
Setelah beberapa menit, Kakek dan Nenek masih bungkam dan Papa Aksa berinisiatif untuk membuka pembicaraan lebih dulu.
"Kakek, Nenek sudah makan ya?" tanyanya senyum.
"Sudah," jawab Kakek singkat.
Kakek dan Nenek yang tadinya hanya menatap para undangan kemudian mengalihkan tatapannya ada Papa Aksa dan Fany.
Nak Aksa, Nak Aksa nggak menyesalkan menikah dengan Fany?" tanyanya gugup.
"Sama sekali tidak Kek," jawabnya dengan kening mengerut.
Kakek dan Nenek tersenyum lembut dan kemudian menatap langit yang sudah berubah menjadi jingga.
"Nak Aksa, Kakek dan Nenek disini sudah menyerahkan Fany sepenuhnya pada Nak Aksa, tolong jaga dia, Fany adalah Cucu Kakek dan Nenek satu-satunya yang sangat Kami sayangi, Nak, jangan sakiti dia, Fany masih kekanak-kanakan suka ngambek, jadi jangan membentaknya, karena ia tak suka dibentak, Kamu bisa janji tidak menyakiti hati Cucu Kakek?" tanyanya tegas.
__ADS_1
Papa Aksa terdiam sejenak dan kemudian menatap Kakek dan Nenek senyum.
"Saya gak bisa janji Kek, Nek, karena di dalam kehidupan berumah tangga kadang Kita tidak sengaja nyakitin perasaan pasangan Kita sendiri, tapi Saya akan berusaha selalu membuat Fany bahagia, meskipun nanti kadang membuat Fany juga jengkel sama tingkahku yang mungkin saja ia tidak suka, tapi dengan begitu Kami berdua bisa saling melengkapi, bukankah Suka dan Duka itu ada Kek? dan tantangan dalam pernikahan itu adalah melewatinya bersama. Tapi Saya akan berusaha menuntun Fany, menjaganya, dan melindunginya," jawab Papa Aksa.
"Terimakasih Nak," ujarnya haru.
"Sebelum menikah, Saya sudah berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi Suami Siaga untuk Fany, bukan Overprotektif, dan Saya tidak akan melarang Fany melakukan apapun yang ingin Fany lakukan asal benar-benar harus dipertimbangkan," ucapnya tegas.
Kakek menepuk mendengar ucapan Papa Aksa, ia pun menepuk pelan bahu Lelaki yang sudah menjadi pendamping hidup Cucu satu-satunya itu.
Setelah mengucapkan kalimat kepercayaannya itu, Kakek dan Nenek pamit dan meninggalkan Papa Aksa dan Fany, membiarkan menari dengan pikiran - pikiran indahnya.
Perasaan haru biru di hati Fany, hingga tak kuasa membendung air matanya, rasanya ia belum lama merasakan kasih sayang Kakek dan Neneknya, digendong, dibelai, terkadang Kakek dan Nenek memberi nasehat, marah ketika Fany melakukan sebuah kesalahan.
"Kok menangis Sayang, bukankah ini hari bahagia Kita," ucap Papa Aksa sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
"Fany sedih, Kakek dan Nenek selalu berprinsip tak apa hidup kekurangan secara Ekonomi asal kaya hati dan ibadah harus dijaga, karena hidup di dunia ini adalah bekal untuk hidup abadi diakhirat, semua itu melekat kuat diingatan Fany," jawabnya sedih.
"Kamu beruntung memiliki Kakek dan Nenek yang baik dan perhatian, seharusnya Kamu senang bukan menangis," ucapnya menggoda.
"Hehe, Fany cuma terbawa perasaan saja Mas," jawabnya.
Papa Aksa pun memeluknya dengan kencang sambil mencium keningnya, rasa bahagianya kian memuncak karena Fany kini sudah menjadi Istrinya.
"Jangan sedih lagi ya Istriku, Saya tidak tahan melihat Wanita yang kucintai menangis," ucap Papa Aksa mengingatkan.
"Iya Suamiku," jawabnya sambil membalas pelukannya.
Merekapun saling berpelukan dengan mata saling memandang, dengan sorot matanya yang berbinar-binar melanda hati dua sejoli itu, diiringi detak jantung yang berdetak kencang membuat mereka hanyut dalam buaian mimpi indahnya. Hangatnya pelukan tubuh kekarnya dan aroma Parfumnya membuat Fany lupa dengan sekelilingnya.
_________________________________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏