
Sosok yang rapi bak eksekutif muda adalah kesan yang didapat dari Papa Aksa, wajahnya yang tampan dan pembawaannya yang kalem dan serba sopan terlihat dari sikapnya sehari-hari, Sifat tegas tampak sebagai salah satu kepribadian kentalnya.
Burung-burung berkicau , mengiringi matahari yang mulai terbenam di ufuk Utara, sementara Kakek dan Neneknya Fany belum juga datang, gelisah dan rindu menyatu menghiasi hatinya yang sedang dilanda cinta. Beberapa kali Papa Aksa mencoba menghubungi Ponselnya tapi tetap tidak tersambung.
"Pa, pulang yok," ucap Keysa.
"Sabar ya, sebentar lagi mereka pasti pulang," jawabnya tegas.
"Keysa ngantuk Pa," lirihnya.
"Tidurlah di Mobil," ucapnya sambil menyodorkan kunci Mobilnya.
Keysa menghentakkan kakinya lalu beranjak menuju Mobil, dan menghempaskan tubuhnya melampiaskan kekesalannya.
"Aku benci,,,,,!" gumamnya kesal.
Matanya mulai berkaca-kaca mengingat semua apa yang terjadi padanya, rasa benci, kesal menyatu membuatnya rapuh tak berdaya dan ingin rasanya mengakhiri hidupnya agar terlepas dari semuanya.
"Oh Tuhan, begitu rumitnya hidupku ini,,! Aku muak," bisiknya dalam hati sambil menghela nafas panjang.
Sementara Papa Aksa nampak mondar-mandir sambil mengelilingi pekarangan rumah Kakek Fany sambil menunggu kedatangannya, sesekali melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah lima rasanya waktu berputar sangat lama. Rasa rindu yang terus memupuk membuat Papa Aksa ingin bertemu dengan Fany, wanita yang membuatnya jatuh cinta dengan segala kelebihannya, Fany mampu meluluhkan hatinya hingga ia tidak ingin berpisah walau hanya sedetik. Lalu Papa Aksa duduk termenung sambil membayangkan Fany ada bersamanya, ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama wanita yang sangat dicintainya dan melangkah bersama mengarungi bahtera rumah tangganya.
"Mudah-mudahan apa yang pernah diucapkannya tidak akan pernah berubah, Aku tidak sanggup hidup tanpanya," gumamnya penuh harap.
__ADS_1
Bayangan hidup bahagia bersama Fany mulai menari-nari di pelupuk matanya, hingga Tampa sadar membuatnya senyum-senyum sendiri dengan sorot matanya yang berbinar-binar.
"Kamu adalah Wanita yang luar biasa, kepribadian yang kamu miliki tidak jauh beda dengan Istriku yang sudah pergi meninggalkanku, kehadirannya membuat gairahku kembali hadir yang sempat hilang ditelan bumi," bisiknya dalam hati.
Saat Papa Aksa hanyut dalam angannya, tiba-tiba terdengar suara Motor memasuki pekarangan Rumahnya, jantungnya berdetak kencang dan menghampirinya. Wajah yang mulai keriput dengan tubuh yang tidak terurus tersenyum manis menyambut kehadirannya, sementara Fany dengan semangatnya mendorong gerobaknya tanpa menyadari kehadiran Papa Aksa.
"Selamat Sore, Pak, Bu," ucapnya senyum.
"Selamat sore Nak, cari siapa ya?" tanyanya kaget.
"Cari Bapak sama Ibu," Jawabnya.
Kakek Fany kaget sambil memandangnya dari ujung kaki sampai rambutnya dengan mata tidak berkedip.
"Tidak Pak, Saya Papanya Keysa," jawabnya tegas.
Sejenak Kakek Fany termenung sambil menatapnya dalam-dalam.
"Oh Fany, Anak orang kaya itu," ujarnya senyum.
"Iya Pak," ucap Papa Aksa sambil menjabat tangannya.
"Fany, dimana Pak?" tanyanya.
__ADS_1
"Itu dia, mendorong gerobak," jawabnya sambil menunjuk kearahnya.
Tanpa pikir panjang Papa Aksa menghampirinya dan membantu mendorongnya.
"Fany, apa kabar," ucapnya tersenyum manis.
Fany kaget hingga gerobaknya hampir jatuh, dengan tatapan matanya yang sinis.
"Sini Om bantu," ucapnya.
"Gak perlu Om, Fany sanggup kok," jawabnya sambil terus berjalan.
Papa Aksa pun menggenggam jemarinya sambil mendorong gerobaknya, hatinya mulai tenang karena Wanita di Mall itu hanya mirip dengannya.
"Capek ya," lirihnya.
"Gak Om, sudah biasa," ucapnya ketus.
Papa Aksa nampak bahagia saat pujaan hatinya ada bersamanya, itu terlihat dari sorot matanya yang berbinar-binar menggambarkan betapa ia sangat mencintainya dengan tulus.
_______________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1
"