Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab tiga puluh tiga


__ADS_3

Setelah menikmati makan siang, Fany melirik Piano yang ada disudut ruangan dan ingin memainkannya diiringi sebuah lagu kesayangannya.


"Om, bisa Fany mainkan Pianonya?" tanya Fany.


"Boleh, silahkan," jawabnya.


Fany beranjak dari duduknya lalu menarik kursi Piano, denting Piano terdengar nyaring saat jarinya ringan di tuts nada bahkan menari dengan gesit. Fany sangat Piawai bermain Piano membuat Papa Aksa semakin mengaguminya lalu menghampirinya.


"Hebat ya," ucapnya sambil mengacungkan jempolnya.


"Biasa saja kok Om," jawabnya sambil memainkan jemarinya di alat musik Piano.


"Fany suka Musik?" tanyanya.


"Iya Om, Papaku dulu seorang pemain Piano," ucapnya sambil membayangkan wajah Papanya.


"Oh ya? jawabnya kagum.


"Iya Om, mungkin Fany punya bakat seperti Papa," lirihnya.


"Terus Fany belajar dimana?" tanya Papa Aksa penasaran.


"Fany belajar di Rumah Om, Piano punya Papa," jawabnya singkat.


"Yang ngajarin siapa?" tanyanya.


"Gak ada Om, Fany belajar sendiri sambil buka YouTube," jawabnya.


"Kenapa gak Sekolah musik saja?" tanyanya.


"Biaya darimana Om, tamat SMA saja Fany sudah sangat bersyukur, lagian Sekolah musik membutuhkan biaya banyak Om," jawabnya tegas

__ADS_1


"Bermain Piano adalah hal unik karena tidak semua orang bisa memainkannya dengan baik latihannya pun membutuhkan waktu yang lama," tuturnya.


"Betul Om," sahut Fany ketus.


Senyum mengembang diwajahnya melihat bakat yang dimilikinya.


"Om juga suka musik," ucapnya senyum.


"Masa iya Om?" tanya Fany dengan wajah panik.


"Iya, karena bermain Piano kita memiliki banyak keuntungan, Kita mempunyai pemikiran seimbang dan mudah mengekpresikan sesuatu," tutur Papa Aksa.


"Gak salah itu Om, saat Fany merasa hidupku tak berarti Fany melampiaskannya dengan bermain Piano," lirihnya.


"Om semakin mengagumi dengan semua bakat yang Fany miliki," ucapnya sambil menepuk pundaknya.


"Tapi Fany tidaklah sehebat yang Om pikirkan," jawabnya singkat.


"Terimakasih, Om selalu membuatku menjadi percaya diri," jawab Fany senang.


Ada alasan lain juga yang kemudian membuat Papa Aksa yakin pada Fany, jika merujuk pada kesamaan minat pasangan ini menjelaskan bahwa mereka berdua sama-sama menyukai musik, satu hal ini yang membuat Papa Aksa yakin pada Fany, setelah sharing berbagai hal seperti Musik serta bepergian dan makan bersama Papa Aksa dan Fany dengan cepat menyukai satu sama lain.


"Fany, Om semakin menyayangimu," ucapnya mesra.


"Tapi Om?" ucap Fany tanpa meneruskan kata-katanya.


"Om tau apa maksudmu? Keysa kan?" ucapnya.


"Iya Om," Jawab Fany.


"Keysa sudah dewasa, pasti sangat mengerti dengan tujuan Om untuk menikahi mu," sahutnya.

__ADS_1


"Tapi Fany takut Keysa membenciku," lirihnya.


"Tidak akan, karena Fany orang yang tepat untuk Om," ucapnya tegas.


"Itu menurut Om, tapi tidak dengan Keysa," jawab Fany sambil menatapnya.


"Percayalah Keysa akan merestuinya," ucapnya meyakinkan Fany.


"Tapi Fany tidak yakin Om, karena Kami Sahabat," jawabnya datar.


"Om mau tanya sesuatu, tapi harus jawab dengan jujur," ucapnya.


"Apa itu Om," jawabnya penasaran.


"Apakah Fany mencintai Om?" tanyanya tegas sambil menatapnya dengan lembut.


"Entahlah Om, Fany bingung harus jawab apa," ucapnya.


"Om harus tau perasaanmu yang sebenarnya, biar Om tau menjelaskannya kepada Keysa," jawabnya


"I.. iya Om," ucapnya gugup tanpa menoleh kearahnya.


"Terimakasih ya, ternyata cinta Om tidak bertepuk sebelah tangan," jawabnya sambil mencubit pipi tembemnya.


"Sama-sama Om," lirihnya tersipu.


"Nanti malam Om akan membicarakannya dengan Keysa, dan Om berharap semua akan berjalan sesuai dengan harapan Kita," ucapnya tegas.


________________________________________________


jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏🙏

__ADS_1


"


__ADS_2