
Kata - kata yang terucap dari bibir Keysa, membuat dada Fany mendadak terasa sesak, ia tidak pernah menduga Keysa sanggup menyakiti perasaannya.
Saat melihat ada air mata Keysa yang menggenang lalu menetes membasahi wajahnya yang cantik, Fany ingin sekali mengusapnya lalu memeluk tubuh Keysa, bercerita panjang lebar untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka selama ini, tapi Keysa lebih dulu membalikkan badan dan berlari dengan menuju kamarnya.
"Keysa...," teriak Fany memanggil.
Fany bermaksud mengejar Keysa, tapi Bu Zana menahannya, dan Keysa sepertinya tidak menghiraukan panggilannya.
"Bu, sebaiknya jangan menemui Keysa!" perintah Bu Zana.
"Aku mau meluruskan semuanya, agar tidak ada kesalahpahaman diantara kami, Bu."
ucapnya tersedu.
"Iya, tapi jangan sekarang, Bu!" jawab Bu Zana.
"Tapi sampai kapan, Bu?" tanyanya.
"Ibu harus sabar dan menunggu sampai ia sadar dengan semua kesalahannya pada, Ibu." jawabnya.
__ADS_1
"Sungguh , aku sama sekali tidak mengharap kesalahpahaman ini merembet sampai kemana - mana, apalagi berujung dengan kata untuk segera meninggalkan Papanya, Bu." tuturnya.
"Itu tidak akan terjadi Bu, apapun alasannya Bapak tidak akan pernah mau berpisah, karena sangat mencintai, Ibu." ucap Bu Zana.
"Bagaimana kalau Keysa memaksaku, Bu?" tanyanya lagi.
"Percayalah, itu hanya perasaan Ibu saja," jawabnya.
"Tidak, Bu!" ujarnya meyakinkan.
Tubuh Fany seketika terduduk lesu, wajahnya kuyu, ia hanya bisa menelan ludah, tanpa terasa sudut matanya basah, sementara tubuhnya terasa panas dingin, Fany melangkah menyusuri semua sudut rumahnya, nafasnya menderu kencang dengan wajah berkeringat.
Arghh...!
"Jangan pernah cerita sama Bapak, tentang perilaku Keysa, takut Bapak kenapa-napa karena masih tahap pengobatan, Dokter juga menyarankan tidak boleh stres, Bu." tuturnya.
"Iya Bu, aku mengerti," ucapnya sedih.
Bu Zana berbalik dan menatap kamar Keysa dengan rasa kecewa, lalu segera membuang pandangannya ke sisi lain, Bu Zana kesal.
__ADS_1
"Dasar menyebalkan!" sesalnya dalam hati.
Tangis Keysa kembali pecah, ia meraung seperti Orang tidak waras, menghentakkan kakinya cukup keras, ada amarah dan emosi yang ia luapkan menangis, marah, kecewa, dan tidak terima.
Di dalam kamar Keysa terus menangis, sembari memaki dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Papanya, wajahnya pucat, matanya merah dan bengkak, air mata yang terus mengalir tiada henti, cukup sebagai bukti betapa Keysa sangat merasa sedih, hatinya hancur berkeping-keping, jiwanya terguncang, ia tak menyangka Fany menjadi Ibu sambungnya.
"Ya Allah, kenapa hidupku hancur berantakan, Mamaku meninggal, sekarang Papaku sakit, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." teriaknya.
Keysa menangis sembari menjerit, membuang seisi Kamarnya hingga berantakan, rasanya tak sanggup menjalani kehidupannya yang penuh tanda tanya, tanpa pikir panjang ia memecahkan kaca jendela kamarnya, lalu mengambil pecahannya, menggoreskan ke lengannya hingga berkali-kali, ia menjerit kesakitan dengan darah berceceran di lantai.
Setelah beberapa menit, rasa pedih mulai menggerogoti tubuhnya, ia gemetar dan terjatuh dengan mulut komat - Kamit.
"Hahaha, sebentar lagi aku akan bersama Mamaku di surga, semua sudah berakhir." gumamnya dengan tubuh gemetar.
Sejenak ia terdiam dan tidak sadarkan diri, wajahnya pucat dengan tubuh bersimbah darah, ruangan yang begitu terang seakan hitam di penglihatannya.
"Hidup tak pernah adil padaku, sekarang kenapa Papa harus menderita Kanker," gumamnya lemas dengan mata tertutup.
******
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
Key