Cantik Tapi Berbahaya

Cantik Tapi Berbahaya
Bab 98


__ADS_3

Segudang perasaan yang tersimpan dalam hatinya tak terhitung lagi olehnya setinggi apa tumpukan perasaan itu, tak terhitung juga, entah sudah berapa kali Keysa mencoba menghalangi niat Papanya untuk menjalin hubungannya dengan Fany, tapi ia tetap tidak menemukan solusi yang membuatnya puas.


Dalam tangisnya ia sekali-sekali berteriak menyesali dirinya yang sungguh malang itu, hingga ia terus menangis dalam Kamarnya sambil menatap layar Ponselnya.


"Keysa, harus membuat hubungan Papa dan Fany hancur berkeping-keping," bisiknya dalam hati dengan tatapan liarnya.


Keysa pun mengutak-atik Ponselnya mencari nomor Fany dan mencoba untuk menghubunginya, tetapi tidak diangkatnya.


"Ayok angkat, Perempuan sialan," keluhnya.


Keysa pun terus menghubunginya dengan rasa kesal sambil mengutuk dalam hati, setelah beberapa saat Keysa pun mengirim pesan singkat untuk Fany.


"Jangan pernah coba-coba menikah dengan Suamiku, kalau Kamu berani hidupmu akan berakhir di tanganku."


Dengan sorotan matanya yang sinis ia pun mengirimkan pesan itu dan berharap Fany mengurungkan niatnya untuk menikahi Papanya, Keysa pun tertawa puas setelah mengirimkan pesan singkat itu sambil melompat- lompat kegirangan.


"Ini akibatnya Kamu berani mengganggu kebahagiaanku Fany," gumamnya.


Seketika hatinya lega, ia bisa menuangkan rasa kesalnya melalui pesan singkat itu, hingga matanya mulai mengantuk dan ia pun terlelap dalam tidurnya.


Pagi itu Mentari bersinar dari Ufuk Timur, pertanda waktu masih terus berjalan, detak jam masih terdengar nyaring di sudut Kamar, Papa Aksa nampak duduk tenang di Taman belakang sambil menikmati indahnya Mentari Pagi.


"Selamat Pagi Pak!" sapa Bu Zana tersenyum.

__ADS_1


"Pagi juga Bu," jawabnya tenang.


"Bapak minum Kopi?" tanyanya.


"Iya Bu, tolong buatkan ya," ujarnya.


"Beres Pak," ucapnya sambil bergegas ke Dapur.


Wajahnya nampak tenang, dengan sejuta kebahagiaan yang tersusun rapi dalam hatinya yang paling dalam saat menjalani Biduk rumah tangganya dengan Fany.


"Ini Kopinya Pak, silahkan di minum," ucapnya.


"Terimakasih ya Bu," jawabnya.


"Sama-sama Pak," ujarnya sambil menatap Bu Zana dengan senyum.


"Lusa Kita ketempat Fany ya Bu," ucapnya.


"Ada perlu apa Pak? Kita ke sana?" tanyanya.


"Saya mau membicarakan masalah Pernikahan Saya dengan Fany," ucapnya singkat.


"Iya Pak, lebih cepat lebih baik,' jawabnya.

__ADS_1


"Sekali lagi, terimakasih ya Bu atas Doa dan restu Ibu," ujarnya.


"Iya Pak," ucapnya.


"Saya tidak ingin menunda-nunda waktu lagi Bu, karena Keysa juga sudah merestui hubunganku dengan Fany," jawabnya senyum.


"Betul itu, Ibu juga setuju dengan pendapat Bapak," ujarnya.


"Semoga kehadiran Fany, Keysa bisa lebih baik ya Bu," ucapnya.


"Ibu yakin karena Fany adalah seorang Wanita yang sabar dan bijaksana Pak," jawab Bu Zana dengan yakin.


"Hehe, mudah-mudahan Bu, Saya juga berharap seperti itu," lirihnya.


Sang Mentari merebahkan sinarnya diiringi kicauan Burung seolah ingin memberitahu Dunia jika hari ini sudah Pagi, ia menghirup udara segar yang menyejukkan hatinya yang sedang berbunga-bunga.


Sementara Bu Zana senyum-senyum sendiri melihat tingkah Papa Aksa, seolah ia bisa membaca pikirannya yang sedang di mabuk Cinta.


"Cinta memang luar biasa," bisiknya dalam hati sambil melanjutkan pekerjaannya di Dapur.


Lagu My Heart Will Go on, terdengar mengalun syahdu dari Rumah tetangga merangsang ingatannya pada sepenggal kenangan indah bersama Bu Retno, mendiang Istrinya. Tiba-tiba Bayangan Fany hadir membuatnya kembali tersenyum dan mengangumi dua Wanita yang mempunyai sifat yang tidak jauh beda itu.


"Kalian memang Wanita hebat, yang mampu membuatku bertekuk lutut," bisiknya dalam hati.

__ADS_1


____________________________________________


jangan lupa like dan komentarnya ya teman-teman 🙏🙏


__ADS_2