Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 178


__ADS_3

Ketika Papanya harus di rawat di Rumah Sakit, menjadi puncak dari segala kesedihannya, hari - hari yang ia lewati begitu kelam, yang harus tinggal seatap dengan Fany. Begitu sakit ketika ia melihat tetangganya berlibur bersama Mama dan Papanya, Keysa menjadi lemah dan sangat jarang berinteraksi dengan Orang di sekitarnya, ia malu ketika berpapasan dengan Orang - Orang karena ia memiliki seorang Ibu tiri.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Dadanya bergetar, air matanya pun menetes perlahan, Fany mengungkapkan perasaannya tepat setelah Azan Magrib, dadanya terasa sesak meski hanya dengan lewat ekspresi wajahnya yang sendu.


"Baru siap Sholat?" tutur Papa Aksa sembari tersenyum.


"Iya Mas," ucapnya singkat.


"Kok menangis?" tanyanya.


Papa Aksa, menghapus air di sudut matanya dan kembali menampakkan wajahnya yang lebih tenang, Papa Aksa selalu begitu, sikapnya tidak pernah berlama - lama untuk bersedih dan merasa putus asa, ia selalu kuat meski Fany belum pernah melihatnya menangis di depan matanya sendiri, namun semenjak Papa Aksa didiagnosa terkena penyakit Kanker seminggu yang lalu, ia pernah menangis beberapa kali.


Papa Aksa menangis bukan karena penyakit yang dikaruniakan Allah terhadapnya, tapi dia merasa belum bisa membahagiakan Fany dan Keysa, dan juga tidak bisa beraktivitas seperti sedia kala untuk menafkahi keluarganya.

__ADS_1


Papa Aksa pun tetap ingin berpuasa setiap hari, meskipun Fany melarangnya, dan ia selalu ingin menjaga Wudhu nya agar bisa membaca Alquran setiap waktu, ia selau resah jika membaca Alquran tidak sebanyak dari hari sebelumnya, dan ia membacanya terus menerus sebelum Dokter melarangnya karena keadaan fisiknya yang lemah.


Mungkin kondisi fisik Papa Aksa saat ini berbeda dari sebelumnya, namun Fany bisa melihat rasa semangat dan kekuatannya dalam menjalani suka duka kehidupan sama seperti biasanya. Fany tertampar atas perjuangan dan rasa ingin sembuh yang tak pernah padam, setelah Fany mengajarkan Papa Aksa untuk mendekatkan diri pada yang Maha Kuasa.


Dengan segala rasa kekhawatiran Fany atas kesembuhan Papa Aksa, dan segala doa yang selalu ia panjatkan untuk kesembuhannya, sebagaimana firman Allah SWT, bahwa prasangka Allah adalah sebagaimana prasangka hamba kepadanya, maka Allah pun tidak akan pernah berhenti berprasangka baik atas penyakit yang di derita oleh Papa Aksa saat ini. Allah yang maha menyembuhkan.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


Hari berlalu begitu cepat, hingga akhirnya Papa Aksa memutuskan untuk segera di rawat di rumah saja, walaupun Dokter melarangnya tapi Papa Aksa bersikeras untuk segera pulang.


"Maaf Pak, kondisi Bapak belum stabil," jawab Dokter.


"Tidak, Saya sudah baikan, Dokter," ujarnya.


"Terserah, Bapak saja tapi kalau ada apa - apa dengan Bapak itu tidak tanggung jawab Rumah Sakit," tuturnya.

__ADS_1


"Iya, Dokter," ucapnya senang.


Raut wajahnya tiba - tiba berubah, ia senang saat Dokter mengijinkannya pulang dengan segala konsekwensinya. Fany pun bergegas membereskan semuanya dan menyuruh salah satu Karyawan Papa Aksa untuk menjemputnya, lalu Fany membopong Papa Aksa keluar menuju Mobil yang sudah menunggu di luar Rumah Sakit.


Sesampai di Mobil, Fany terdiam menerawang, ingin berlari, lari ke tempat jauh, menjauh dari kenyataan pahit, kenyataan yang memaksanya untuk menelan segala bentuk rasa perih, pikirannya melayang entah kemana, hatinya sakit mengiris melihat Papa Aksa duduk lemas tak berdaya. Tiba - tiba Papa Aksa menoleh dan menyenggol lengan Fany membuatnya tersentak dari lamunannya.


"Sayang, kamu menyesal menikah denganku?" tanyanya lembut.


"Gak, Mas," jawabnya senyum.


"Dari tadi, Mas perhatikan kamu melamun terus," ujarnya.


********"***


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏

__ADS_1


__ADS_2