Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 158


__ADS_3

Papa Aksa, mengobati pergelangan tangannya dengan telaten, Fany hanya bisa memandangi wajah tampannya, Laki - Laki, yang mampu membuatnya jatuh hati semenjak pandangan pertama, sifatnya yang humoris dan baik hati, hingga ia memutuskan untuk siap menjadi Istrinya sekaligus Ibu untuk Keysa.


"Sayang, sebenarnya tangan kamu kenapa?" tanyanya.


"Eh, gak apa - apa, Mas..." balasnya gelagapan.


"Jelas - jelas ini berdarah, kamu bilang gak kenapa- kenapa?" tanyanya kesal.


Fany, membisu, tak menjawab apa pun, ia bingung harus memberikan alasan apa lagi, untuk menutupi perbuatan Keysa padanya.


"Jawab Sayang?" ucapnya tegas


"Kena kaca, Mas!" jawabnya sembari tersenyum.


"Gak bohong kan, Sayang!" tanyanya.


"Gak, Mas," jawabnya sembari bersandar di lengannya yang kekar.


"Lain kali hati - hati, Sayang!" ucapnya tegas.


"Iya, Mas." jawabnya lega.


Selang beberapa menit, pergelangan tangannya sudah terbalut kasa, lagi - lagi Fany mengucapkan terimakasih pada Papa Aksa, ia senang diperlakukan istimewa dalam segala hal, hingga ia tak ingin menyakiti perasaannya walau seujung rambut, karena Papa Aksa adalah segalanya baginya.

__ADS_1


Seketika, Fany mendekapnya erat, Papa Aksa pun membalas dengan usapan tangan di punggungnya.


"Tuhan, jangan biarkan kebahagiaan ini berakhir." bisiknya dalam hati.


Sembari menunggu Papa Aksa mandi, Keysa mencoba menguatkan hati. Ia tidak ingin terbelenggu oleh semua masalah yang membelitnya saat ini, selama ini, ia sudah berusaha sebaik mungkin menyelesaikan semuanya, yang ia perlukan saat ini hanyalah keberanian untuk menerima semua kenyataan.


Tak dapat di pungkiri, ketakutannya jika semua tak berjalan baik membalikkan pola pikirnya yang optimis menjadi negatif, sendiri dan kesepian yang merantai di saat - saat ini membuatnya merasa menjadi Orang yang gagal, keterpurukan yang di alaminya membuatnya sangat kecewa, karena merasa tidak sepadan dengan apa yang telah diusahakan dan korbankan selama ini, tapi perasaan - perasaan itu berusaha ia hilangkan.


"Fany harus bisa, selama ini telah bertahan dari semua masalah berat yang dulu ku anggap mustahil untuk diselesaikan, nyatanya, aku sudah berjalan sejauh ini, rasanya menyerah adalah harga yang sangat rendah atas semua yang kulakukan sedari dulu, aku harus melangkah lagi." tekadnya.


"Sayang, tolong ambilkan sabun," perintah Papa Aksa membuatnya tersentak dari lamunannya.


"Iya Mas," Jawabnya gugup.


Bu Zana, yang baik dan perhatian itu lega, tidak mendengar keributan di kamar Papa Aksa, ia menarik nafas dalam-dalam sembari menyiapkan makanan di meja makan, lalu memanggil, Fany dan Papa Aksa untuk menikmati sarapan pagi.


Tok..tok.. tok.


"Bu, sarapannya sudah siap!" ucapnya sembari mengetuk pintu kamarnya.


"Iya, Bu, sebentar!" jawabnya.


Fany, membuka pintu kamarnya lalu menutup pintu kamarnya kembali.

__ADS_1


"Bu, jangan cerita sama Bapak, ya." pintanya.


"Ibu gak cerita?" tanyanya.


"Gak, Bu, takut, Bapak marah," jawabnya.


"Bapak gak tau, pergelangan tangan Ibu luka?" tanyanya lagi.


"Sudah, Bu." jawabnya setengah berbisik.


"Oh!" lirihnya sambil membalikkan tubuhnya, meninggalkan Fany yang masih berdiri tegak di pintu kamarnya.


Hidup memang penuh tantangan, kesedihan dan cobaan seolah tidak berhenti menghampiri Fany, tak terasa air mata membasahi wajahnya yang cantik, walau sudah berusaha menahan air matanya, tapi air mata itu seperti air bah yang mampu merobohkan bendungan, segala ingatan tentang sikap Keysa, selalu dan selalu terulang ketika bertemu dengannya.


"Sayang, kamu dimana?" panggilnya lembut.


"Iya, Mas!" jawabnya sembari mengusap air matanya lalu menghampirinya.


"Darimana Sayang!" tanyanya.


"Dari dapur, Mas." jawabnya sambil menggandeng tangan Papa Aksa menuju meja makan.


______________________________

__ADS_1


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2