Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 175


__ADS_3

Fany menjerit sembari memanggil Keysa dan Bu Zana sambil menangis.


"Ada apa Bu?" tanya Bu Zana panik.


"Bapak, Bu, masuk Rumah Sakit," jawabnya menangis.


"Ya Tuhan, Bapak kenapa lagi, Bu?" tanyanya sedih.


"Kata Karyawannya, Bapak pingsan, Bu," jawabnya.


"Mudah - mudahan, Bapak baik - baik saja, Bu," ucapnya berharap.


"Doakan ya, Bu," Jawabnya singkat.


"Ya sudah, Ibu cepat berangkat," perintah Bu Zana.


"Keysa, dimana, Bu?" tanyanya melirik semua ruangan.


"Keysa di kamarnya, nanti kami menyusul, Bu," jawabnya.


Fany langsung ke Rumah Sakit, sesampainya di Rumah Sakit Papa Aksa sudah siuman, namun dia sudah merasakan tidak bisa apa - apa lagi, karena kepalanya semakin sakit dan matanya mulai berkaca - kaca menahan rasa sakitnya.


Malam harinya Keysa, Fany dan Bu Zana berkumpul, mereka semua menunggui Papa Aksa yang terbaring lemah di ranjangnya, Fany terus menunggui dan duduk di samping Papa Aksa yang terlihat lemas tak berdaya, sementara Bu Zana dan Keysa pulang kerumah mengambil beberapa keperluan selama Papa Aksa di Rumah Sakit, Fany terus menangis melihat Suaminya sakit.


"Sayang, Keysa di mana?" tanyanya.


"Keysa pulang sebentar, Mas," jawabnya.

__ADS_1


"Sayang, pandanganku gelap, sepertinya tidak bisa melihat lagi," ujarnya.


"Sebaiknya istirahat saja, Mas, nanti sore Dokter akan memeriksanya," ucapnya lembut.


"Oh," jawabnya.


"Jangan banyak bergerak dulu, Mas," perintah Fany.


"Maafkan, Mas, selalu merepotkan mu, rasanya Mas gak kuat lagi," ucapnya.


"Sudahlah Mas, jangan bicara yang aneh - aneh, Mas pasti sembuh," jawabnya meyakinkan.


"Tidak Sayang, Mas gak kuat," lirihnya.


"Dokter pasti bisa, Mas, percayalah," ucapnya.


Fany mencoba tenang dan meyakinkan Papa Aksa, ia pasti bisa melewati masa - masa sulitnya itu.


Papa Aksa menatap Fany dalam - dalam, menggenggam tangannya sekuat tenaga, dengan tatapannya yang menggoda.


"Andaikan Mas meninggal? apa kamu menikah lagi?" tanyanya.


"Iya Mas, makanya semangat agar kita bisa hidup sampai Kakek, Nenek," jawabnya mengancam.


"Iya Sayang," ujarnya.


Setelah beberapa saat, Keysa dan Bu Zana tiba di Rumah Sakit, dengan segala perlengkapannya, senyum manis menghiasi bibirnya yang mungil lalu menghampiri Papanya sambil menangis.

__ADS_1


"Pa, cepat sembuh, ya," ucapnya tersedu.


"Doakan Papa, ya," jawabnya singkat.


"Tanpa Papa minta, Keysa selalu mendoakan yang terbaik buat, Papa," lirihnya.


"Terimakasih Putri kecil, Papa," ujarnya sembari mencubit pipinya.


"Sama - sama, Pa," ucapnya senang.


Raut wajah sakit sama sekali tidak terlihat dari wajahnya, saat Keysa hadir dengan seribu senyum, wajahnya tampak berbinar - binar sebagai luapan rasa bahagianya melihat Papanya sudah siuman.


"Papa bahagia melihat kalian akur, duduk berdampingan merawat, Papa," ucapnya senyum sembari menatap Fany dan Keysa secara bergantian.


"Iya, Pa," jawabnya sambil melirik ke arah Fany dengan tatapannya yang sinis.


"Mas, jangan banyak bicara dulu," ujarnya mengalihkan perhatiannya.


"Iya, Sayang," ucapnya.


Perasaan haru menyelimuti hatinya saat melihat perubahan pada Keysa, ia nampak baik dan lembut tanpa memperlihatkan sikapnya yang kasar pada Fany, ia menarik tangan Keysa dan Fany lalu menciumnya dengan lembut.


"Kalian berdua adalah penyemangat hidupku, jadi jangan pernah menyakiti perasaanku lagi, karena umurku tidak panjang lagi," tuturnya sedih.


"Jangan bicara seperti itu Mas," ucapnya sedih.


Detak jantung Fany, berpacu lebih cepat dari biasanya dan ada setitik rasa kecewa mendengar ucapan Papa Aksa dengan tatapannya yang kosong, Keysa menangkap tatapan kosong Fany lalu menatapnya tajam seakan ingin menelannya hidup - hidup.

__ADS_1


******************


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏


__ADS_2