Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 159


__ADS_3

Mereka mengenal Keysa, sebagai pribadi yang ceria dan suka mengalah, padahal di balik itu Keysa seringkali termenung dan muram, waktunya dihabiskan untuk berlama - lama mengaduk cangkir teh dengan sendok hingga hampir bengkok, atau melamun semalaman di kamar tanpa melakukan apa - apa, ia hanya menganyam ingatan yang tidak terlalu penting namun menghindar dari masalah yang benar - benar genting, kadang - kadang ia merasa bahwa di tubuhnya ada sejumlah setan yang mengacaukan segala bentuk kewarasan yang ia punya, entah berapa jumlahnya.


Sejenak ia terdiam, terpaku menatap tangan yang tak henti - hentinya berputar seakan tak ada jeda baginya sedikitpun untuk bernafas, relung - relung dadanya penuh sesak nadinya berdetak liar saat menatap, Fany yang duduk di hadapannya di meja makan tanpa rasa bersalah, Papanya nampak senang saat Keysa ada di meja makan.


"Keysa, ayok di makan, kok di lihatin saja!" perintah Papa Aksa.


"Gak selera, Pa." ucapnya sinis.


"Makanlah sedikit, nanti sakit lagi," jawabnya lembut.


"Biarin saja sakit," ujarnya.


"Keysa, kok ngomong begitu?" tanyanya.


"Ada yang larang, Pa?" ucapnya balik bertanya.


"Dasar, anak gak tau sopan santun!" jawabnya membentak.


"Malas, dengar ocehan, Papa!" lirihnya sembari meninggalkan meja makan.


Papa Aksa menatap Keysa, keringat dingin mengucur deras di keningnya, rasa lapar kini sirna yang ada hanya rasa kecewa menyelimuti hatinya yang paling dalam, Fany dan Bu Zana saling memandang dengan perasaan campur aduk, melihat tingkah Keysa yang tidak terpuji itu.


"Mas, sudah gak usah diambil hati," ucapnya setengah berbisik.


"Mas, gak ngerti dengan sifatnya itu," jawabnya frustasi.

__ADS_1


Hela nafas yang cukup panjang memecah ruangan yang hening, sesaat setelah Keysa meninggalkan meja makan, Papa Aksa menatap langit - langit, berharap kepada alam semesta bahwa apa yang dilakukan Keysa tidak dari hatinya, Papa Aksa mencoba sabar dan menarik nafasnya dalam - dalam.


"Mas, ayok makan," ucapnya hati - hati.


"Iya, Sayang," Jawabnya singkat.


Mereka kembali makan, menikmati Gurami bakar masakan Bu Zana, senyum tipis menghiasi wajah tampannya dengan sejuta kecewa dalam hatinya.


Papa Aksa bersandar dari lelah yang menguras tenaganya, hari - harinya dipenuhi sandaran doa di setiap langkahnya, menginginkan kebahagiaan bersama Orang - Orang yang sangat dicintainya.


Semua Orang menginginkan hidup yang sempurna, namun di dunia ini tidak ada yang namanya sempurna, rintik - rintik hujan terdengar begitu jelas di pekarangan, bau tanah tercium pekat, Papa Aksa duduk di ruang tamu dekat jendela, tempat itu memang tempat favoritnya untuk melepaskan penatnya.


"Mas," remang - remang mendengar suara, menghilangkan sedikit kantuknya.


"Eh, iya Sayang," jawabnya sedikit tenang, memundurkan Sofa dan berjalan ke arah Fany.


"Mas, di sini," ucapnya memicing mata.


"Mas, gak istirahat?" tanyanya.


"Iya Sayang," Jawabnya.


"Terus kenapa masih santai, belum lihat jam, Mas?" tanya Fany lagi.


Papa Aksa bangkit, mengikuti langkah Fany ke kamar dengan mesra.

__ADS_1


"Sayang, menurut kamu apa ada yang aneh dengan Keysa?" tanyanya.


"Ada Mas," jawabnya singkat.


"Akhir - akhir ini, sifat Keysa semakin kurang ajar," tuturnya.


"Mas, apa sebaiknya kita membawa Keysa ke Psikiater?" tanyanya.


"Boleh juga," jawabnya singkat.


"Tapi bagaimana caranya mengajak Keysa ke Psikiater?" tanya Papa Aksa lagi.


"Kita harus membujuknya, Mas." jawabnya.


"Iya ya," ujarnya bingung.


"Setelah Fany perhatikan, Keysa memiliki perasaan buruk, seperti putus asa, kehilangan motivasi, sulit tidur, konsentrasi, bahkan kehilangan ***** makan, dan menyakiti Orang lain." tutur Fany.


"Menyakiti Orang lain? siapa?" tanyanya penasaran.


_____________


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏🙏


"

__ADS_1


__ADS_2