
Ketika memasuki jenjang yang lebih serius sepasang kekasih bukan hanya harus membangun relasi yang lebih baik antar keduanya, mereka pun ditantang untuk bisa menjalin relasi baik dengan masing-masing Keluarga, salah satunya adalah dengan calon Mertua, sebab hanya dengan restu Merekalah pernikahan akan lebih terbekahi.
Fany yang tidak memiliki Orang tua, yang di besarkan oleh Kakek dan Neneknya yang harus menjadi Wali di acara Pernikahannya. Dan Papa Aksa harus meminta izin pada Kakek dan Neneknya karena merekalah yang berperan besar dengan Fany agar bisa menikahinya.
Jantungnya berdegup kencang dan tidak sabar menunggu Mentari pagi menampakkan sinarnya, agar ia segera bergegas untuk menemui pujaan hatinya sekaligus membicarakan hubungannya dengan Kakek dan Nenek Fany untuk secepatnya melangsungkan pernikahannya.
Waktu yang ditunggu-tunggupun tiba, Papa Aksa yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya sudah duduk santai diruang tamu menunggu Keysa dan Bu Zana.
"Buruan Bu," ucapnya sembari menjerit sambil memandang tubuh kekarnya di kaca.
"Sebentar Pak," jawab Bu Zana.
"Keysa, sudah siap belum?" tanyanya sambil menunggu di depan pintu kamarnya.
"Ya ampun Pa, buru-buru banget sih," jawabnya kesal sambil menuju Kamar mandi.
"Nanti hujan loh," ujarnya.
"Gak bakalan hujan Pa, tenang saja," lirihnya.
"Huh, giliran ke rumah Fany sibuknya minta ampun," bisiknya dalam hati sambil mencibir.
Papa Aksa pun mondar-mondar sambil menatap Kamar Keysa yang belum nampak batang hidungnya, sementara Bu Zana sibuk dengan segala oleh-oleh yang akan dibawa sebagai hadiah untuk Kakek, dan Nenek Fany.
Papa Aksa pun menghampiri Bu Zana dan menatapnya dalam-dalam.
"Bu, apa oleh-olehnya cukup?" tanyanya hati-hati.
"Oh, ini lebih dari cukup Pak," jawabnya senyum.
__ADS_1
"Kenapa ya Bu, sepertinya Saya cemas dan gugup," ucapnya.
"Rasa cemas atau gugup itu biasa Pak," jawab Bu Zana.
" Saya takut Kakek dan Neneknya berubah pikiran Bu," ujarnya.
"Gak mungkin Pak," ucapnya meyakinkan Papa Aksa.
"Mudah-mudahan Bu, Saya tidak tau harus berbuat apa jika Kakek dan Neneknya tidak menyetujui hubungan ini," jawabnya cemas.
"Percayalah Pak, itu tidak akan terjadi karena Fany juga pasti sudah meyakinkan Kakek dan Neneknya bahwa Bapak adalah calon Suami yang baik untuknya," tuturnya.
Papa Aksa hanya menganggukkan kepalanya dengan hatinya yang tidak tenang, ia justru semakin gelisah dan ketakutan.
"Menurut Ibu, Kakek dan Neneknya setuju dengan Lamaran ini?" tanyanya.
"Serius Bu," tanyanya dengan nada tersendat.
"Iya, Bapak tenang saja dan jangan berpikiran macam-macam," jawabnya.
Ia pun menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan pikirannya yang hanyut oleh rasa cemasnya yang berlebihan.
"Tolong Bu, Keysa suruh cepat," perintah Papa Aksa sambil menuju Garasi.
"Iya Pak," ucap Bu Zana dengan senyum sambil melirik kearah Kamar Keysa.
Tok,, tok,, tok.
"Keysa, ayok cepat," panggil Bu Zana.
__ADS_1
"Sebentar Bu, Keysa masih mandi," jawabnya.
"Huh, Keysa memang keterlaluan selalu bikin Papanya kesal," gumamnya.
Bu Zana pun mengangkat oleh-oleh ke Mobil sembari menunggu Keysa.
"Keysa, dimana Bu?" tanyanya.
"Masih mandi Pak," jawabnya.
"Dari tadi mandi?" tanya Papa Aksa kesal.
"I,,,iya Pak," jawabnya gugup.
"Anak itu ya, selalu menjengkelkan," ujarnya.
"Air di Kamar mandinya mati Pak," ucapnya membela.
"Itu hanya alasannya saja Bu,' jawabnya singkat.
"Sudah Pak, gak baik marah-marah," ucap Bu Zana.
"Siapa gak marah Bu, kalau Keysa selalu bikin kesal," jawabnya.
Bu Zana pun bingung harus bagaimana, ia hanya berharap Keysa cepat keluar dari Kamarnya. Papa Aksa yang tersulut emosi sejenak terdiam menahan rasa amarahnya yang sudah di ubun-ubun dengan sorot matanya yang sinis sambil menatap langit yang begitu cerah.
__________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1