
Jantung Papa Aksa rasanya mau copot, ia hanya diam saat pengemudi Angkot menghampirinya sambil mengetuk Pintu Mobilnya dengan kuat, diiringi dengan ucapannya yang menyakiti perasaannya, tapi ia berusaha tenang dan menghadapinya dengan kepala dingin, Papa Aksa pun menarik nafasnya dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya.
"Ya Allah, terimakasih Kami bisa terhindar dari kecelakaan ini, jaga hatiku ya Allah agar Aku bisa tetap tenang untuk menyelesaikan semua ini dengan kepala dingin," bisiknya dalam hati dengan sungguh-sungguh.
Setelah beberapa saat ia membuka pintu Mobilnya, dengan muka sangar supir Angkot serasa ingin menelannya hidup-hidup dengan sorotan matanya yang liar.
"Oh, ternyata ini Orangnya," ucapnya kasar sambil menunjuk hidung Papa Aksa.
"Ya Allah, tolong Aku jangan sampai tersulut emosi,' gumamnya setengah berbisik.
"Apa, melawan ya," ucapnya mengancam.
Papa Aksa menepis Tangannya dan mengajak ke Halte untuk bicara baik-baik.
"Pak, tolong jangan main kasar ya, ayok Kita bicarakan dengan baik-baik," ucapnya lembut sambil menarik tangan Supir Angkot.
"Gak, Kamu harus ganti rugi," jawabnya sinis dengan sorot matanya yang tajam.
"Iya Pak, Saya akan bawa Mobil Bapak ke bengkel, dan semua biaya Saya tanggung," ujarnya.
Supir Angkot pun terdiam dan mengikuti Papa Aksa ke Halte dengan muka sangarnya.
"Ayok Pak, silahkan duduk," ucapnya senyum.
__ADS_1
Supir Angkot pun mulai tenang, ia menatap Papa Aksa dalam-dalam hingga mata mereka saling memandang.
"Pak, perkenalkan Saya Aksa," ucapnya sambil menjabat tangannya.
"Saya Ridho Pak," jawabnya dengan kepala tertunduk.
"Bapak tinggal dimana?" tanyanya.
"Di jalan Pattimura Pak," jawabnya singkat.
"Sudah berkeluarga?" tanyanya.
"Belum Pak, Saya seorang Mahasiswa," jawabnya tersipu.
"Seorang Mahasiswa tapi cara bicaranya tidak menunjukkannya ia seorang yang berpendidikan," bisiknya dalam hati sambil menatapnya dalam-dalam.
"Tempat Saudara Pak," jawabnya.
"Oh, jadi Angkot itu milik Kamu?" tanyanya.
"Gak Pak, itu punya Saudara Saya," jawabnya sambil membuka topinya.
"Oh begitu ya," lirihnya.
__ADS_1
"Maaf ya Pak, atas ucapan ku yang tidak sopan," ucapnya gugup.
"Tapi lain kali jangan begitu ya, jaga bicaranya karena semua masalah bisa dibicarakan dengan baik-baik," jawabnya.
"Saya panik Pak, hingga tidak bisa mengontrol emosi Saya," ujarnya.
"Saya ngerti, tapi sebagai seorang Mahasiswa Kamu harus bisa mengendalikan emosi Kamu," ucapnya tegas.
"Iya Pak, mungkin itu semua karena pikiran Saya lagi kalut Pak, uang Kuliah Saya sudah Tiga bulan nunggak, karena Orang tua Saya lagi sakit di Kampung," jawabnya tersendat.
"Sakit apa?" tanyanya penasaran.
"Struk Pak, karena Saya hanya memiliki Ibu, karena Ayah Saya sudah lama meninggal, bahkan Saya tidak mengenalnya," jawabnya sedih.
Papa Aksa menepuk pundaknya, dan merasa iba atas apa yang menimpanya, ia terharu melihat perjuangannya yang gigih demi masa depannya.
"Tetaplah berjuang, karena dibalik semua ini ada rencana Tuhan yang indah untukmu, jangan pernah menyerah buat Ibumu bahagia, dan Kamu harus berhasil agar semua pengorbanannya tidak sia-sia," ucapnya tegas.
"Terimakasih Pak, Saya akan mengingat semua pesan Bapak, sekali lagi Saya minta maaf," jawabnya sambil memegang kedua tangan Papa Aksa dengan rasa bersalah.
"Sebelum Kamu minta maaf, Saya sudah memaafkan mu," ujarnya.
Papa Aksa pun menatapnya dalam-dalam, ia kagum dengan ketampanannya, tapi dibalik senyumnya ia menyimpan sejuta kesedihan itu terlihat dari sorot matanya yang kosong, karena Mata tidak bisa berbohong dengan apa yang Kita alami.
__ADS_1
_____________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏