
Dengan langkah berdebar, Fany berjalan menuju kamar Keysa, ia membuka pintunya yang tidak dikunci, ia lega saat melihatnya tidur pulas hingga tidak menyadari kehadirannya, lalu menutup tubuhnya dengan selimut, dan mencium keningnya dengan lembut.
"Semoga mimpi indah nak, Ibu sangat menyayangimu lebih dari diriku sendiri," gumamnya senyum.
Fany bergegas dan menutup pintu kamarnya pelan - pelan, ia takut Keysa terbangun dan marah lagi, sontak Fany langsung keringat dingin saat mendengar suara langkah di kamar Keysa, ia berlari menuju Kamarnya dengan nafas memburu.
"Untung Keysa tidak melihatku, kalau tidak perang dunia terjadi lagi," bisiknya dalam hati.
Ia duduk dan menarik nafasnya dalam-dalam, sembari menatap Papa Aksa yang terbaring lemas di kasur. Fany seperti sudah paham dengan gerak - gerik Papa Aksa saat merasakan kesakitan, ia bergegas mengambil Obat dan membantunya duduk.
"Mas, minum Obat dulu biar sakitnya hilang," perintah Fany.
"Kapan kita cek lagi, Sayang?" tanyanya bersemangat.
"Dua hari lagi Mas, tunggu Obatnya habis," jawabnya.
"Bagaimana, ada perubahan, Mas?" ujarnya.
"Ada, sakit kepalaku tidak seperti kemarin lagi," lirihnya.
__ADS_1
"Syukurlah, Mas, aku senang mendengarnya," ucapnya mengelus pundak Papa Aksa.
"Itu semua karena kamu Sayang," jawabnya menggoda.
"Bukan aku Mas, tapi Allah," lirihnya.
Papa Aksa tersenyum melihat tingkah Fany yang lucu, mencubit pipinya gemas.
"Maafkan aku Sayang, aku Suami yang tidak berguna, harusnya kita masih menikmati bulan madu, tapi justru kamu sibuk mengurus Mas, yang lagi sakit," ucapnya tegas.
"Bulan madu kapan saja bisa, Mas," jawabnya.
"Kamu pasti kecewakan?" tanyanya.
"Serius? kamu tidak kecewa dengan, Mas?" tanyanya meyakinkan.
"Iya Mas, aku sama sekali tidak pernah berpikir Bulan madu," jawabnya.
"Setelah sembuh, Mas janji untuk liburan ke Bali, sekaligus Bulan madu," ucapnya tegas.
__ADS_1
"Gak usah Mas, mending uangnya kita tabung buat Keysa," jawabnya.
" Mas sudah menyediakan biaya Sekolah Keysa, jadi kamu tak perlu kwatir, Sayang," ujarnya.
"Tapi kita perlu banyak biaya, untuk pengobatan, Mas," lirihnya.
"Tenanglah, itu semua bisa diatur," ucapnya tegas.
"Kita fokus pengobatan dulu Mas, masalah Bulan madu itu belakangan," jawabnya lembut.
Melihat kesetiaan dan kesabaran Fany, ia terenyuh dan takjub atas kesetiaannya, meski keadaannya sakit. Fany membuktikan pada semua Orang bahwa cinta sejati itu ada, mendukung dan setia saat susah maupun senang, sekalipun usia mereka yang terpaut jauh itu.
Setelah melabuhkan hatinya pada Papa Aksa, ia berharap bahwa pelabuhan itu adalah pelabuhan terakhir untuknya, dan ingin Pernikahannya langgeng selama - lamanya, saling menerima dan menguatkan satu sama lain hingga usia mereka senja.
Ditengah penyakit yang diderita Papa Aksa, mereka bisa saling melengkapi, dan bisa memberikan yang terbaik, tidak memandang baik buruk fisik pasangan dan hal buruk yang menimpa pasangannya dan tidak akan berpaling darinya.
Fany terus disisi Papa Aksa, mendukung dan menyayanginya bahkan rela tak tidur selama berhari - hari, ia akan sangat bahagia bila bisa hidup bersama Papa Aksa hingga maut memisahkannya.
Papa Aksa yang di kenal sebagai pribadi yang ramah, dan Pria yang romantis kepada Wanita yang begitu dicintainya yakni sang Istri, Fany. Ia berhasil membuat sajak - sajak romantis dan menyentuh hati buat sang Istri, begitu juga dengan Fany ia merawat Papa Aksa dengan hati - hati, dan memijat tubuhnya agar terhindar dari kelelahan, Fany juga menyiapkan makanan, minuman dan pakaiannya dengan penuh cinta.
__ADS_1
*************
jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏