
Tangis Fany pun tiba-tiba pecah saat Papa Aksa menghampirinya dengan rasa iba dan rasa bersalahnya.
"Om tidak bermaksud untuk melukai hatimu, tapi Om hanya ingin semua baik-baik saja," ucapnya lembut.
"Fany gak suka ada dusta diantara Kita, setidaknya Om cerita sebelum semua ini terjadi," ucapnya tersedu.
"Om salah, dan tidak akan mengulanginya lagi," lirihnya.
"Fany sangat menyukai kejujuran, walaupun kadang menyakitkan tapi rasa sakit itu tidak sampai menusuk ke ubun-ubun," ucapnya tegas tanpa menoleh kearahnya.
"Om kesal dengan Perempuan itu, ia sudah membuat kesalahpahaman diantara Kita," jawabnya.
"Benar, Om gak kenal dengan Wanita itu?" tanyanya dengan sorot matanya yang sinis.
"Iya, percayalah, karena Om tipe laki-laki yang tidak suka mengumbar kata cinta pada setiap Wanita," ucapnya tegas.
"Mudah-mudahan," jawabnya ketus.
"Fany, Om tau kamu kecewa, tapi Kamu harus yakin bahwa Om tidak akan pernah menyakiti hatimu dengan menduakan mu, karena Om tau gimana sakitnya dikhianati," tuturnya.
Fany pun terdiam, dengan detak jantung lebih cepat dari biasanya dan ada setitik rasa kecewa saat Papa Aksa tidak jujur dengannya.
__ADS_1
"Kejadian hari ini, sebagai pelajaran untuk Kita, karena kejujuran itu sangat penting dalam menjalani suatu hubungan agar tetap langgeng," ucapnya.
Papa Aksa tersenyum, dan terharu mendengar ucapan Fany yang sangat menyentuh membuat Papa Aksa semakin mencintainya dan ia sangat yakin, Fany adalah Wanita yang sangat cocok sebagai pengganti Istrinya.
"Terimakasih Sayang, walaupun usiamu masih muda tapi pemikiran mu lebih dari Orang dewasa," ucapnya terharu sambil mendekapnya.
"Gak usah memuji Om," jawabnya sambil mendorong tubuhnya yang kekar.
"Kata pujian itu memang pantas Kamu terima," lirihnya tersenyum.
"Fany gak suka dipuji Om," gumamnya.
"Terus maunya apa?" tanyanya.
"Siap, Tuan Putri," ucapnya sambil mencium keningnya dengan mesra.
Fany pun kembali tertawa, hatinya yang terbakar api cemburu mulai hilang saat Papa Aksa berusaha untuk menyakinkan nya bahwa Wanita yang meneleponnya itu sama sekali tidak dikenalnya. Mereka pun saling memandang dengan mesra hingga tubuh mereka saling berpelukan dengan untaian kata-kata cinta.
"Om, gak pulang?" tanyanya dengan manja.
"Kenapa? Kamu bosan denganku?" jawabnya.
__ADS_1
"Gak, soalnya sudah sore Om, kasihan Keysa menunggu," lirihnya.
"Sebentar lagi, Om masih kangen," ucapnya sambil memeluknya dengan kencang hingga membuat Fany sulit untuk bernafas.
"Masih banyak waktu Om," jawabnya.
"Iya, tapi Om masih ingin berduaan denganmu," ucapnya mendesah.
Sinar mentari tak mampu mengusik mereka yang kini masih saling berpelukan melepaskan rasa rindu yang selama ini menyiksanya, dan rasanya enggan untuk berpisah walau hanya sedetik.
"Kamu adalah kebahagiaanku, tanpamu Om tidak berarti apa-apa," ucapnya.
"Fany pun begitu Om, rasanya Aku adalah Wanita yang paling bahagia dan sempurna di dunia ini, semenjak Aku mengenalmu. Perhatian dan kasih sayangmu menjadi kekuatan ku untuk menjalani hari-hariku," jawab Fany sambil memejamkan kedua matanya saat mengutarakan isi hatinya yang sudah lama terpendam.
"Yakinlah, cinta dan kasih sayangku seutuhnya hanya untukmu seorang, takkan ada lagi yang sanggup menggantikan posisi Kamu di hatiku," lirihnya tersenyum sambil menatapnya dalam-dalam.
Fany pun menganggukkan kepalanya, hingga bibir mereka hampir bersentuhan, membuat Fany tersentak sambil melihat sekelilingnya. Sentuhan Papa Aksa hampir membuatnya lupa diri. Papa Aksa pun merasakan hal yang sama dengannya, tanpa mengingat keberadaan Kakek dan Nenek Fany.
____________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1
"
"