
Rasa benci mulai menghantuinya hingga tidak dapat berpikir dengan jernih, Keysa sangat tidak mengharapkan kehadiran Wanita lain sebagai pengganti Mamanya walaupun sudah pergi untuk selama-lamanya, keinginan Papanya untuk menikah lagi sangat mengganggunya, dan membuatnya semakin terpuruk. Sementara Bu Zana masih duduk termenung melihat perubahan Keysa, Lalu menghampirinya di Kamarnya.
Tok,, tok,, tok
"Keysa! Ibu mau bicara denganmu," ucapnya sambil berdiri tegak di pintu kamarnya.
"Ada apa Bu?" jawabnya.
"Buka pintunya," ujarnya.
Keysa pun membuka pintu kamarnya dengan sorot matanya yang tajam.
"Ada perlu apa Bu," tanyanya sambil meliriknya.
"Boleh, Ibu masuk," jawabnya dengan hati-hati.
"Silahkan Bu," ujarnya.
Keysa duduk di ujung tempat tidurnya, dengan pandangan kosong.
"Keysa, maafkan Ibu, kalau ucapanku tadi membuatmu tersinggung," lirihnya.
Keysa tidak menjawab hanya menatap langit-langit kamarnya, dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Keysa, benci!" ucapnya ketus.
"Sebenarnya, ada apa Keysa?" tanya Bu Zana bingung.
"Ibu, tak akan pernah mengerti," jawabnya.
"Maksudnya, apa Keysa," ujarnya.
__ADS_1
"Sudah Bu, biarkan Keysa sendiri," lirihnya.
"Keysa, ceritakan apa yang membuatmu benci dan marah," ucapnya lembut sambil memeluknya.
Tangisnya pecah saat Bu Zana memeluknya dengan penuh kasih sayang, pelukan itu mengingatkannya dengan Mamanya yang sudah pergi untuk selama-lamanya.
"Bu, bantu Keysa agar Papa tidak menikah lagi," gumamnya tersedu
"Keysa, tenangkan dulu pikiranmu," ucapnya.
"Sampai kapan Bu," jawabnya sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Sampai Keysa, benar-benar mampu membuang rasa benci mu," ucapnya.
"Keysa, gak bisa Bu," jawabnya menangis.
"Harus bisa, demi kebaikanmu," ujarnya.
"Keysa, pikirkan masa depanmu, biarkan Papamu menentukan pilihannya karena ia pasti tau mana yang terbaik untuknya," tuturnya.
"Berarti Ibu setuju, Papa nikah lagi?" tanyanya sembari menjerit.
"Andaikan Ibu diposisi mu, Ibu akan membiarkannya menikah lagi, karena Keysa tidak pernah tau gimana sakitnya hidup tanpa sosok seorang Istri," jawabnya.
"Keysa kan ada Bu," lirihnya.
"Iya, tapi Keysa tidak bisa mengurus Papamu dengan baik, karena kamu juga punya kehidupan sendiri," ucapnya tegas.
"Ibu sama saja dengan Papa," gumamnya sambil menutup wajahnya dengan bantal.
"Berdamai lah dengan hatimu, agar Keysa hidup dengan tenang," ucapnya lembut.
__ADS_1
"Sudah Bu ceramahnya, Keysa muak," jawabnya ketus.
"Ibu, sedih lihat Kamu seperti ini," ujarnya.
"Kalau gak suka lihat Keysa sedih, larang Papa nikah lagi Bu," pintanya.
"Sudahlah, istirahat saja dulu biar pikiran mu tenang," ucapnya sambil membelai rambutnya yang acak-acakan.
"Iya Bu, tapi harus tolong Keysa agar Papa tidak menikah lagi," jawabnya memohon.
"Nanti, Ibu bicara dengan Papamu," ujarnya.
Keysa pun memeluk Bu Zana dengan kencang, dengan mulut komat-kamit menahan rasa senangnya.
"Terimakasih ya Bu," ucapnya berkali-kali.
"Ya sudah, Kamu istirahat ya, Ibu kerja dulu," jawabnya sambil meninggalkan Keysa.
"Siap Bu," ujarnya senyum.
Bu Zana pun kembali ke dapur, hatinya hancur melihat perubahan Keysa saat kehilangan Mamanya yang sangat disayanginya.
"Oh Tuhan, jangan biarkan hatinya buta oleh kebencian, bukakan pintu hatinya untuk menerima keinginan Papanya untuk menikah lagi," bisiknya dalam hati dengan sungguh-sungguh.
Bu Zana dihadapkan dengan dua pilihan, menuruti keinginan Keysa atau menolaknya, karena ia tidak ingin menyakiti perasaannya dan disisi lain Papanya pasti semakin membencinya dengan keegoisannya.
Bu Zana menarik nafas dalam-dalam, sambil berlari keluar saat mendengar bunyi klakson Mobil Papa Aksa memasuki pekarangan Rumahnya.
_____________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1