
Hidup, mati, rejeki dan jodoh sudah digariskan oleh sang Maha Kuasa, tidak ada yang tahu bagaimana misterinya di masa depan, begitu juga dalam kehidupan rumah tangga, ujian hidup sering datang tiba - tiba, sehingga janji suci pernikahan akan menghadapi susah senang bersama.
Namun Fany membuktikan kesetiaannya pada Suaminya Papa Aksa, ia harus mengurus Suaminya yang berjuang melawan penyakit Kanker, sekaligus Ibu sambung untuk Keysa, semuanya ia hadapi sendirian dengan penuh ketegaran.
Seperti yang kita tahu, merawat Orang yang sakit bukanlah pekerjaan yang mudah, dibutuhkan kesabaran dan kekuatan ekstra untuk bisa berjuang membantu kesembuhan Orang tersayang, tapi di balik ketegaran yang diperlihatkan, sebenarnya mereka berusaha menyembunyikan perasaan sedih melihat Orang yang disayangi sakit dan lemah tak berdaya.
***********
Senja datang masih seperti biasa, ia datang dengan sejuta keindahan senyum menyinari kamar tidur Fany dan Papa Aksa, seperti biasa Bu Zana membawa segelas Jus buah Naga dan Singkong rebus untuk Papa Aksa, Fany tertidur di kursi karena kelelahan mengurus Papa Aksa siang dan malam membuat tubuhnya lemas dan menyempatkan dirinya tidur saat Papa Aksa tidak merasakan sakit.
"Bu, pindah ke kasur saja," ucapnya lembut.
"Gak Bu, nanti Bapak bangun," jawabnya mengusap kedua matanya.
"Ibu pasti capek ya," ujarnya.
"Gak Bu," lirihnya.
__ADS_1
"Begitulah, menjadi seorang Istri bukan perkara mudah, tidak sebatas berpangku tangan terhadap Suami, namun lebih kepada bagaimana melayani Suami sepenuh hati, apalagi dalam keadaan sakit," tuturnya.
"Ya Bu, Fany sekarang mengerti setelah menikah, karena tugas seorang Isti itu tidak mudah," ucapnya lembut.
"Di kala susah dan senang, Istri harus mampu menopang Suami dalam berbagai situasi," jawab Bu Zana.
"Fany ngerti, Bu," lirihnya.
"Tetapi tidak jarang Istri - Istri malah meninggalkan Suaminya karena dinilai sudah susah, penyakitan dan tidak dapat menyokong kebutuhan baik itu lahir maupun batin, tidak semua memang , sebagian dari mereka masih menunjukkan rasa cintanya terhadap Suaminya yang bisa dikatakan sudah tidak produktif lagi," tuturnya.
"Tapi Fany tidak seperti itu Bu, aku akan selalu mendampingi Suamiku sampai ajal menjemputnya," ucapnya sedih.
"Aku tidak akan menyerah dan terus mencari alternatif untuk mendapatkan titik terang untuk penyakitnya," ujarnya.
"Memang harus begitu Bu, agar Bapak sembuh dari penyakit yang mematikan ini," ucapnya hati - hati.
"Melalui serangkaian terapi penyakitnya akan berangsur hilang walau sedikit demi sedikit, Bu," jawabnya.
__ADS_1
"Menjalin sebuah bahtera rumah tangga memiliki resiko berat, salah satunya adalah tidak dapat bersama sampai akhir hayat, seperti apa yang Ibu alami, Suami Ibu meninggal karena penyakit jantung." tuturnya sedih mengingat masa lalunya.
"Maaf Bu, gara - gara aku, Ibu jadi mengingat masa lalu, Ibu," ucapnya lembut.
"Gak apa - apa, Ibu sudah iklhas dengan semua apa yang terjadi, karena itu sudah takdir," jawabnya tegas.
"Setelah Suami Ibu meninggal, tidak pernah berkeinginan untuk menikah lagi, Bu?" tanya Fany penasaran.
"Tidak Bu, karena Ibu tidak bisa memiliki anak, rahim Ibu sudah diangkat karena penyakit Kista, jadi percuma menikah, karena setiap pasangan yang menikah pasti menginginkan seorang anak, makanya Ibu takut menjalin hubungan lagi dengan Laki - Laki lain," jawabnya.
"Yang sabar ya Bu, aku sangat prihatin dengan kisah Ibu, Ibu adalah sosok Wanita kuat," ujarnya haru.
"Sama seperti Ibu," ucapnya memuji.
Mereka tertawa lebar, dengan mata berkaca-kaca sebagai luapan rasa haru yang menyelimuti hati dua Wanita kuat itu. Bu Zana memberikan pelukan hangat sebagai penguat untuk menjalani hari - harinya yang penuh dengan perjuangan dan air mata.
**********
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏