
Nampaknya cuaca tidak bersahabat, hujan pun turun membasahi bumi, sementara Papa Aksa mengomel tak jelas karena hujan turun.
"Sialan, hujan pula," gumamnya kesal.
"Mas, sebentar juga hujannya reda," ucapnya menenangkan Papa Aksa.
Papa Aksa gelisah menunggu hujan yang tak kunjung reda, hingga akhirnya Papa Aksa lelah dan tertidur di kursi, Fany tersenyum tipis menghiasi bibirnya yang mungil sembari menutup tubuh Papa Aksa dengan selimut.
Sembari Papa Aksa tidur, Fany menghampiri Bu Zana di dapur, ia menyapanya dengan wajah senyum.
"Istirahat dulu, Bu," perintah Fany.
"Tanggung, Bu," jawabnya tanpa menoleh ke arah Fany.
Fany hanya diam, lalu melanjutkan perkataannya.
"Bu, hari ini Bapak sama Keysa mau ke Psikiater, eh, malah hujan," lirihnya.
"Keysa mau ya, Bu?" tanyanya penasaran.
"Iya, tapi Papanya berbohong dengan alasan menemani Papanya ke Psikiater, Bu," jawabnya.
"Syukurlah, Bu," ujarnya senang.
"Bu, sebaiknya aku ikut atau tidak ya?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Ikut saja Bu, Bapak kan lagi sakit, takut terjadi apa-apa, Bu," jawabnya mengingat.
"Kalau aku ikut, takutnya Keysa gak mau ikut, Bu," ujarnya.
"Ikut saja Bu, tapi gak usah ngomong," perintah Bu Zana.
"Begitu ya, Bu," lirihnya.
"Iya, kasihan Bapak, Bu," ucap Bu Zana.
"Iya juga, tapi masalahnya Keysa, Bu," jawabnya.
"Percayalah Bu, semua akan baik-baik saja," ujarnya.
"Aku takut, Bu," ucapnya setengah berbisik.
Fany terdiam, dan mencoba mengingat semua yang dilakukan Keysa sewaktu masih sahabatan.
"Bu, bagaimana kalau Ibu ikut bersama kami," ajak Fany.
"Boleh, Ibu siap melakukan apa saja demi kebaikan Keluarga ini," jawab Bu Zana.
"Serius, Bu," ucapnya senyum.
"Iya, Ibu serius," jawabnya tegas.
__ADS_1
"Terimakasih ya Bu, aku tidak tau bagaimana membalas semua kebaikan, Ibu," ujarnya senang.
"Melihat kalian akur, Ibu sudah bahagia," lirihnya.
"Pernahkah Ibu merasa tidak berguna meskipun telah mencoba melakukan yang terbaik?" tanya Fany.
"Ego terkadang memang harus banyak mengalah daripada perasaan, Bu," jawabnya.
"Dulu aku pikir rasa nyaman adalah hal terbaik yang harus kudapatkan, namun nyaman itu justru sangat berbahaya karena aku bisa jatuh ke dalamnya dan melupakan rasa yang seharusnya ada. Saat menghadapi masalah, rasanya ingin menyerah saja karena terlalu lama dalam jurang kenyamanan," tuturnya.
"Yang sabar ya, Bu, semua indah pada waktunya," ucapnya meyakinkan.
************
Keadaan yang tak pernah berubah, keheningan begitu mencekam dan menyiksa Keysa, ia menggigil kedinginan ketika angin kencang terus menerus menerjang tubuhnya yang mungil, ia mendongakkan kepalanya ketika suara hujan sangat mengganggunya.
"Apa yang harus kulakukan?" gumam Keysa dalam hati, ia sangat marah pada dirinya sendiri.
Keysa sedih, ia menangis lagi meratapi nasibnya, berteriak - teriak seperti Orang gila, menangis lalu tertawa begitu seterusnya, tak berselang lama terbesit ide konyol sesudah melihat tali tambang di sudut kamarnya, tangisnya mendadak berhenti lalu tertawa terbahak-bahak, akal sehatnya mulai hilang.
Keysa terus tertawa sambil berjalan mengambil tali tambang, lalu ia mengikatkan erat tali itu dengan paku yang terpampang di atas jendela, tawa Keysa meledak kembali.
Mendengar ketawa dari kamar Keysa membuat Fany dan Bu Zana penasaran dan berlari menuju kamar Keysa, alangkah terkejutnya Fany saat melihat Keysa dengan tali tambang ditangannya, ia menjerit histeris menghampiri Keysa.
*********
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏