
Ketika ditinggal mati oleh Istri banyak pria memutuskan untuk menikah lagi, banyak alasan yang melatarbelakangi Pria menikah lagi usai Istri meninggal. Rasa kesepian dan tak ada mengurus terkadang menjadi alasan utama.
"Pasti Kakek dan Nenek sudah menungguku," ucapnya gelisah.
"Tenang saja, semua pasti baik-baik saja," jawabnya tegas.
"Tapi Fany takut, Nenek marah Om," lirihnya.
"Percayalah, Kakek dan Nenekmu pasti tidak marah karena Kamu bersama Om," ucapnya meyakinkan Fany.
Setelah beberapa saat mereka pun tiba, Mobil mewah kesayangan Papa Aksa memasuki pekarangan Rumah Nenek Fany, saat Mereka mendengar suara Mobil Nenek Fany pun keluar sambil menunggunya didepan pintu, senyum manis menghiasi wajahnya yang sudah keriput menyambut kedatangan Papa Aksa.
"Selamat siang Pak, Bu," ucapnya ramah.
"Selamat siang juga Nak," jawabnya senyum.
"Maaf Nek, Kek, Fany telat," ucapnya ketakutan.
"Gak apa-apa, Nenek gak marah kok," jawabnya saat melihat Fany ketakutan.
Fany pun lega saat Neneknya tidak marah, dan Fany pun bergegas ke mobil untuk mengambil Baju pemberian oleh Papa Aksa.
"Ayok silahkan masuk Nak," ucapnya ramah.
"Iya Bu," jawabnya.
"Maaf ya Bu, Fany agak lama karena Kami singgah sebentar ke Butik," ujarnya.
"Gak apa-apa Nak, yang penting Fany sudah sampai ke rumah," ucapnya.
__ADS_1
Fany pun menghampiri Kakek dan Neneknya serta Papa Aksa keruang tengah sambil membawa bungkusan Baju.
"Ini ada Baju buat Kakek dan Nenek," ucap Fany.
Wajah Kakek dan Nenek Fany nampak senang sambil melirik Papa Aksa yang duduk berdampingan dengan Fany.
"Terimakasih ya Nak, semoga banyak rejeki," ucapnya senang.
"Sama-sama Pak, Bu," jawabnya.
"Tau gak Nek, harganya sangat mahal hingga Om Aksa menghabiskan uang sepuluh juta untuk beli baju Kita," tuturnya semangat.
"Ya Allah, sayang kali duitnya," ucapnya dengan mata terbelalak.
"Gak apa-apalah Pak, Bu, anggap saja sebagai hadiah," jawabnya.
"Hehe, Ibu bisa saja," lirihnya tertawa.
"Iya Nak, Ibu gak bohong," ucapnya tegas.
"Sudahlah Bu, sekali-kali beli Baju mahal kan gak apa-apa," jawabnya.
"Tapi ini berlebihan Nak, Ibu jadi gak enak," ucapnya.
Papa Aksa bahagia melihat Kakek dan Nenek Fany tersenyum, ia pun ikut merasakan apa yang dirasakannya.
"Pak, Bu, terimakasih ya buat makan siangnya, makanannya enak," ucapnya.
"Syukurlah, kalau Kamu suka Nak," jawabnya senyum.
__ADS_1
"Masakan Ibu memang enak, menggugah selera makan," ujarnya.
"Kalau mau biar Fany antar setiap hari," ucapnya.
"Gak ngerepotin Bu," jawabnya.
"Gak Nak," ujarnya.
Fany tersenyum saat melihat Kakek dan Neneknya, menyukai Papa Aksa membuat ia yakin tidak ada masalah saat menjalin hubungan dengan Papa Aksa.
"Fany, ayok buatkan minum," perintah Neneknya.
"Oh iya, Fany lupa," ucapnya tersipu.
"Gak usah, Om masih kenyang," jawabnya sambil melirik Fany.
"Serius Om," ucapnya sambil menatapnya dengan manja.
"Iya loh," jawabnya sambil menarik tangan Fany untuk kembali duduk disampingnya.
Getaran cinta melanda sekujur tubuhnya, saat tangan kekarnya menyentuhnya membuat wajahnya berkeringat, tatapannya yang sendu meluluhkan hatinya hingga ia tak bisa berkata-kata apa-apa.
Canda tawa membuat suasana semakin hangat dan mereka nampak akrab satu sama lain, membuat Papa Aksa betah untuk berlama-lama hingga ia lupa dengan waktu. Tiba-tiba Ponsel Papa Aksa berdering, ia pun mengambil Ponselnya dan menatapnya dengan panik.
"Dia lagi," bisiknya dalam hati sambil menonaktifkan Ponselnya.
_______________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1