Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Episode 148


__ADS_3

Papa Aksa, tersenyum memandang keindahan tubuhnya yang mungil, dengan parasnya yang cantik tanpa polesan make up, wajahnya natural putih bersih membuatnya gemas, lalu mencubit pipinya dengan lembut.


"Sayang, Mas, semakin mencintaimu, melebihi diriku sendiri," ucapnya merayu.


"Gombal," jawabnya tersipu.


"Iya Sayang, Mas gak bohong," ucapnya.


"Terimakasih ya, Mas," jawabnya senyum.


"Iya, Sayang," lirihnya sambil membaringkan tubuhnya di kasur.


"Mas, jam berapa ini?" tanya Fany.


"Jam tiga pagi, kenapa Sayang?" tanyanya.


"Kok, gak bisa tidur ya, Mas," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Makanya, jangan ngopi, jadinya susah tidurkan," ucapnya mengingatkan.


Fany, terdiam merasa berdosa membohongi Papa Aksa, Suaminya yang baik dan perhatian itu, ia sengaja menyembunyikan masalahnya dengan Keysa, takut menambah beban pikirannya, ia memilih diam dan menyimpan rapat-rapat.


Hidup memang selalu begitu, selalu ada pilihan, karena memang kita bertahan hidup itu juga adalah pilihan yang kita ambil, bisa saja kita mengakhiri hidup, itu adalah pilihan, hidup atau mati memang sudah ada takdir kita yang berjajar di depan. Tapi, manusia tetap masih memiliki kebebasan untuk memilih, yang bisa dilakukan jika dihadapkan pada dua pilihan adalah mengandalkan intuisi.


Mempertimbangkan pilihan manakah yang paling bisa mendatangkan kebaikan, Fany yang ada dalam situasi yang membingungkan, kedua pilihan itu memang memiliki tujuan yang berbeda, tapi sama pentingnya, bertahan, atau melepaskan.


"Sayang? sakit ya?" tanya Papa Aksa.


"Kenapa muka kamu ditekuk seperti itu?" tanyanya.


Fany, langsung memeluknya untuk menghindari pertanyaan yang semakin membuatnya tersudut, lalu memejamkan kedua matanya di pelukan Papa Aksa, sedetik nafasnya sesak teringat Keysa.


"Ya Allah, tolong Fany," bisiknya dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.


Tiba-tiba hatinya tenang menyundut di dadanya setelah menyebut nama Allah, ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba tidur dalam mimpi indahnya. Ia berharap bila esok mentari sudah berganti, kesempatan itu terbuka kembali dan akan mencoba lagi.

__ADS_1


Kini malam telah melekat sempurna, Fany dan Papa Aksa telah ditenggelamkan dalam gelapnya malam, meniti jalur sunyi diantara mewahnya kamar yang dilengkapi dengan fasilitas mewah yang menjadi saksi bisu betapa hatinya terluka dengan rasa benci Keysa padanya.


Beribu titik- titik terang di kamar, yang menyerupai bintang gemintang, menandakan Fany, dan Papa Aksa sudah terbuai dalam mimpi- mimpi indahnya, yang ada hanya suara ngorok menenggelamkan dalam keperawanan malam.


Pukul 7.00 pm


Kepala Fany terasa ngilu, dan tangannya sedari tadi telah mati rasa, terpaan hawa dingin yang membekukan ini serasa makin tak tertahankan lagi, sepanjang malam yang kian mendekati pagi, tubuhnya tak mampu untuk berhenti menggigil, ia berdiri dengan perasaan tidak menentu, meratapi keadaan yang mengapa harus mengalaminya, dengan campuran ekspresi antara kecewa dan pasrah.


Beberapa saat terdiam, membiarkan kekosongan menjalani pikirannya, sambil menarik nafas dalam-dalam, sembari meresapi kebekuan pagi yang sedikitpun tidak menampakkan sinarnya.


"Tidak, Fany, tidak ingin ambisi ku kandas disini, masih ada waktu dan pasti akan ada banyak cara untuk meluluhkan hati Keysa," bisiknya dalam hati.


Fany, yang hampir putus asa kembali semangat, ia melirik keluar jendela mentari telah terbit di ufuk timur, artinya sepanjang itu pulalah waktu yang tersisa untuk menyelesaikan semua perkara dalam hidupnya, ia kembali membisu diselingi angin sepoi-sepoi.


________________________________


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2