
Hidup ini memang aneh dan selalu penuh dengan misteri yang kadang sulit diterjemahkan dengan akal sehat.
"Om, sebaiknya Keysa dibawa berobat," ucap Fany.
"Sebenarnya Keysa, gak sakit," jawabnya.
"Jangan bercanda Om," lirihnya.
"Om, tak ingin Kakek dan Nenekmu tersinggung dengan sifat Keysa," ucapnya.
"Tapikan gak harus bilang sakit Om," jawabnya.
"Sudahlah, lupakan saja," lirihnya.
Kakek dan Neneknya Fany nampak panik, dan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya diam menunggu Fany dan Papa Aksa.
"Bagaimana keadaan Keysa?" tanyanya.
"Sudah baikan Bu," jawab Papa Aksa.
"Syukurlah, Keysa gak apa-apa," lirihnya.
"Maaf Pak, Bu, makan malamnya jadi terganggu," ucapnya.
"Gak apa-apa kok, ayok kita makan," jawabnya senyum.
"Maaf ya Nak, cuma sambal terasi sama goreng tempe sama ikan asin," ujarnya.
"Ini makanan paling enak Bu," lirihnya sambil menyantap makanannya.
Fany tersenyum saat melihat Papa Aksa menyantap makanannya dengan lahap hingga wajahnya berkeringat.
"Pedas ya Om?" tanya Fany.
__ADS_1
"Gak, mantap," jawabnya.
"Fany, ambilkan air dingin Om?" tanyanya.
"Boleh," jawabnya tanpa menoleh kearahnya.
Fany pun beranjak menuju lemari es, lalu menuangkannya kedalam gelas.
"Ini Om," ucapnya.
"Terimakasih ya," jawabnya singkat sambil meneguk airnya sampai habis.
"Sama-sama Om," lirihnya.
Makan malam rasanya sangat spesial baginya, walau hanya menikmati makan ala kadarnya tapi rasanya nikmat yang sulit diucapkannya dengan kata-kata. Hatinya tenang saat bersama dengan Fany, itu semua terlihat dari sorot matanya yang berbinar-binar dan senyum manis menghiasi bibirnya yang tipis.
"Terimakasih ya Bu, buat makan malamnya, enak bangat," ucapnya.
Usai makan malam, Kakek Fany pun kembali mengajak Papa Aksa duduk di teras Rumah sambil menikmati indahnya Rembulan. Papa Aksa nampak bahagia saat Kakek dan Nenek Fany menyambutnya dengan senang hati. Senyum dan tawa menghiasi malam yang indah itu dihiasi dengan taburan bintang-bintang.
"Pak, apa gak lebih baik jualan didepan rumah saja?" tanyanya.
"Iya sih Nak, tapi Bapak belum punya duit untuk membangun tempatnya," jawabnya.
"Kalau Bapak mau, biar saya bantu," ujarnya.
"Gak perlu Nak," ucapnya tegas.
"Pak, Saya ikhlas," jawab Papa Aksa senyum.
Kakek Fany, menundukkan kepalanya dengan penuh rasa haru, saat Papa Aksa menawarkan bantuan untuk segera membangun pondok tempat nya berjualan.
"Nak, pasti sangat membutuhkan biaya yang banyak,"
__ADS_1
"Gak apa-apa Pak, sekarang Bapak dan Ibu sudah tua, pasti sangat melelahkan jika harus berangkat Subuh sambil mendorong gerobak," tuturnya.
"Sudah biasa Nak," ujarnya.
"Iya Pak, Saya harap Bapak tidak menolak niat baik Saya," ucapnya.
"Sebentar ya Nak, Bapak panggil Ibu, dan Fany dulu," lirihnya sambil beranjak dari duduknya dengan senang.
Papa Aksa nampak senang, saat melihat wajah Kakek Fany yang nampak bahagia, ada kepuasan tersendiri saat melihat orang bahagia dengan perbuatannya.
"Bu, Bu,, ada kabar gembira," ucapnya sembari berteriak.
"Kabar gembira apa toh Pak," jawabnya kaget.
"Itu, Papanya Keysa mau buat pondok jualan Kita Bu," ucapnya gugup.
"Ah masa toh Pak?" tanyanya.
"Iya Bu, serius," jawabnya.
Mendengar ucapan Kakeknya, Fany pun menghampiri Papa Aksa yang duduk santai di teras Rumah.
"Om, apa benar ucapan Kakek tadi?" tanyanya.
"Iya Fany, anggap saja sebagai ucapan terimakasih Om pada Kakek dan Nenekmu yang sudah memberimu ijin untuk menemani Keysa," jawabnya.
"Tapi itu berlebihan Om," ujarnya.
"Bagi Om tidak, Om malah senang membantu orang yang membutuhkan," ucapnya sembari menatapnya dengan tatapan sendu.
_____________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1