Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 144


__ADS_3

Tenggorokan Bu Zana, terasa mencengkram, hatinya pilu, seakan tak rela, Keysa menjadi anak yang keras kepala, dengan langkah kakinya yang gontai, ia memilih meninggalkan Keysa, karena tidak ingin berdebat dengannya.


"Ya, Allah, apa yang harus kulakukan agar Keysa, berubah," tanyanya dalam hati.


Bu Zana, merasa berdosa, karena tidak bisa menjalankan amanah Bu Retno, mendiang Istri Papa Aksa, yang sudah menitipkan Keysa, jauh hari sebelum Bu Retno menghembuskan nafas terakhirnya, lalu ia menghempaskan tubuhnya di Sofa, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bu Retno, aku gagal mendidik Keysa," gumamnya dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar isak tangisnya, Papa Aksa menghampirinya, yang kebetulan lewat menuju Kamarnya.


"Ada apa Bu, kok menangis?" tanyanya penasaran.


"Gak ada apa-apa Pak, cuma kena debu," jawabnya gugup sambil mengusap kedua matanya.


"Saya tau betul sifat Ibu, kalau ada masalah pasti menangis," ucapnya lembut.


"Apa cerita saja sama Papa Aksa?" tanya dalam hati.


"Ada masalah apa Bu? ayok cerita saja," ucapnya.


"Ini Pak, masalah Keysa, sepertinya ia belum bisa menerima Fany, di rumah ini," jawabnya hati-hati.


"Iya Bu, Saya tau, tadi siang juga, Saya berdebat dengannya, bahkan ia berani terang-terangan membentak Fany, di depanku," tuturnya sedih.


"Maaf ya Pak, Ibu tidak bisa menjalankan amanah Bu Retno, untuk mendidik Keysa," ucapnya tegas.


"Ibu, gak salah, tapi Saya yang tidak bisa mendidik Keysa dengan baik," jawabnya.


"Tapi, Ibu sudah berjanji sama mendiang Bu Retno, Pak," ujarnya.

__ADS_1


"Sudahlah Bu, gak usah menyalahkan diri sendiri, sekarang kita cari cara, agar Keysa mau menerima Fany," pintanya.


'Tapi apa ya, Pak?" tanya Bu Zana.


"Saya, juga bingung Bu," ucapnya.


Saat Bu Zana dan Papa Aksa berpikir, bagaimana cara agar Keysa mau menerima Fany, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju ruang tamu, Papa Aksa menoleh kebelakang, dan Fany sudah berdiri tegak di belakangnya dengan senyum.


"Ada apa Mas, serius bangat?" tanyanya senyum.


"Gak ada apa-apa Sayang, Bu Zana, hanya minta uang belanja," jawabnya.


"Oh, kirain ada apa," lirihnya.


"Daging rendangnya, enak gak, Bu?" tanyanya mengalihkan perhatian.


"Enak bangat, Bu, Mas Arga, saja sampai nambah terus," ucapnya memuji.


"Iya Bu," jawabnya meyakinkan.


Papa Aksa, tersenyum sambil melirik kearah Fany, lalu mencubit pipinya dengan gemas.


"Sini, Sayang, duduk di samping, Mas," ucapnya.


Fany, terlihat cantik, rambut panjangnya diikat agak keatas, yang memperlihatkan lehernya yang jenjang, membuatnya anggun dan menarik, dengan manja ia bersandar dipundak Papa Aksa.


"Mas, Keysa, dimana?" tanyanya sambil melirik seluruh ruangan.


"Di kamarnya," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Bu, Keysa, sudah makan?" tanya Fany.


"Belum Bu, Keysa, masih tidur," jawabnya.


"Biar, Fany, bangunin," lirihnya sambil beranjak menuju Kamar Keysa.


"Gak usah, nanti juga bangun," ucapnya sambil menarik tangannya.


"Nanti, Keysa sakit, Mas," jawabnya.


"Gak, Sayang," ucapnya singkat.


"Kasihan, Keysa, Mas," jawabnya.


"Keysa, perlu di kasih pelajaran," ucapnya.


"Mas, gak baik marah terus, nanti cepat tua," jawabnya setengah berbisik.


"Memang sudah tua," lirihnya senyum.


Fany, dan Papa Aksa tertawa lebar, mata saling memandang, dengan jantung berdetak kencang, sorot matanya yang berbinar-binar, melukiskan rasa cinta yang begitu tulus.


"Akhirnya ngaku juga tua ya, Mas," ucapnya mengejek.


"Biar tua, tapi sayangkan?" jawabnya.


________________________________


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏

__ADS_1


"


__ADS_2