
Fany, bahagia bahkan sangat bahagia, meski terlahir dari keluarga yang sederhana, yang hanya dibesarkan oleh, Kakek dan Neneknya, kini telah menikah, dan memiliki seorang Suami yang baik, perhatian, dan kaya yang mampu mengangkat derajat Keluarganya, setelah menikah dengan Papa Aksa, Duda beranak satu itu, ia kini hidup penuh dengan kemewahan, dan fasilitas yang lengkap dan tinggal di rumah besar dan mewah.
Keysa, anak yang manja, dan selalu mengandalkan Orang-orang disekelilingnya, dalam melakukan segala hal, membuat Fany kewalahan menghadapi sifatnya, ditambah rasa bencinya padanya. Tapi Kakek dan Neneknya, sudah mengajarkannya arti sebuah kehidupan, kesabaran, keikhlasan, rasa bersyukur dan perjuangan hidup, membuat Fany sabar demi rasa cinta dan sayangnya pada Keysa dan Papa Aksa. Besar atau kecilnya kesalahan Keysa, ia selalu memaafkannya, dan menasehatinya dengan tutur kata yang lembut dan penuh kasih sayang, dan berusaha ingin merubah segala kebiasaan - kebiasaan buruknya.
"Fany, tidak boleh menyerah dalam keadaan apapun, dan akan buktikan, bahwa Fany bisa menjadi Ibu yang baik untuk Keysa, dan akan berjuang dengan caraku sendiri, sampai Keysa mau menerimaku," bisiknya berjanji pada dirinya sendiri.
Walau sulit sekali, dan banyak tikungan tajam yang menghampirinya dan menghancurkan semangatnya, untuk mengubah rasa bencinya padanya, tetapi Fany memiliki Tuhan, yang selalu bersamanya dan menjaganya dikala ia ingin merubah Keysa menjadi lebih baik.
Tiba-tiba, Bu Zana menghampirinya, membuatnya tersentak dari lamunannya, ia tersenyum sambil menatap Bu Zana yang sudah berdiri tegak dihadapannya.
"Ada apa Bu, sepertinya ada sesuatu yang dipikirkan," tanyanya hati-hati.
"Iya Bu, Fany, lagi memikirkan sesuatu," jawabnya dengan polosnya.
"Boleh, Ibu tahu?" tanyanya.
Sejenak, Fany terdiam, dengan sorot matanya yang kosong, melukiskan betapa hancurnya hatinya, dengan semua perlakuan Keysa, yang tidak menganggapnya, sekalipun ia sudah menikah dengan Papanya, bahkan sangat membencinya.
"Bu, apa yang harus kulakukan agar Keysa tidak membenciku?" tanyanya tersendat.
__ADS_1
"Yang sabar ya," ucapnya sedih.
"Ya, Bu, tapi Fany bingung harus berbuat apa," ucapnya frustasi.
"Ibu, tau perasaanmu, andaikan Ibu juga di posisimu pasti akan merasakan hal yang sama denganmu," jawab Bu Zana.
"Mungkin sekarang, Fany belum bisa memberi kebahagiaan sepenuhnya untuk Keysa, namun Fany mempunyai sekilas Doa sederhana, yang setiap hari bahkan setiap detik ku ucapkan dalam Shalat ku ataupun dalam kesendirianku," tuturnya lembut.
"Percayalah, suatu saat Keysa akan menyesali semua perbuatannya, ternyata ia salah menilai mu," ucapnya meyakinkan.
"Amin, mudah-mudahan Bu," jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi, sampai kapan Bu," ujarnya.
"Sampai kamu, benar-benar memahaminya," ucapnya tegas.
Fany, menganggukkan kepalanya, menatap Bu Zana dalam - dalam membaca isyarat matanya yang teduh, membuat hatinya lega, dan semangat untuk menjalani hari-harinya bersama Orang - Orang yang sangat dicintainya.
"Terimakasih ya Bu, nasehatnya," ucapnya haru.
__ADS_1
"Sama - sama, Bu," jawabnya senyum.
"Fany, tidak akan melupakan semua kebaikan Ibu, yang selalu mendukungku," tuturnya.
"Ibu, hanya ingin, melihat kalian akur seperti dulu," ucapnya dengan nada tinggi.
"Fany, juga begitu Bu, harta dan kemewahan ini tak berarti apa-apa, Fany, hanya ingin hidup bahagia," jawabnya.
"Hatimu sangat mulia, harta tidak membuatmu serakah, Ibu, bangga padamu," ucapnya senyum.
"Fany, sudah terbiasa hidup susah Bu, harta tidak membuatku silau, Fany hanya ingin Keysa tidak membenciku," jawab Fany.
"Semoga, apa keinginanmu terkabul ya," kata Bu Zana sambil menepuk lengannya lembut.
"Amin," ucapnya haru.
____________________________________________
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏
__ADS_1