
Detak jantung Papa Aksa berpacu lebih cepat dari biasanya dan setitik rasa kecewa saat Fany belum bisa dihubunginya, ia bisa membohongi perasaannya dengan kata-kata tapi tidak dengan matanya. Rasa gelisah mulai menghantuinya hingga ponselnya pun menjadi sasaran hingga melayang ketempat tidur untuk sekian kalinya.
Papa Aksa mulai menyadari betapa getirnya hidup tanpa sosok seorang Istri, hingga ia kewalahan untuk mengurus dirinya sendiri dan Keysa Anak satu-satunya, yang sering membuatnya jengkel dan tersulut emosi.
"Ya Tuhan, bantu Aku untuk menghadapi semua ini, Aku lelah dan tidak sanggup menjalaninya," gumamnya dengan pandangan kosong.
Papa Aksa pun beranjak dari kamarnya untuk menenangkan pikirannya dan duduk di Serambi Rumahnya sambil menarik nafasnya dalam-dalam, ia tidak ingin menyakiti perasaannya dengan semua bebannya yang saat ini membuatnya rapuh dan tidak berdaya.
Desir angin malam menyentuh tubuhnya, saat Papa Aksa duduk termenung di kursi di depan Rumahnya, sambil menggosok- gosok telapak tangannya untuk menepis rasa dingin yang menerpa sekujur tubuhnya. Hingga beberapa saat matanya mulai mengantuk, Papa Aksa pun kembali ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya untuk melepaskan semua bebannya, tak menunggu waktu yang lama Papa Aksa pun terlelap dalam tidurnya hingga ia lupa menyetel Alarm di ponselnya. Malam yang begitu dingin dihiasi dengan rintik-rintik hujan membuat ia terbuai dengan mimpi indahnya, hingga tidak menyadari hari sudah pagi.
Tiba-tiba ia haus, dan ingin mengambil air mineral yang ada di atas Meja dengan matanya yang masih berat, setelah meneguknya beberapa kali matanya pun terbuka dan matanya pun tertuju pada jam dinding yang tergantung di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul tujuh, ia pun panik dan langsung menuju kamar mandi dan langsung berkemas untuk segera berangkat ke kantor. Dengan langkah terburu-buru ia pun menuju Garasi Mobilnya dan melajukan Mobilnya dengan cepat, sesekali matanya melirik jam tangannya dan menambah kecepatan Mobilnya.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Papa Aksa pun tiba di Kantor, beberapa Karyawan menyapanya dengan sopan sambil bercanda.
"Mending cari Istri lagi Pak!" ucapnya.
"Hehe, iya nanti," jawabnya tersipu.
"Aku ada Saudara loh Pak, mau gak biar Aku kenalkan?" tanyanya.
__ADS_1
"Nanti saja, belum kepikiran cari Istri," jawabnya tersenyum.
Semenjak kepergian Istrinya, Papa Aksa menjadi bahan ledekan teman-temannya, dan menyuruhnya untuk segera menikah lagi, tapi Papa Aksa tidak menanggapinya karena ia telah memiliki Wanita yang sangat dicintainya.
Papa Aksa pun menaiki anak tangga dengan cepat sambil tersenyum mendengar ucapan Satpam dan Karyawan yang menginginkannya untuk menikah lagi.
"Mereka gak tau, kalau Aku sudah punya calon," bisiknya dalam hati dengan hati berbunga-bunga sambil membayangkan wajah Fany dengan tubuhnya gempalnya.
Setiba di Kantor, Papa Aksa pun duduk santai sambil menyandarkan tubuhnya di kursi untuk menenangkan pikirannya agar bisa bekerja dengan baik dan tenang.
"Pak, tolong buatkan secangkir kopi ya," perintahnya pada office boy.
"Hehe, ngantuk Pak," ujarnya.
Office boy pun beranjak sambil tersenyum dan meninggalkan ruangan, setelah beberapa menit Kopi pesanannya sudah tersedia di meja.
"Ini Kopinya Pak, silahkan di minum," ucapnya.
"Terimakasih ya Pak," jawabnya.
__ADS_1
"Sama-sama Pak," ujarnya sambil bergegas keluar.
Aroma Kopi yang sangat menggoda membuat rasa ngantuk dan lelahnya hilang dengan sekejap, dan ia pun kembali bekerja ditemani dengan secangkir kopi.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam dua belas siang, semua Karyawan sudah menuju Kantin tapi Papa Aksa masih sibuk dengan pekerjaannya hingga ia lupa waktu makan siang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok,, tok,,, tok
"Pak, ada tamu," ucapnya sambil membuka pintu.
"Siapa? tanyanya.
"Gak kenal Pak," ujarnya.
"Laki-laki atau perempuan?" tanyanya.
"Perempuan Pak," jawabnya.
Papa Aksa menautkan kedua alisnya, sambil mengingat tidak ada janji dengan siapa-siapa.
__ADS_1
________________________________________________