Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 189


__ADS_3

Setelah Sholat Dzuhur, Fany dan Papa Aksa meninggalkan Rumah Sakit Kanker Mangunkusumo. Papa Aksa harus menjaga agar tidak stres, baik stres fisik maupun psikis, sebab stres bisa memperburuk perjalanan pengobatannya.


Fany dengan manja menggandeng tangan Papa Aksa keluar dari Rumah Sakit, ia ingin menunjukkan pada Dunia bahwa ia sangat mencintai Papa Aksa, dengan cepat Fany membukakan pintu Mobil dan mendudukkannya dengan hati - hati.


"Terimakasih, Sayang," ucapnya lembut.


"Sama - sama, Sayang." jawabnya manja.


"Aku sadar, aku hanya seorang Suami yang tidak berguna, apa kamu masih mencintaiku dengan keadaanku sekarang?" tanyanya setengah berbisik.


"Percayalah, perasaanku tidak pernah berubah sedikit pun dan masih seperti dulu, sekalipun dalam keadaan sakit." jawabnya.


"Benarkah itu, Sayang?" tanyanya memastikan.


"Dirimu yang sukses membawaku terbang jauh mengenal cinta, setia dan pengorbanan, aku bukanlah yang pertama hadir dalam hidupmu, tapi aku yakin aku akan jadi yang terakhir." tuturnya.

__ADS_1


"Melihatmu tersenyum adalah kebahagiaanku, maka dari itu aku tak pernah suka melihatmu sedih, aku mencoba menjadi yang terbaik agar di wajahmu akan terus terukir senyuman, tapi saat ini aku belum bisa mewujudkan itu semua." ucapnya sedih.


"Mas, apa yang kita lewati tentunya tidak mudah, apalagi aku hanya modal cinta terbesarku, sakit hati sudah biasa, kecewa sudah rutinitas semenjak aku terlahir kedua ini, apabila kamu berikan seluruh cintamu lalu, kamu berhasil maka kamu akan mendapat seluruh bahagia juga, tapi apabila kamu gagal, maka hilanglah seluruh cintamu. Begitulah yang kurasakan, tapi untungnya cintaku tak pernah ada habisnya, ia selalu muncul kembali, sekalipun hal yang buruk kudapat darimu, aku tau ini bodoh, tapi hatiku lah yang terus menginginkan ini, agar terus mencintaimu." jawabnya Fany.


Papa Aksa tersenyum, tidak ada yang berubah karena memang tidak pernah berpikir Fany berubah, ia baru saja mendengar ucapannya, ia hanya bisa mendesah sekian kalinya. Sepanjang perjalanan menuju pulang, tangan Papa Aksa menggenggam tangan Fany dengan erat, seakan tidak rela untuk melepaskannya walau hanya sedetik, tatapannya terus terkunci pada Fany, dan melanjutkan perjalanan pulang dalam keadaan hening.


Saat Mobil memasuki pekarangan Rumah, Fany seperti merasakan ada sebuah goresan luka yang menyayat hatinya, ia mencoba mengatur nafasnya yang tiba-tiba berat saat menoleh ke arah Taman, Keysa dengan santai duduk menikmati aroma Bunga, tanpa menyadari kedatangan kami.


Fany berusaha mengubah rasa takut, dan rasa perih menjadi sebuah keinginan dan harapan untuk terus bisa merasakan damainya malam ini, keinginan itu terus membara, dan tidak pernah padam meski hari - harinya di lewati dengan berbagai dinamika kehidupan.


Keysa menoleh, lalu memalingkan wajahnya dengan sinis.


"Keysa..., Papa pulang!" ucapnya sembari menjerit.


"Oh," jawabnya singkat meninggalkan Taman.

__ADS_1


Fany tidak ambil hati sikap cuek Fany, ia segera masuk ke kamar, membaringkan Papa Aksa di kasur, untuk menghilangkan rasa penatnya.


Prang...."


Suara piring pecah membuka suasana malam, wajah Keysa terlihat merah sebagai luapan amarahnya, piring yang barusan dilemparnya pecah berkeping-keping.


"Aku tak suka Wanita itu ada di rumah ini," teriak Keysa.


Fany yang mengintip dari jendela terdiam, dengan linangan air mata di pipi, piring pecah membuatnya ketakutan setengah mati.


"Ya Allah, aku hanya ingin hidup damai dan bahagia bersama Orang yang kucintai, bersama Orang yang rela menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, dan anakku Keysa." gumamnya menangis.


********************


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2