
Perut Papa Aksa mulai terasa lapar, membuatnya terbangun dan beranjak ke luar menuju meja makan.
"Bu Zana, masak apa hari ini?" tanyanya.
"Daging rendang Pak, mau makan sekarang biar Ibu rebus Sayurnya," ucapnya.
"Iya Bu, sebentar Saya mandi dulu," ujarnya sambil meninggalkan Bu Zana yang masih berdiri tegak di pintu.
"Iya Pak," ucap Bu Zana.
"Keysa, dimana Bu?" tanyanya.
"Di Kamarnya Pak," jawabnya.
"Tolong panggil ya Bu, biar makan," ujarnya.
Bu Zana tidak menjawab hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, Papa Aksa sangat menghormati Bu Zana, dan sudah menganggapnya sebagai Orang tuanya sendiri hingga selalu makan bersama di meja makan tanpa memandang Bu Zana hanya sebagai seorang pembantu Rumah tangganya.
Bu Zana pun beranjak menuju Dapur untuk merebus Sayur Bayam kesukaan Papa Aksa, setelah beberapa saat Sayur pun siap dihidangkan, dan Bu Zana segera memanggil Keysa ke kamarnya.
Tok,,, tok,,, tok.
"Keysa, makan yok," panggil Bu Zana.
"Keysa, Gak lapar Bu,' jawabnya.
"Bapak, sudah nunggu di meja makan," ujarnya.
Keysa pun tidak menjawab, saat ia mendengar Papanya sudah menunggu di meja makan, ia langsung keluar dan mengikuti Bu Zana ke meja makan.
"Sudah lama nunggu Pa?" tanyanya.
"Gak, Papa juga baru siap mandi," jawabnya.
__ADS_1
"Oh, kirain sudah lama," ujarnya sambil duduk di samping Papanya.
"Ayok Bu, Kita makan lapar ni," ucapnya.
"Sebentar lagi Pak," jawabnya.
"Kenapa Bu?" tanyanya.
"Ibu tadi banyak minum Kopi," jawabnya.
"Jangan biasakan loh Bu ngopi terus, ingat umur," ucapnya senyum.
"Sekali-sekali kok Pak," jawabnya.
"Oke Bu, Saya duluan ya," ucapnya ramah.
"Silahkan Pak," jawabnya.
"Tumben, Bu Zana ngopi?" tanya Keysa pada Papanya.
"Ngantuk kali," jawabnya.
"Tapi sepertinya Bu Zana tidak tahan ngopi loh Pa," ujarnya.
"Sudahlah, gak mungkin Bu Zana berbohong," ucapnya tegas.
"Iya juga ya Pa," jawabnya.
Papa Aksa pun makan dengan lahapnya hingga keringatnya bercucuran membasahi wajahnya yang tampan, semenjak Istrinya meninggal Bu Zana mengambil peran Istrinya untuk menyiapkan makanan buat Keysa dan Papanya, karena ia sangat pintar masak hingga Istrinya Bu Retno juga kecipratan.
"Lahap benar makannya Pa?" tanya Keysa.
"Iya, makanannya enak jadi nambah terus," jawabnya senyum.
__ADS_1
Fany pun menatap Papanya tersenyum, sambil membayangkan wajah Mamanya duduk di samping Papanya menikmati makanan kesukaan Papanya.
"Andaikan Mama masih hidup, pasti meja makan ini ramai dengan canda tawa," bisiknya dalam hati.
"Loh, makan kok menghayal," ucap Papanya membuat Keysa kaget.
"Gak Pa, Keysa cuma teringat Mama," ucapnya.
"Sudahlah, Mamamu sudah tenang di sana," jawabnya sedih.
"Iya, tapi Keysa sampai sekarang tidak percaya kalau Mama sudah pergi Pa," lirihnya.
"Papa, mengerti tapi Kita tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, karena bagaimanapun Mamamu tidak mungkin bisa kembali lagi," tuturnya.
"Pa, bagaimana kalau kita Ziarah ke makam Mama," ucapnya semangat.
"Iya, Papa juga ingin Ziarah setelah kejadian semalam," jawabnya.
"Hore, akhirnya ketemu Mama," ujarnya spontan.
"Siap-siaplah, sebentar lagi kita berangkat," ucapnya.
"Beres Pa," jawabnya sambil melompat-lompat sebagai luapan rasa bahagianya.
"Dasar Anak manja,' gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
Papa Aksa nampak bahagia saat melihat Keysa tersenyum, karena senyumnya merupakan kebahagiaan tersendiri yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
______________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
"
__ADS_1