa tanpa ada rasa benci dan saling menerima segala kekurangan masing-masing, saat kehadiran Fany juga semoga kebersamaan itu selalu ada agar tercipta satu Keluarga bahagia yang diharapkan oleh setiap Orang.
Setelah beberapa saat makan malam pun selesai, mereka kembali duduk santai sambil menikmati Puding buatan Bu Zana sebagai cuci mulut, Keysa dengan manjanya duduk berdampingan dengan Papanya.
"Putri kecil Papa, ayok tidur sudah malam ni," perintah Papanya dengan lembut.
"Papa bisa saja, Keysa sudah gede Pa, bukan Putri kecil Papa lagi," sangkal Keysa.
"Papakan sudah bilang, berapapun Usiamu Kamu tetap Putri kecil Papa," ujarnya.
"Ucapan Papamu benar loh, Keysa adalah sosok Putri kecil yang di titipkan Tuhan buat Papa dan Mamamu," ucapnya sembari melirik Keysa.
"Ibu sama saja dengan Papa, sepertinya kalian jodoh," jawabnya tertawa.
Bu Zana pun tersentak sambil melirik kearah Papa Aksa dengan wajah merona.
"Keysa, jaga ucapan mu," bisik Papanya setengah berbisik, ia takut Bu Zana tersinggung dengan ucapan Keysa yang akan membuatnya tersinggung.
"Bercanda kok Pa," jawab Keysa dengan rasa bersalah saat menatap wajah Bu Zana yang tiba-tiba berubah.
"Maaf ya Bu, Keysa kadang ucapannya keterlaluan," ucap Papa Aksa menghibur.
__ADS_1
"Gak apa-apa Pak, Keysa kan masih Putri kecil," jawabnya senyum.
Keysa menatapnya sinis, lalu mencubit pipinya dengan gemes.
"Impas ya Bu," ucapnya lega.
"Keysa, cukup," jawab Papanya sambil mengedipkan matanya.
Keysa pun terdiam, lalu pamit untuk tidur dengan gayanya yang kocak sambil berlari menuju Kamarnya, Bu Zana dan Papa Aksa tersenyum melihat tingkah Keysa yang masih kekanak-kanakan itu.
"Dasar Anak manja," gumam Papanya tersenyum.
"Maklumlah Pak, ia memang selalu dimanjakan mendiang Bu Retno dan tidak pernah menolak segala keinginannya, seakan ia tahu umurnya tidak panjang," tuturnya sambil mengenang Bu Retno.
"Sudahlah Pak, seiringnya berjalannya waktu Keysa pasti berubah," jawabnya meyakinkan Papa Aksa.
"Tapi untuk berubah pasti butuh waktu lama Bu, karena sudah terbiasa dengan sifat manjanya itu," ujarnya.
"Kita harus sabar Pak, karena semakin Kita keras ia semakin merajalela dan melakukan apa saja seenak hatinya," ucap Bu Zana sambil mengingat segala perbuatannya yang membuatnya tersulut emosi.
"Ia sangat beda dengan Fany ya Bu, diusianya yang masih muda ia sudah terlihat lebih dewasa," jawabnya mengenang.
__ADS_1
"Pastilah Pak, Fany Wanita mandiri yang jauh dari kata mewah, ia hidup sangat sederhana yang hanya dibesarkan oleh Kakek dan Neneknya dan tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua Orangtuanya, kehidupan mengajarkarnnya tumbuh dewasa," tuturnya.
"Iya sih Bu, itulah yang membuat Saya kagum dan yakin bahwa Fany adalah sosok seorang Istri yang baik dan bijaksana," Ucapnya yakin.
"Ibu juga sangat setuju dengan ucapan Bapak," jawabnya tegas.
"Wajahnya yang cantik dan sederhana membuat Fany nampak lebih istimewa di mataku Bu, ia juga selalu tersenyum walau Aku tau hatinya sakit dengan sikap Keysa yang sering menyakiti perasaannya," ucapnya.
"Bapak sangat beruntung bisa memilikinya, ia masih muda dan juga baik hati, sifatnya mengingatkan Ibu dengan Mendiang Bu Retno karena memiliki sifat yang tidak jauh beda dengannya," ujarnya.
'Hehe, masa sih Bu?" tanyanya.
"Iya Pak, pertama kali Ibu jumpa dengannya Ibu sudah simpatik dengannya, dan berpikir sifatnya kok mirip dengan Bu Retno," jawabnya.
"Berarti Istri Saya pasti setuju dengan Pernikahan ini ya Bu," ujarnya.
"Pasti Pak, karena Fany adalah kembarannya," ucapnya senyum.
"Hahaha, mungkin juga Bu," jawabnya tertawa.
Tanpa terasa malam pun semakin larut, mereka pun kembali ke peraduannya untuk mengejar mimpi-mimpi indahnya yang tertunda.
__ADS_1
_________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏