
Keysa mendorong Bu Zana dengan keras, berbalik dengan sedih, ia pergi sebelum air matanya jatuh, dia melewati Fany yang kebetulan lewat, dan segera memasuki kamarnya.
"Keysa..."
Fany menatap punggung Keysa, berteriak dengan penasaran, ia berdecak kesal panggilannya tidak dihiraukannya.
"Huh..." Fany menghembuskan nafas dengan kasar."
Bu Zana menghampiri Fany, dan menyentuh pundaknya lembut.
"Bu, yang sabar ya," ucapnya hati - hati.
"Entahlah, mungkin masa - masa ini akan sirna seiring berjalannya waktu," jawabnya.
Keysa duduk sendirian di sudut jendela kamarnya, menatap wajah Fany dan Bu Zana yang sedih, dibawah sinar cahaya lampu yang terang benderang, angin berhembus perlahan ke arah jendela, rasa frustasi perlahan hinggap di hatinya.
"Keysa!"
Terdengar suara seseorang memanggilnya.
Keysa menoleh kebelakang dan seketika matanya lembab, hatinya seperti ditusuk keras dengan jarum hingga sakitnya menyebar hingga seluruh tubuhnya.
Keysa mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah Bu Zana Wanita paruh baya itu, seolah ingin mengingat setiap garis di wajah itu dengan lekat di dalam hatinya.
Bu Zana berusaha menenangkan dirinya dalam diam, setelah itu barulah ia tersenyum lebar dihadapan Keysa, ia memainkan jemarinya untuk mengurangi kegugupannya.
"Keysa, ayok lihat, Papamu," ajaknya lembut.
__ADS_1
Dengan terbata - bata Keysa menjawab," nanti saja, Bu.
"Keysa, apa kamu tidak kasihan dengan apa yang dirasakan, Papamu?" tanyanya.
"Keysa, bingung, Bu," lirihnya.
"Kenapa harus bingung? bukankah kamu sangat menyayangi, Papamu?" tanyanya.
"Iya Bu, tapi aku tak sudi lihat Wanita itu, Bu," jawabnya menangis.
"Keysa, ini mungkin jalan Tuhan untuk menyatukan kalian berdua," ujarnya.
"Kenapa harus mengorbankan Papa, Bu," teriaknya.
"Kita tidak akan pernah tau apa yang terjadi dalam hidup kita, itu sudah diatur yang di atas," ucapnya mengingatkan.
"Tuhan sangat adil, dia menggantikan Mamamu dengan seorang Wanita yang baik dan tulus menyayangimu, Keysa!" ucapnya tegas.
"Tapi kenapa harus Wanita itu, Bu?" tanyanya.
"Andaikan Papamu menikah dengan Wanita lain, mungkin kamu akan dipisahkan dari Papamu, dan hanya memandang harta Papamu saja, tapi Fany tidak, dia tulus menyayangimu dan mencintai Papamu tanpa memandang harta yang dimiliki Papamu," tuturnya.
"Bisa saja dia pura - pura, Bu," ucapnya sinis.
"Tidak Keysa, percayalah sama, Ibu," jawabnya sembari memeluknya.
"Keysa tidak percaya, Bu," ujarnya.
__ADS_1
"Lihat Fany, siang dan malam terus berdoa untuk kesembuhan Papamu, sementara kamu tetap membencinya, dimana hati nurani?" ucapnya kesal.
"Keluar...!" teriak Keysa sambil mendorong tubuhnya keluar.
"Iya, Ibu akan keluar, tapi ingat! penyesalan selalu datang terlambat," ucapnya tegas.
"Bodoh amat," jawabnya sembari berteriak.
"Dasar gila, harusnya ia bersyukur Papanya menikah dengan Fany, coba Papanya menikah dengan Wanita lain, cuma baik di depan Papanya saja," gumamnya dengan mulut mulut komat - Kamit.
Bu Zana menarik nafas dalam - dalam, menikmati semilir angin yang menyejukkan wajahnya, ia duduk sambil memohon kepada Allah, agar Keysa berubah dan menyadari perbuatannya selama ini.
Lalu Fany menghampiri Bu Zana yang sedang duduk frustasi, lalu memijit kepalanya menghalau rasa pening di kepalanya, ia tidak menyangka Keysa menyakiti hatinya.
"Aku yakin Ibu pasti bisa melunakkan hati Keysa pelan - pelan," ujar Fany memberikan semangat pada Bu Zana.
"Ibu akan berusaha semaksimal mungkin, Bu," ucapnya tegas.
"Terimakasih Bu, Ibu banyak berkorban untuk Keluarga kami," jawabnya haru.
"Ah, Ibu, bisa saja," ujarnya senyum.
Sementara Keysa, kelelahan menangis, ia pun tertidur dengan segala luka dihatinya, sejenak istirahat dari perjalanan hidupnya yang dipenuhi dengan derai air mata yang tidak berkesudahan.
*********
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏❤️
__ADS_1