
Kini ekspresi Keysa menjadi lebih tenang dibandingkan tadi, detak jantungnya kembali normal saat rasa rindunya kepada Mamanya terobati saat menziarahinya. Senyum manis terukir indah di bibirnya yang tipis itu, sesekali ia melirik Papanya dengan harapan Papanya juga merasakan apa yang dirasakannya saat ini.
"Pa, hari ini rasanya Keysa sangat bahagia," ucapnya senyum.
"Oh ya?" jawabnya meledek.
"Keysa, serius Pa," ujarnya manja.
"Bolehkan Papa tau kenapa Kamu bahagia?" tanyanya penasaran.
"Semenjak Ziarah ke tempat Mama Keysa sepertinya tenang Pa," jawabnya tegas.
"Syukurlah, Papa juga merasakan hal yang sama denganmu," ujarnya.
"Yes, ternyata filing ku gak salah," ucapnya ketus.
"Pintar Anak Papa ya, sudah pakai filing segala," jawabnya.
"Emang Keysa pintar Pa, baru tau ya!" ucapnya tertawa.
"Papa baru sadar hari ini, ternyata Putri Papa yang cantik ini pintar," jawabnya senyum.
"Papa ngeledek terus, tau gak," lirihnya manja.
Papa Aksa tertawa sambil mencubit hidungnya yang mancung dengan gemasnya, melihat Keysa bahagia rasanya hatinya senang dan menginginkan senyum itu setiap hari sebagai kebahagiaan tersendiri buatnya yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Kita langsung pulang ya?" tanya Papa Aksa.
"Emang Kita mau kemana Pa?" tanyanya.
__ADS_1
"Terserah Keysa mau kemana," jawabnya.
"Pulang saja Pa, Keysa mau mandi gerah," ujarnya.
"Oh, begitu ya," lirihnya sambil melajukan Mobilnya lebih cepat lagi.
Papa Aksa ingin mengajak Keysa ketempat Fany, tapi ia tidak ingin merusak kebahagiaanya dengan mengajaknya berkunjung ke Rumah Fany, dan ia pun mengurungkan niatnya dan menuruti keinginannya untuk segera kembali ke Rumah.
Setelah beberapa menit, Mobil Papa Aksa pun memasuki pekarangan Rumahnya dan langsung memarkirkan Mobilnya ke Garasi.
"Oke, Kita sampai," ucap Papa Aksa.
"Lama juga Kita ya Pa," jawabnya sambil melirik jam tangannya.
"Gak apa-apa yang penting Kamu bahagia," ujarnya sambil membuka pintu Mobilnya.
Mereka pun bergegas masuk dengan wajah bahagia saat mengunjungi Makam Mamanya.
"Iya, Papa juga mandi dulu," jawabnya sambil menuju Kamarnya.
Tiba-tiba Bu Zana menghampiri Papa Aksa dengan wajah sedihnya.
"Pak, kenapa gak ajak Ibu Ziarah," ucapnya sedih sambil menundukkan kepalanya.
"Aduh, maaf ya Bu soalnya tadi perginya tiba-tiba, jadi gak kepikiran ngajak Ibu," jawabnya lembut.
"Ibu juga pengen Ziarah ke Makam Bu Retno," ujarnya.
"Maaf ya Bu, lain kali pasti Kita ngajak Ibu," ucapnya merasa bersalah.
__ADS_1
"Benar ya Pak, jangan lupa," pintanya.
"Iya Bu, ya sudah Saya masuk dulu ya," ucapnya sambil menepuk pundaknya.
"Silahkan Pak," jawabnya kesal.
Bu Zana memang sangat sedih saat mengetahui Papa Aksa dan Keysa pergi Ziarah ke Makam Bu Retno, karena ia juga merasa kehilangan dengan kepergiannya untuk selama-lamanya, ia pun beranjak dan kembali ke Dapur untuk menyiapkan makan malam, ia sangat menyayangkan kenapa ia tidak bisa ikut untuk ziarah ke Makam Bu Retno Wanita yang sangat cantik dan baik itu.
Bu Zana pun duduk termenung sambil membayangkan wajah cantik Bu Retno, hingga ia lupa dengan masakannya, ia tidak menyadari aroma gosong yang menyengat di seluruh ruangan hingga Papa Aksa terganggu dengan aroma yang sangat menggangu itu hingga ia keluar Kamar menuju Dapur.
Alangkah terkejutnya ia saat melihat masakan Bu Zana yang sudah gosong sambil mematikan Kompornya.
"Ya ampun Bu, masakannya gosong," ucapnya membuat Bu Zana panik.
"Maaf Pak, Ibu lupa," jawabnya ketakutan.
"Ibu kenapa?" tanyanya penasaran.
"Ibu sedih tidak ikut Ziarah Pak," ujarnya tersendat.
Papa Aksa pun semakin merasa bersalah saat tidak mengajaknya Ziarah, dan mengerti apa yang dirasakannya hingga ia tidak memarahinya.
"Gak usah sedih ya Bu, mungkin waktu dekat ini Kita akan Ziarah bersama Keysa dan Fany," ucapnya untuk menghibur Bu Zana.
"Serius Pak," jawabnya sambil mengangkat wajahnya.
"Iya Bu," ujar Papa Aksa senyum.
Bu Zana pun kembali tersenyum dan membereskan masakannya yang gosong dengan rasa bersalah.
__ADS_1
_________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏