
Kecantikan bukan hanya dari fisik saja, tapi juga dari tingkah laku dan kepribadian, begitu juga dengan Fany sikapnya yang baik dan sabar membuat Papa Aksa mengaguminya hingga rela melakukan apa saja demi mendapatkan hatinya. Perlahan tapi pasti, Papa Aksa harus menunggu semuanya tenang dan tak perlu buru-buru jika masih ada hati yang tersakiti, karena ia tahu bahwa Fany adalah sosok wanita setia.
"Duduklah di sampingku," ucapnya.
"Jangan Om, malu sama Kakek," lirihnya.
"Kakek kan, belum datang," ucapnya.
Papa Aksa melepas kangen bersama Fany, sambil menatapnya dalam-dalam, ingin rasanya segera melamar Fany agar terus bersama menjalani hari-harinya.
"Tau gak, Kamu itu bagai Rembulan yang menyinari hati dan pikiranku," ucapnya lembut.
"Mulai lagi nih, gombalnya," jawabnya tersipu.
"Hahaha, sudah tua gak perlu gombal-gombal," ujarnya.
"Jangan salah Om, yang tua justru banyak gombalnya," lirihnya.
"Ah, Dari dulu Om gak pernah gombal cewek," ucapnya.
"Yang benar?" jawab Fany senyum.
"Iya, Om gak bohong," ucapnya.
"Asal lah, entar enggak," lirihnya.
Papa Aksa tertawa sambil mencubit pipinya dengan gemas sambil membelai rambutnya dengan lembut.
__ADS_1
"Om, mau jika Kita sudah nikah, Kakek dan Nenekmu sudah memiliki kios dan Om akan menyuruh Nenekmu untuk mengupah orang untuk membantunya setiap hari," tuturnya.
"Mana cukup Om, buat gaji Orang," ucapnya.
"Om, yang akan menggajinya," jawabnya tegas.
"Tapi Om," ujarnya.
"Sudah, itu semua urusan Om," ucapnya sambil memotong ucapannya.
Fany pun terdiam, hanya memandang gerobak yang terletak di samping Rumahnya.
"Fany? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Papa Aksa kaget saat melihat Fany tiba-tiba diam seribu bahasa.
"Oh, iya Om," lirihnya.
"Gak apa-apa Om, Fany hanya memandang gerobak itu, gerobak yang sudah memberikan kami kehidupan dan Fany harus mendorongnya setiap hari agar bisa sampai Lulus SMA," tuturnya.
"Salah satunya adalah untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang dimiliki, terlebih jika Kamu masih mempunyai Kakek dan Nenek yang begitu menyayangimu dengan sepenuh hati," ucapnya.
"Iya Om, Fany akan selalu ingat semua kebaikannya dan ingin membahagiakannya sebelum ajal menjemputnya," jawabnya tersendat.
"Mantap, Om setuju," ujarnya.
"Makanya Om, Fany ingin mencari pekerjaan untuk membahagiakan mereka," ucapnya.
Papa Aksa menautkan kedua alisnya sambil menatapnya.
__ADS_1
"Kerja?" tanyanya.
"Iya Om, Fany ingin membahagiakan Kakek dan Nenek," jawabnya.
"Menikah dengan Om, itu mungkin bisa membuat Kakek dan Nenekmu lebih bahagia, karena hidupmu akan lebih terjamin dengan apa yang Om miliki sekarang dengan ketulusan cintaku padamu," ucapnya.
"Tapi Fany ingin membantu mereka dengan hasil keringatku sendiri Om, bukan dengan uang Om," jawabnya.
"Om, senang dengan semua cita-citamu, tapi wajar jika kamu sudah menjadi Istriku, uangku adalah uangmu juga dan kamu bisa menggunakannya apalagi untuk keperluan Kakek dan Nenekmu yang sudah membesarkan mu," ujarnya.
"Tapi kan jadi merepotkan Om," lirihnya.
"Tidak, Karena Om sangat menyayangi Kakek dan Nenekmu, yang sudah banyak berkorban untukmu, Om salut dengan mereka," ucapnya sambil mengacungkan jempolnya.
"Fany juga sayang Mereka Om," jawabnya tersedu.
"Percayalah, Om akan selalu memberikan yang terbaik buat Kakek dan Nenekmu, kalau perlu Kita tinggal serumah dengannya," ucapnya tegas.
"Gak Om, Kakek dan Nenek pasti tidak mau meninggalkan Rumah ini, karena banyak menyimpan kenangan manis dengan almarhum Papa dan Mama," lirihnya.
"Iya, Om mengerti itu," ucapnya singkat.
Fany pun tak sanggup menahan rasa haru dalam hatinya, tak terasa air matanya mulai berkilauan membasahi wajahnya yang cantik.
_____________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏
__ADS_1