Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 193


__ADS_3

Setiap jiwa memiliki toleransi yang berbeda - beda dalam memahami dan menangani masalah emosinya, Keysa yang terjebak dalam tindakan yang kurang sehat, menyakiti diri sendiri, saat ia merasa tak ada cara lain yang bisa membantunya, tindakan menyakiti dirinya sendiri cara Keysa bergumul dengan emosi dan rasa frustasinya yang tentu amat berbahaya.


Keysa yang menyakiti dirinya sendiri, merasakan sensasi ketenangan dan kepuasan yang sifatnya sementara, namun kemudian perasaan bersalah akan muncul diikuti dengan kambuhnya rasa amarah dan frustasi yang membekap perasaannya, serta tak mungkin melakukan tindakan yang lebih fatal lagi.


Setelah menunggu selama Dua jam, Keysa sadar dan mulai merasakan kesakitan di bagian lengannya, ia meringis kesakitan sambil memegang lengannya.


"Ya ampun, sakit sekali!" gumamnya menahan rasa sakitnya.


"Syukurlah kamu sudah sadar." ucap Perawat senyum.


"Suster, sakit sekali," jawabnya.


"Sebentar, aku akan menyuntikkan obat penghilang rasa sakit," ujarnya.


Perawat segera menyuntikkan obat penghilang rasa sakit untuk mengurangi rasa sakit pada lengannya.


"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Perawat.


"Aku gak tau apa yang salah dengan aku, tetapi hidup terasa abu - abu, hidupku terasa gelap dan hampa." tuturnya.


"Apa kamu ingin mati?" tanyanya.


"Tidak, aku tidak ingin mati, aku hanya ingin menyalurkan luka emosi dan batinku ke fisikku," jawabnya tegas.


"Kamu tau gak? ini sangat berbahaya, dan tidak ada gunanya," ujarnya.


"Saya tidak butuh Anda untuk memberitahu aku bahwa menyakiti diri sendiri tak ada gunanya, bahwa masih banyak Orang yang lebih tidak beruntung dari aku. Aku tau semua hal itu, tapi bukan itu yang aku butuhkan. Menyilet tubuhku cara yang ampuh untuk meringankan kegelisahan dan kesedihanku, ada ketenangan yang aku dapatkan dalam merasakan perihnya ketika aku melakukan hal itu yang tidak bisa aku dapatkan melalui tidur, curhat." tuturnya.

__ADS_1


"Apa tujuan kamu menceritakan semua hal ini? apakah kamu cari perhatian?" tanya Perawat lagi.


"Tak apa - apa jika itu yang Anda pikirkan, karena memang komentar itulah yang aku dapatkan jika seseorang tau aku melukai diriku sendiri, jika dilihat, hidupku terlihat baik - baik saja, tak ada alasan bagiku untuk melakukan semua ini."Jawabnya tegas.


"Kamu perlu berkonsultasi dengan Psikiater untuk mendapatkan pengarahan." perintah Perawat.


"Tidak, aku tidak berani, karena aku takut menjadi buah bibir Masyarakat dan dianggap gila oleh Keluargaku," ucapnya ketus.


"Tapi untuk saat ini kamu sangat membutuhkan seorang Psikiater atau Psikolog," Jawabnya.


"Kalau mau jujur, memang ada saat - saat dimana aku melukai lenganku untuk perhatian. Karena aku ingin Orang lain mendengarkan perasaanku," ujarnya.


"Aku tidak tau betul dengan kisah hidupmu, tapi sebaiknya jangan pernah melakukan hal ini lagi, kamu masih muda dan perjalanan hidupmu masih panjang," ucapnya lembut.


Keysa tidak bergeming, ia hanya menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong, tanpa menghiraukan ucapan Perawat.


"Iya, silahkan keluar." ujarnya sinis.


Perawat tersenyum, sembari memeriksa infus yang menempel di tubuhnya, lalu keluar meninggalkan Keysa.


Keysa mencibir, melirik Perawat dengan sorot matanya yang tajam, ia menganggap Perawat sama saja dengan Papanya yang tidak mengerti perasaannya.


Bu Zana yang terlelap kaget, saat Perawat membangunkannya sembari menepuk lengannya lembut.


"Bu, bangun, Keysa sudah sadar," lirihnya.


"Oh, maaf, aku ketiduran." ucapnya tersipu.

__ADS_1


"Gak apa-apa, aku hanya ingin memberitahu kalau Keysa sudah sadar," jawabnya senyum.


"Alhamdulilah, akhirnya Keysa sadar," gumamnya.


Bu Zana bergegas menuju Kamar Keysa, hatinya senang hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sesampainya di kamar ia langsung memeluknya, mencium keningnya penuh kasih sayang.


"Keysa, Ibu senang kamu sudah sadar," ucapnya lembut.


"Oh iya?" jawabnya dingin.


"Harusnya kamu bersyukur, Allah masih sayang sama kamu, akhirnya bisa melewati masa kritis," ujarnya.


"Siapa bilang Tuhan sayang sama aku, Bu? buktinya Mamaku sudah diambil, sekarang Papaku sakit Kanker, itu namanya sayang?" teriaknya.


"Keysa, jangan ngomong begitu, nanti Tuhan marah," ucapnya mengingatkan.


"Biarin," jawabnya singkat.


Bu Zana menggelengkan kepalanya, lalu mengalihkan pembicaraannya.


"Setelah pulang dari Rumah Sakit, Ibu mau masakin apa untuk Keysa?" tanya Bu Zana.


"Terserah," jawabnya.


Bu Zana terdiam, ia hanya merapikan rambutnya yang acak-acakan, dan menatapnya dengan uraian air mata.


**********

__ADS_1


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2