
Jodoh itu misteri, ibarat rezeki yang sering datang di waktu yang tidak disangka-sangka, begitu juga dengan Fany yang ingin segera dilamar oleh Pria yang sangat dicintainya, antara kaget, bingung dan senang juga semua campur aduk jadi satu, awalnya Fany berfikir itu hanya pertemuan keluarga dengan tujuan saling mengenal tapi ternyata ia dilamar.
Pernikahan menjadi sebuah jalan untuk menyempurnakan Agama, maka dari itu Pernikahan seseorang semestinya dilaksanakan sesuai nilai-nilai Agama agar tujuan dari Pernikahan dapat terwujud dengan baik. Namun dilain pihak ada saja kendala yang mungkin ditemui sebagai pelengkap akan sebuah Pernikahan.
Menikah itu bukan akhir kisah percintaan tetapi awal dari kisah cinta yang sesungguhnya namanya bersatunya dua Orang yang berbeda pasti tak semudah mempersatukan kedua tangan , perbedaan pendapat dan cara pandang pasti ada, asal Kita mau mendiskusikan dan tidak mendahulukan ego masing-masing masalah bisa diselesaikan bersama. Berbicara menggunakan hati dan mau lebih mengenal kepribadian pasangan.
Setelah berbincang-bincang dengan Kakek dan Nenek Fany, Bu Zana pun sibuk menyiapkan makanan untuk makan siang yang sudah disediakan oleh Nenek Fany, ia kagum dengan segala jenis makanan yang menggugah seleranya.
"Fany, Nenekmu pintar masak ya," ucapnya memuji.
"Hehe, biasa saja kok Bu," jawabnya.
"Dari aromanya saja pasti enak," ujarnya.
Fany tersenyum, lalu menghampiri Kakek dan Neneknya serta Papa Aksa.
"Makanannya sudah siap Nek," ucapnya pelan.
"Oh iya, ayok Kita makan dulu, kalian pasti sudah lapar," jawabnya.
Papa Aksa pun mengikuti Kakek dan Neneknya keruang tamu untuk segera menikmati makan siang yang sudah disediakan oleh Nenek Fany.
__ADS_1
"Sepertinya makanannya enak," ucap Papa Aksa sambil menatap semua makanan yang tersedia dihadapannya.
"Iya Pak, Ibu setuju dengan ucapan Bapak," jawab Bu Zana.
"Siapa yang masak Bu?" tanyanya.
"Saya dan Fany," jawabnya tersipu.
Papa Aksa pun sepertinya tidak sabar lagi untuk menyantap makanannya, karena semua terlihat enak dan membuat perutnya keroncongan.
"Ayok silahkan dimakan," ucap Nenek senyum.
Mereka pun makan dengan lahapnya, dan sangat menikmatinya, hingga semua makanan habis tak bersisa.
"Masakan kampung begini Kok enak sih Bu," jawabnya senyum.
"Serius Bu, sangat enak, kalah masakan Restoran," ucap Papa Aksa tegas
"Kenapa Ibu gak buka Restoran saja? pasti laris Bu," ucapnya.
"Hehe, buka Restoran itu butuh biaya banyak Bu," jawabnya.
__ADS_1
"Iya juga sih," ujarnya.
Keysa pun tidak kalah lahap dari Papanya, keringatnya bercucuran membasahi wajahnya saat menikmati masakan Nenek Fany.
"Begitu banyak Restoran mewah yang sudah Keysa jalani, tapi semua kalah jauh dari masakan Nenek Fany," bisiknya dalam hati.
Keysa pun kagum, diusianya yang tidak muda lagi tapi masih bisa menyediakan makanan dengan berbagai menu, ia pun menatap wajah Kakek dan Nenek Fany dengan tatapan matanya yang sendu sebagai luapan rasa kagumnya.
"Keysa, itu ada Nenek buatin puding Susu buat Kamu," ucapnya senyum.
"Ternyata Nenek masih ingat kesukaan Keysa," jawabnya.
"Iya, Nenek selalu ingat," ujarnya.
"Biar Fany ambil ya," ucap Fany.
"Boleh," jawab Keysa singkat.
Papa Aksa tersenyum haru dengan semua kebaikan Kakek dan Nenek Fany, ia berharap menikah dengan Fany, membuat Keysa bisa lebih dewasa dan lebih mengerti lagi arti dari sebuah kebahagiaan.
_________________________________________
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏