
Cinta beda usia ini tidak hentikan niatnya untuk menjalin hubungan yang lebih serius, perbedaan usia tidak menjadi halangan diantara mereka justru hubungan itu semakin unik dengan satu tujuan ingin hidup bahagia dan saling menghargai satu sama lain. Fany mulai merasakan indahnya cinta saat melihat ketulusan hati Papa Aksa dengan memperlakukannya bak seorang putri, kasih sayang dan perhatiannya membuat hatinya luluh tanpa memperdulikan perbedaan usia yang terpaut jauh itu.
"Om rasanya bahagia, saat Kamu hadir dalam hidupku," ucapnya sambil membisikkan ke telinganya.
Fany merinding saat desahan nafasnya menggelitik di telinganya, jantungnya berpacu kencang menahan rasa geli.
"Yang benar? entar bohong," jawabnya senyum.
"Iya Sayang," ujarnya sambil mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hampir bersentuhan.
Fany tersenyum sambil melepaskan pelukannya, saat Keysa menghampirinya.
"Apa kabar Keysa?" tanyanya lembut.
"Baik," jawabnya singkat.
"Yok, Kita masuk," ucapnya sambil menggandeng tangan Keysa.
Papa Aksa melirik Keysa sambil mengedipkan matanya memberi syarat agar Keysa menuruti keinginannya.
"Yok," ujarnya gugup sambil menatap Papanya.
Sementara Kakek dan Nenek Fany, sibuk didapur memasak apa adanya untuk menjamu Papa Aksa dan Keysa. Tanpa segan Papa Aksa menghampiri Kakek dan Neneknya ke dapur sambil membawa beberapa kotak Roti.
"Pak, Bu, ini ada sedikit oleh-oleh," ucapnya senyum.
"Wah, pasti Rotinya mahal," jawabnya senang sambil membuka kotak Roti.
"Gak Bu," ujarnya.
__ADS_1
"Terimakasih ya Nak," ucapnya.
Papa Aksa senang bisa berkenalan dengan Kakek dan Nenek Fany yang sangat ramah itu, tutur katanya yang halus dihiasi senyum manis menghiasi wajah yang sudah keriput itu.
"Sama-sama Bu," lirihnya.
"Istirahatlah Nak, Kamu pasti lelah," ucapnya.
"Gak Bu," jawabnya.
"Duduklah diruang tamu, Ibu akan menyiapkan makan malam," ucapnya.
"Gak perlu repot-repot Bu, bagaimana kalau Kita makan diluar," jawabnya.
"Gak usah Nak, boros," lirihnya.
"Oh, iya pengen," jawabnya gugup.
"Om pasti ketagihan, masakan Nenek rasanya enak," ujarnya.
"Om yakin, karena Kamu juga pintar masak pasti kecipratan dong sama Cucunya," ucapnya menggoda.
"Ah, Om bisa saja," jawabnya tersipu.
Canda tawa dan senyum menghiasi dapur yang sudah reot itu, sesekali Papa Aksa mencubit hidung Fany dengan gemasnya saat Kakek Fany mulai mendongeng. Selera humornya yang tinggi membuat Papa Aksa terkekeh dan mereka sama-sama memiliki selera humor yang tinggi sehingga membuat mereka cepat akrab. Sementara Keysa duduk termenung, sambil memainkan anak rambutnya dengan rasa jenuh, itu terlihat dari sikapnya yang dingin dan cuek.
"Keysa, sini," ucap Fany lembut.
Keysa tidak menjawab hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh kearahnya.
__ADS_1
Fany menghampirinya dengan segelas teh hangat dan beberapa potongan Roti ditangannya.
"Keysa, minumlah," ucapnya sambil meletakkan teh dan Roti dimeja.
"Terimakasih," jawabnya singkat.
"Kalau gak mandi dulu Keysa," lirihnya.
"Gak usah, ntar dirumah saja," ucapnya ketus.
"Oh, silahkan minum teh nya," jawabnya senyum.
"Iya," lirihnya.
Fany sangat menyayangi Keysa itu terlihat dari sifatnya yang ramah dan tidak pernah membencinya walau Keysa sering menyakiti hatinya, segala cara ia lakukan untuk membuat Keysa agar tidak membencinya, dan mau menerima keberadaannya.
"Fany, ke dapur dulu ya," ucapnya.
Lagi-lagi Keysa tidak menjawab hanya menatapnya dengan sorot matanya yang sinis, tapi Fany tetap tersenyum sambil menepuk lengannya dengan lembut.
'Kalau ada perlu apa-apa bilang ya," lirihnya sambil beranjak dari duduknya.
"Iya," ucapnya ketus sambil memalingkan wajahnya.
Fany pun berlalu dan kembali membantu Neneknya untuk menyiapkan makan malam, sementara Kakek dan Papa Aksa duduk dilantai yang hanya beralaskan karpet sambil bercerita panjang lebar diiringi canda tawa.
_______________________________________________
jangan lupa like dan komentar Nya ya teman-teman 🙏
__ADS_1